|
| Thursday, May 24, 2007 |
| Untung Pake E(h)SIA(pa, nih?) |
Suatu sore yang membosankan. Di kantor. Saya melirik ponsel. Masih jam empat sore. Baru sejam lagi saya bisa pulang. Dan baru dua jam lagi saya bisa memeluk guling (yang sudah gepeng karena beban hidupnya terlalu berat) di singgasana saya.
Iseng-iseng, saya ambil ponsel. SMS pacar. Tadinya mau telepon, tapi pasti ia juga sedang sibuk bekerja. Saya tidak mau (terlalu) mengganggunya. ^_^ Setelah mengirim SMS, berkeluh-kesah dari mulai bosan sampai lapar, saya kembali melanjutkan pekerjaan.
Tak lama, ponsel saya bergetar. SMS. Ah, pasti balasan sang pacar. Dengan keantusiasan tingkat tinggi, saya menyambar ponsel. Membaca baris pertamanya saja, saya sudah kecewa. Huh, kenapa sih, provider ponsel CDMA ini tak bosan-bosannya ngirim SMS iklan? Nggak kreatif lagi! Semua pasti berawalan, “Untung pake ESIA!” Padahal saya belum ngecek, si Untung tetangga saya beneran pake Esia ato nggak.
Sembari mengomel dalam hati, jemari saya refleks memencet tombol option untuk kemudian lanjut dengan menu delete. Eits, tapi… tunggu dulu! Apa itu di baris selanjutnya? Bung Jempol lalu menekan back. Inilah yang terbaca:
Untung pake ESIA!
Bisa makan pake ikan cuwe*
& minum
teh manis gratis
hanya dengan
menunjukkan SMS ini
di
Jalan Raya xxxx No. xx**
Ikan Cuwe? Ikan terenak sejagat itu? Jalan Raya xxxx No. xx? Itu kan alamat rumah saya!? Siapa sih, yang ngirim SMS ini? Bukan provider Esia, pastinya. Om Ical Bakri dan kroninya mana tau kalo hobi saya makan ikan Cuwe?!
Saya scroll lagi ke bawah. Baru ketahuan, ternyata ayah saya yang mengirim SMS iseng ini. Mau tak mau, saya cekikikan. Beberapa orang mengangkat wajah dari monitor komputer, dan bertanya ada apa. Saya cuma menggeleng. Dan bersumpah, bukan mereka yang saya tertawakan.
Saya tahu benar, ayah saya pasti juga keki terus-menerus menerima SMS dari Esia. Akibatnya, ia menyalurkan sedikit kreativitasnya: dieditnya SMS iklan itu dan dikirimkannya hasil ubahannya ke saya—putri tercintanya. Ah, saya terharu. Ada yang punya tisu? ^.^
Hampir dua menit saya cekikikan sendiri. Pipi saya sampai pegal. Tapi, kalau Anda pikir saya mau mengalah dan mengaku kalah, Anda salah. Saya kirim balasan yang tak kalah sadis:
Untung pakai ESIA!
Bisa punya anak cantik dan berbudi luhur
yang bisa ditemui hanya dengan
menunjukkan SMS ini
dua jam lagi di Jalan Raya xxxx No. xx
Ayah saya, yang sepertinya jadi esmosi jiwa karena balasan tak bermutu anaknya ini, langsung ikutan nggak mutu:
ih, ge-er banget sih?
gimana anaknya bisa cantik
kalau the parents are not handsome
and beautiful.
ih, garing deh!!!!!
Hahh?? Handsome and beautiful? Ternyata kenarsisan saya memang sudah mendarah-daging. It’s in the genes! Keturunan abadi! Kutukan semesta! Oh, saya bingung. Harus bersyukur, atau bertobat dengan kenyataan ini?!
Dibantai dengan banyak tanda seru, saya juga tak mau kalah set:
kalo anaknya aja garing,
gimana orangtuanya?
hehehehe….
Ayah saya tak membalas lagi. Mungkin kehabisan kata-kata. Mungkin juga ia sudah ketiduran di depan kanvasnya. Yang jelas posisi kami kali ini 2:2. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. (Walau tinggi ayah saya 173 dan saya tak sampai 163). Hehehe….
(Dan saya jadi benar-benar ngebet, pengen pulang. Mau nagih gratisan ikan Cuwe dan es teh manis!).
Apa? Nggak penting?? Well, welcome to my life! Hehehe….
****
* Semacam ikan pindang, biasa ditemui di tukang sayur. Entah siapa nama asli ikan ini. Di rumah saya, ia ngetop dengan julukan ikan Cuwe. Ikan ini kegemaran saya sejak kecil.
** Sengaja disamarkan, supaya tak makin banyak yang datang untuk minta gratisan es teh manis dan ikan Cuwe. |
cerita gadisbintang @ 5:26:00 AM   |
|
|
|
| Monday, May 21, 2007 |
| In My Father's Eyes, I Find Life.. |
Baiklah… saya harus mengakui.
Menulis tentang ayah saya bukan hal mudah.
Terlalu sulit, malah.
Sudah dua puluh empat menit saya termangu di sini.
Tanpa berhasil mengabadikan sepatah kata pun.
Entah mengapa.
Sulit menerjemahkan sosoknya ke dalam bahasa verbal.
Mungkin karena ia adalah seseorang yang sangat kompleks.
Mungkin karena banyak sekali yang bisa saya tulis.
Dan lebih banyak lagi yang ingin saya tulis.
Atau, mungkin, saya hanya takut menitikkan airmata di sela-selanya.
Mungkin.
Entah.
Toh, saya harus mencoba.
*****
Jujur saja, saya tak tahu banyak tentang masa kecilnya. Ia memang sering bercerita tentang dirinya. Namun acak. Persis puzzle yang harus saya susun sendiri. Hari ini ia bercerita tentang masa muda yang dihabiskannya di Bandung. Lalu esok, ia seenaknya mendeskripsikan Garut yang dikenalnya pada usia balita. Esoknya lagi, ia akan berkisah tentang ayahnya. Kakek saya. Yang tak sempat saya kenal.
(Ah, baru paragraf pertama saja, mata saya sudah berkaca-kaca. Hal yang sama terjadi tiap kali saya mendengar Dance with My Father-nya Luther Vandross. Baru saya sadari, saya menangis bukan karena saya ingin berdansa sekali lagi dengan ayah saya—saya masih bisa memeluknya kapan pun saya ingin—tapi karena, jauh di dasar hati, saya tahu, ayah saya sangat merindukan ayahnya. Cukup. Saya ambil tisu dulu.).
Tak saya sangka, benar-benar akan jadi sesulit ini. Bagaimana pun, kali ini, di sini, saya akan mencoba menata kepingan puzzle itu satu persatu. Perlahan.
Ayah saya, Sukmana SG, lahir di Garut, 21 Mei 1954. Hari ini. Lima puluh tiga tahun lalu. Ia anak pertama. Sama seperti saya. Ayahnya, kakek saya, seorang mekanik yang gemar menggambar dan main biola.
(Kelak, bakat menggambarnya itu turun ke Bapak—begitu saya memanggil ayah saya—yang akhirnya melukis.)
Pernah Bapak bercerita, ia memiliki seorang adik laki-laki yang meninggal sewaktu balita. Sama seperti saya. Bedanya, adik saya perempuan. Bapak bilang, ia masih ingat, setiap hari Jumat, ia dan ayahnya pasti berkunjung ke makam sang adik. Pulangnya, ayahnya akan memanggulnya. Sembari berlari menyeberangi padang ilalang. Ingatan yang harusnya telah memudar, mengingat usianya yang kala itu baru dua tahun lewat sedikit.
Ketika Bapak beranjak tiga tahun, kakek saya mengundurkan diri dari pekerjaannya dan berniat memboyong keluarga kecilnya ke Bandung. Malangnya, di kereta dalam perjalanan ke Bandung, semua tas berisi pakaian dan uang—yang maksudnya untuk modal usaha—mendadak raib di tangan pencuri. Jadilah mereka sampai di Bandung. Tanpa uang sepeser pun. Dan dokumen selembar pun.
Tanpa uang dan dokumen, apalagi pekerjaan, apalah yang bisa dilakukan keluarga itu selain menumpang di rumah nenek Bapak—ibu dari ayahnya—yang telah lebih dulu berdomisili di Bandung.
Tak lama, nenek saya minta dicerai. Kakek memanggil Bapak waktu itu. (Padahal Bapak baru kelas satu SD. Saya tak yakin ia sudah mengerti konsep perceraian.). Sembari menunjukkan surat pernyataan mengabulkan permintaan cerai, Kakek menjelaskan bahwa ia dan Nenek akan berpisah. Sekaligus bertanya, Bapak mau ikut siapa. Dengan yakin, Bapak menjawab bahwa ia ingin tetap tinggal bersama ayahnya.
(Ah, kalau saya jadi Bapak, saya pasti cuma bisa sesunggukan. Tanpa menjawab apa pun.)
Ketika saya tanya alasan nenek saya minta cerai, Bapak hanya menjawab pendek: ekonomi. Cinta nenek saya ternyata bukan cinta sejati, pikir saya. Waktu itu, cinta belum bisa mengenyangkan perut, kata Bapak tiba-tiba, seolah bisa membaca pikiran saya. Toh, life must go on, begitu kesimpulannya di sela hela napas. Nenek saya akhirnya pindah ke Tasik dan menikah lagi.
(Kala ayah saya selesai menceritakan episode ini, saya langsung ngeloyor ke kamar mandi. Cuci muka. Biar jejak airmata menghilang.)
Tidak cukup sampai di situ, ketika Bapak berumur delapan tahun, ayahnya meninggal: sakit. Sekali lagi, life must go on. Bapak lalu diasuh neneknya—ibu ayahnya. Sampai neneknya meninggal. Ketika itu, alih-alih tinggal bersama ibunya, Bapak malah mulai ‘berpetualang’. Berjudi dengan hidup. Berpindah-pindah. Tinggal di mana saja. Kerja apa saja. Asal bisa makan dan sekolah.
(Dan di situlah, saya pikir, ayahnya mulai jadi kerinduan terbesarnya. Ia rindu sarang yang menghangatkannya dengan alunan biola di malam hari. Dan coretan arang di sehelai kertas).
Bagaimana ia bisa sampai pada titik yang sekarang dipijaknya, itu hanya masalah waktu. Proses. Kerja keras. Negosiasi panjang dengan Hidup. Dan kebaikan Tuhan.
(Sering, ketika ayah saya menceritakan kisah hidupnya, mata saya berkaca-kaca. Airmata pun meluncur sembunyi-sembunyi. Ceritanya sedih banget. Mirip film Indonesia tahun ‘80-an. Bahagia cuma di akhir cerita. Yang durasinya nggak lebih dari tujuh puluh detik. Anehnya, ayah saya mengisahkannya dengan datar. Tanpa emosi. Dan tenang. Setenang saya menceritakan nilai Fonologi yang dapet C.)
Kompleks.
Ya, memang kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan ayah saya.
Dilatih oleh perjalanan yang sangat berliku, ia jadi sangat tak tertebak.
Dingin sekaligus hangat. Bising dalam heningnya. Lucu di sela tragedinya. Rapuh di balik ketegarannya. Seperti pintu: terbuka dan tertutup dihembus angin. Hanya menyatukan ruang. Sekaligus menyisakan semesta tak terjamah.
Idealis.
Misterius.
Gejolak hati sudah biasa disembunyikannya di balik ekspresi datar.
Kepedihan pun telah lama dititipkannya pada goresan kuas dan cat minyak.
Dan saya adalah kanvas, tempatnya menggambar hidup.
Setengah pasrah saya mencoba memahaminya.
Merunut simpul yang membelitnya.
Dan menemukan: ia dan saya begitu serupa.
Entah bagaimana.
Hubungan saya dan ayah saya amat-sangat-benar-benar dekat.
*hiperbolis-mode: on* ^_^
Mungkin karena kami saling memahami.
Rasanya, saya hampir selalu memahami dan memakluminya. Ketika ia ganjil di mata saya, selalu ada alasan yang menggenapinya. Saya mengerti karena saya telah menontonnya seumur hidup saya. Lengkap dengan tombol fast-forward, pause, dan rewind—yang selalu saya gunakan, tiap kali belum bisa benar-benar memaknainya.


Ah, akhirnya tercipta juga bait itu:
Kau dan aku begitu serupa:
Kau adalah kompleksitas.
Dan aku adalah kanvas, tempatmu menggambar hidup.
Selamat Ulangtahun, Bapak.... |
cerita gadisbintang @ 3:42:00 AM   |
|
|
|
| Tuesday, May 15, 2007 |
| Apa Ada Pariasi Photo Yang Disewa Di Sini? (sic!) |
Traalaaaa… I’m back with a new one!!! Hehehe…. (yayaya…, despite all the critics I throw, saya sedang ikut-ikutan tren sok Inggris akhir-akhir ini! Look who’s talking, huh?! Hehehe….). Sejak orang-orang terdekat saya tahu bahwa saya suka mengumpulkan kesalahan-kesalahan bahasa tulis yang di-launching di tempat-tempat umum, mereka jadi ketularan sibuk nyari ‘tangkapan’. ^_^ Rika, misalnya. Waktu kami ‘menggantung di luar’—baca: hang out—beberapa minggu lalu di sebuah mal kecil, di seberang MargoCity (ya, DeTos… apa lagi?! ^_^), ia menunjuk selembar kertas yang ditempel di etalase sebuah outlet yang masih kosong. DISEWA Begitu tulisan di etalase tersebut. Rika memandangnya sekilas. Lalu sembari menujuk kertas itu, ia bertanya, “Ngebingungin, nggak?” Saya, yang nggak ‘ngeh, cuma menggeleng. “Ih, gimana sih, lo? Liat... tulisannya: DISEWA. Kan ngebingungin. Apa coba, maksudnya? Outlet ini udah disewa orang, apa mau disewain? Cuma ada ‘disewa’, nggak ada keterangan apa-apa lagi,” terangnya panjang lebar. Whoouuww…, you’ve got a point there, girl! Tak disangka, tak dinyana, sahabat saya ini sudah sampai pada tataran Semantik. Kritiknya ‘dahsyat’. Dan jeli. Ah, Mbak Andrea—dosen Semantik kami dulu—pasti bangga padanya. ^_^ Itu Rika. Sayangnya, tangkapannya waktu itu tak sempat saya abadikan. Kamera saya sudah keburu mati. Kehabisan baterai. **** Yang akan saya pajang di bawah ini, sebenarnya tangkapan pacar saya. Ceritanya, suatu sore yang gerimis, kami menuju rumah saya. Pulang, entah dari mana—saya lupa. Di tengah perjalanan, kira-kira satu kilo (meter, bukan gram. ^_^) dari rumah saya, ia tiba-tiba menunjuk spanduk ini: “Liat, deh…. Pariasi. Hehehe…. Lucu ya?” begitu kata-kata yang mengiringi telunjuknya beraksi. Saya menoleh. Mengikuti arah telunjuknya. Mata saya membesar. Bibir saya melebar. Bisa ditebak, saya langsung minta berhenti. Ingin mengabadikan si spanduk. Sang pacar menolak. “Ujan,” alasannya. Saya tak peduli. Tetap kekeuh mau motret. Bisa ditebak juga, pacar saya akhirnya mengalah. Mengantar saya ke depan spanduk yang didakwa bersalah itu. Hujan-hujan. Dingin-dingin. Ah, cinta kadang memang membuat orang bodoh. Bukan pacar saya yang bodoh. Tapi saya. Karena ketika kami tiba di depan spanduk, saya baru sadar: kamera saya tertinggal di rumah. Jadilah saya harus pasrah menerima jitakan beruntun. Di depan spanduk. Hujan-hujan. Dingin-dingin. Ah, bodohnya.... ^_^ *blushing-mode: on* **** Keesokan harinya, saya balik lagi ke TKP. Lengkap dengan kamera berbaterai penuh. Ketika saya sedang asyik mengabadikan pose si spanduk, seorang laki-laki separuh baya tiba-tiba muncul. “Buat apa, Mbak?” tanyanya. “Apanya, Pak?” saya menatapnya heran. Bingung. Kok tiba-tiba ada makhluk asing di samping saya. Ditilik dari penampilannya, kayaknya si Bapak pegawai negeri. Mungkin guru, mengingat warna seragamnya serupa dengan milik ibu saya. Mungkin lagi, ia guru Bahasa Indonesia. Makanya tertarik buat ikutan nongkrong di depan spanduk. “Fotonya.” “Oh, nggak. Iseng aja,” saya nggak tau harus jawab apa. “Pariasi, ya? Yang nulis pasti orang Sunda, tuh!” lanjutnya lagi, sembari menatap objek foto saya. Mata saya spontan menajam. Alis saya bertautan. Bibir saya merengut. Tersinggung. Darah saya setengah Sunda. “Bapak mau ke warnet?” tanya saya. Spanduk itu memang digantung di depan Bravonet, warnet yang gosipnya milik SBY (Sumpah, ini gosip nggak bermutu banget! Ngapain SBY buka warnet di desa terpencil begini?!). “Iya,” jawabnya. “Oh, saya duluan, Pak,” saya langsung ngeloyor pergi. Pulang. Ia juga kemudian masuk ke warnet. Huh, ada apa dengan orang Sunda dan huruf P, sih?! (Katanya, orang Sunda memang sulit membedakan huruf labial-dental* (macam F dan V) dengan bilabial* (kayak P)—entah kenapa, saya lupa alasannya.) * Tolong dibenarkan kalau salah, saya tak begitu hafal istilah-istilah ini. Maklum, Fonologi saya cuma dapet C! ^_^ \\m// **** Di rumah, saya pandangi terus foto itu (soalnya, sebenarnya, di sebelah kiri foto itu ada cowok cute yang gambarnya lalu saya cut. Hehehe.... Nggak! Cuma becanda. Kok langsung ngarep gitu sih, mukanya?! Hehehe....). Pikiran saya melayang-layang. Kenapa, ya, kadang kita—baik Sunda maupun non-Sunda—masih sulit membedakan penggunaan huruf P, F, dan V?
----------------------------------------------------------------------- Catatan Selip: Nama saya aja, sering banget salah tulis. Kalo nggak Peba, jadinya Veba. Padahal, aslinya Feba. Pernah, saya mencetak foto. Ketika akan menulis bon, si Mbak Fuji nanya, “Namanya siapa?” “Feba, Mbak,” saya langsung menambahkan frase, “Pake ‘F’ [ef] ya, Mbak.” “Iya,” jawabnya sembari menorehkan nama saya di atas bon: Veba. *gubraakkkk* -----------------------------------------------------------------------
Setelah dipikir-pikir, memang cukup sulit mengobatinya. Hanya latihan solusinya. Latihan membuka kamus—melihat entri: mencontoh penulisan yang benar—dan menghafalnya. Untuk kata-kata umum (kayak variasi), sepertinya cuma itu yang bisa dilakukan. (Ada ide yang lebih brilian?) Sedangkan untuk kata-kata berimbuhan, mungkin begini rumusnya: Aktif = Aktivitas Efektif = Efektivitas Untuk kata sifat berakhiran F yang ditambah sufiks itas (biar jadi kata benda), F-nya lenyap dan digantikan V. Biasanya sih, gitu. Si F hampir nggak pernah dibiarin ada di tengah kata, si V juga nggak pernah dipajang di akhir kata. Lalu, awalan Ph yang ada pada kata photo juga mengganggu saya. Kata itu masih bergaya bule. Padahal bisa diganti foto, jadi gayanya berubah jadi pakle—(baca: paklik, bahasa Jawa, arti: paman/om. Sedangkan bule = bulik, arti: bibi/tante, red)—hehehe…. *lawakan garing yang masih laku sampai sekarang* Seperti huruf Y yang sering berubah jadi I di akhir kata, kayaknya kata-kata asing berawalan Ph biasanya berubah jadi F, deh. Kayak ini: Phosphor = Fosfor Pharmacy = Farmasi Phase = Fase de-el-el…. Nah… nah…, sebetulnya, saya masih ingin mencari contoh-contoh lain, namun tak satu pun melintas di depan muka saya. Jadi, saya akhiri saja dulu. Jika Anda bisa menemukan contoh lain, tolong bagi di sini. Biar semua tambah yakin kalau kita nggak boleh sembarangan nuker-nuker F dengan V atau P. Sekian dari saya, wassalamualaikum wr. wb. *halaahh* Hehehe…. |
cerita gadisbintang @ 5:42:00 AM   |
|
|
|
| Thursday, May 10, 2007 |
| Pendamba Penggemar-Gelap Yang Telat |
| Setelah mengurus sesuatu-yang-masih-tentatif (halaahh), beberapa hari terakhir ini saya mulai berkantor lagi. Di mana? Pokoknya, di sebuah tempat yang menyenangkan, deh. ^_^ Nah, ceritanya, kemarin, seusai selesai makan siang, saya kembali ke meja. Agak heran saya mendapati sebuah jam tiba-tiba nongkrong di meja saya. Milik siapakah gerangan, pikir saya. Tanpa bisa menyembunyikan penasaran, saya bertanya pada semua orang di ruangan itu (cuma enam orang, kok). Siapa tahu, ada yang lupa naro jam itu. Tapi, semuanya menggeleng. Mengaku tidak tahu.
si jam misterius
Saya tambah penasaran. Mulai mereka-reka ala Hercule Poirot dan Conan Edogawa. Sebelum jam makan siang, jam itu belum ada. Jadi, si pelaku hanya punya waktu sejam, selama saya istirahat, untuk menaruh benda itu. Dalam rentang waktu itu, ada beberapa orang yang tetap di ruangan. Harusnya, minimal mereka tahu, siapa yang menghampiri meja saya. Sayangnya, mereka semua serempak bilang tak tahu. Saya kehilangan petunjuk. Kasus saya macet, tanpa saksi. Jangan-jangan, salah satu dari mereka pelakunya. Hmmm.... Saya masih terus mengamati jam itu. Jam meja itu cukup ‘lucu’. Dengan bingkai foto di kiri-kanannya. Cocok buat saya yang banci kamera. Kira-kira siapa yang menaruhnya di meja saya, dan yang paling penting: apa motivasinya? Hati saya, yang dasarnya memang suka ge-eran, menerka-nerka: jangan-jangan ada yang naksir saya di kantor ini, lalu meletakkan jam meja itu sebagai kejutan. Hehehe…. *ngarepdotkom* Maklum, dari dulu, saya pengen punya secret-admirer. Impian yang tak jelas esensi dan realisasinya. ^_^ \\// Tapi, dipikir-pikir, siapa yang cukup bodoh untuk ngefans ama saya? Saya menelusuri semua lelaki di kantor, satu persatu. Lalu terkikik sendiri dengan gagasan konyol itu. Bosan kege-eran, saya mulai introspeksi. Triingggg. Inspirasi datang tanpa permisi. Rasanya jam ini sebuah peringatan. Iya, deh… peringatan. Mengingat tiga hari terakhir saya telat lebih dari lima belas menit. Ehm, lebih dari setengah jam, tepatnya. (Angkot di daerah saya demo lagi. Saya terpaksa putar jalur. Perjalanan jadi dua kali lipat lebih lama). Saya makin yakin kalau ini peringatan. Tapi, pertanyaan pertama belum terjawab, siapa yang naruh? (Aih, serem banget kalau tegurannya halus banget begini. Kadang saya tak cukup pintar untuk menangkapnya. Hehehe…. Mending diomelin, deh. Ketauan. Puas. Dan kapok. Hehehe….) Sampai sekarang, saya masih belum tahu siapa dan apa tujuan si penaruh jam itu. Karena sudah basi, saya tak lagi penasaran. Sekarang, jam itu damai di laci saya. Mengapa saya taruh di situ? Begini alasannya: siapa tahu itu beneran peringatan, dan kalau si pemberi peringatan butuh jam itu lagi untuk mengingatkan rekan-rekan kantor lain, ia harus minta ke saya karena jam itu tak lagi nampak di atas meja. Jadi, who knows, saya bisa tahu siapa yang naruh. *masihngarep* hehehe…. Tapi, kalau sudah saya ceritakan begini, dia tahu dong di mana jam itu. Mana laci saya tak berkunci lagi. Huhuhu…. ^_^
|
cerita gadisbintang @ 6:16:00 AM   |
|
|
|
| Saturday, May 5, 2007 |
| Ultah si Bokep! |
Hohoho… hari ini ada yang ultah lagi. ^_^ Kali ini salah satu teman seperjuangan jaman kuliah, the one and only kribo: Ellisa.
Lidah saya suka gatal ketika memanggilnya Ellisa. Karena, sejak jaman kuliah dulu, kami biasa menyapanya dengan nama kesayangan: Bokep. Kenapa Bokep? Karena dia memang bokep. Hehehe…. Nggak bokep, sih. Cuma, dulu, waktu kami baru masuk kuliah dan masih menyimpan kepolosan belasan tahun, ia-lah yang paling ahli urusan begituan.
*halaahh, begituan lagi!* ^_^
Maksudnya, ilmunya tentang seksualitas (bukan hanya soal hubungan seks dan gaya-gayanya) jauh di atas kami. Otomatis, bisa dibilang Ellisa-lah suhu ‘pendidikan seks’ saya. Hehehe….
Lucunya, di rumah, ia dikenal sebagai anak baik-baik. Sama sekali nggak bokep. Jadi kami suka kerepotan kalau lagi main atau nginep di rumahnya. Pasalnya, di kampus kami bisa seenaknya teriak-teriak manggil dia Bokep. (Contoh: “Bokeeeeppp… buruan, yuk! Lelet banget!!!” atau, “Kep, lo udah ngerjain paper?”). Sedangkan di rumahnya, ia melarang kami melestarikan budaya kampus. Nggak lucu kalau didengar orangtua atau kakak-adiknya. (“Ntar gue disangka bokep beneran. Padahal kan yang gue ajarin pendidikan seks. Itu penting!” kilahnya).
Ketimbang kehilangan guru, kami pun berusaha menurutinya.
Sayang, mulut-mulut bodoh ini suka keceplosan. Berbagai manuver pun diciptakan untuk meningkahi kesalahan itu:
MANUVER VOLUME
Oknum Bermulut Bodoh (OBB): Kep, ntar malem jadi nonton DVD, kan?
Ellisa melotot.
OBB: Ups... Ellisa Sayang, jadi nonton DVD, kan? (Dengan volume suara dua kali lipat. Seolah penambahan volume akan menghapus kalimat sebelumnya).
MANUVER LANJUT KATA
OBB: Eh, Bok... (bermaksud mengatakan “Bokep”)
Ellisa keburu melotot lagi.
OBB: (Langsung berimprovisasi meneruskan morfem terikat—“Bok”—yang sudah terlanjur terlontar) …Kap lo udah pulang?
(Padahal OBB baru aja cium tangan si Om).
MANUVER TEBAKAN
OBB: Eh, Bok... (masih bermaksud mengatakan “Bokep”)
Pelototan Ellisa kembali datang.
OBB: Bok... bok apa yang bisa dipake??
Berakhir dengan jawaban: Celana BOKser.
(Emang maksa, sih. Yang penting usaha)
*_*
MANUVER PLESETAN
OBB: Bokep…, blablablabla.
Ellisa terus melotot
OBB: Ih, kurang gaul deh, lo. Bokep itu kan olahraga. Maksud gue tadi, permainan Bola Bokep. (Jangan ngeres dulu, maksudnya Bola Basket, red).
(Yang ini, biasanya disambut paling meriah. Sambung-menyambung mirip lagu wajib jaman SD, berlanjutlah kami memelesetkan kata bokep.)
MANUVER TAK TAHU DIRI
OBB: Bokep…. Lo tau nggak, blablablabla.
Ellisa terus—dan teruuuuusss—melotot.
OBB: Apa sih, Kep? Udah, deh... bokep mah bokep aja. Nggak udah ditutupin. Masak lo tega ngebohongin keluarga lo sendiri? Mendingan juga mereka tau, siapa lo sebenernya.
(Bisa ditebak, ini manuver terburuk. Minimal bantal melayang).
Di balik julukan Bokep-nya, Ellisa adalah seorang yang paling sederhana dibanding sahabat-sahabat seangkatan di Sastra Belanda (Kami menyebutnya Sekolah Wanita Sastra Belanda). Sederhana dalam berpikir dan dalam menjalani hidup. Nggak neko-neko. Bukan pemimpi. Realistis. Namun tidak sinis memandang hidup (ehm, Tasha... sounds familiar? Huehehe….). Ia benar-benar anak rumahan. Family Girl. Dengan kecenderungan yang sangat domestik.
Ia suka ngomel-ngomel kalau kami sudah sok-sok mengangkat gender jadi bahasan. Buatnya, feminis identik dengan man-hater dan bitterness.
Gambaran masa depannya pun simpel: Pengen kerja kantoran. Trus berhenti kerja setelah menikah, dan jadi ibu rumah tangga yang berkuasa ngatur ini-itu di rumah.
Pertama kali mendengar statement ini, saya dan Rika melongo. “Nggak pengen S2, Kep? Nggak pengen kantor Ally McBeal?”
(Saya dan Rika memimpikan kantor seperti milik Ally: di pusat kota, penuh kerlip lampu kala malam—jadi betah lembur: ngelamun memandang kota di balik dinding kaca—namun tanpa macet dan tri-in-wan, plus bisa jalan kaki dengan romantis ketika pulang kerja.).
Ellisa menggeleng. Kami cuma bisa ber-oohh panjang.
Menurut saya, Ellisa tahu benar yang diinginkannya (ketimbang kami yang suka keder dan bertanya-tanya: apa yang sebenarnya kami inginkan dalam hidup ini?). Dan benar saja, ia bisa meraihnya.
Tahun ini, di ulangtahun ke-24, ia telah berganti status dan menghuni rumah mungil berinterior hijau dengan suaminya—setelah sebelumnya melewati masa pacaran selama kurang-lebih enam tahun.
Tebak apa pekerjaannya?
Guru TK!
Saya rasa, pekerjaan itu cocok dengannya.
Dan saat rutinitas saya dan Rika masih berputar di siklus cekikikan- potopoto-wisatakuliner-nonton-renang-nongkrong-ngenet- pulangmalem-manjatpagarkosan-begadang-nontonDVDbajakan- tukerannovel, dan hidup kami masih ada di sekitar Gramed-ITC- Bubu-(Warnet)Salak-dan sekitaran Margonda, Ellisa sudah berkutat dengan ngajar-belanjadiCarrefour-ngurusinrumah- nunggusuamipulang, plus muntah-muntah, karena empat bulan terakhir ini ia sedang mengandung.(Yuhuu, kami bakal jadi tante beneran!) ^_^
Saat saya dan Rika masih menyusun kepingan diri, Ellisa sudah hampir memenuhi pundi-pundi mimpinya. Ah, saya turut bahagia untuknya.
bentuk Ellisa terakhir kali kami berkunjung ke rumahnya
Hapi Birthday, Sis!
Wish You All The Best!
Luuvvvvyuuuuuu….
*kissesandhugs* |
cerita gadisbintang @ 4:13:00 AM   |
|
|
|
| Friday, May 4, 2007 |
| Poligami Episode III: Insiden Angkot 112 |
Pffhhh, three posts in a row—and they’re all talking about poligami. Begitu mungkin Anda berpikir. Tenang, yang ini beda, kok. Kenapa beda? Karena tokoh utama blog ini—Rika Sang Diva—akan muncul. ^_^
Alkisah, pukul sembilan malam, kami ‘terjebak’ di angkot 112—setelah berenang dan makan besar di sekitaran Margonjreng. Berniat pulang. Rika ke kos-nya. Saya ke rumah orangtua tercinta saya. Dengan perut kenyang, kami mengobrol. Teringat e-mail Tasha di milis, saya bertanya pada Rika, sudahkah ia membacanya. Belum, jawabnya. (Ia memang suka malas membaca e-mail dengan judul ‘aneh’). Jadilah saya semangat dan mulai menceritakan tabloid dodol di e-mail Tasha.
Percakapan kami lakukan dengan suara rendah, dan sebagian besar dalam bahasa Belanda. (Sumpah, deh, nggak kayak ibu-ibu yang ditemuin Iwied di angkot itu.) Berbekal cerita Iwied dan sedikit rasa tahu diri, kami tak mau mengganggu penumpang lain dengan pembicaraan kami. Lagian, angkot yang kami naiki juga sepi. Hanya ada seorang ibu berjilbab, berusia sekitar lima puluhan, di sebelah Rika.
Saya mulai bercerita dengan kalimat, “Lo tau nggak, Ka? Ada Tabloid Poligami loohh. Isinya macem-macem. Pro-poligami gitu, deh…. En ‘k vind ‘t verschrikkelijk. Volgens mij is poligami wel een personele zaak, maar zo’n tijdschrift vind ‘k heel.... blablabla....”
Terus saja saya ngoceh, dan Rika menanggapi. Di tengah percakapan, saya mengeluarkan makian, “Menjijikkan, ya!?” Maksud saya—seperti yang saya katakan sebelumnya—tabloid itu yang menjijikkan, bukan poligami.
Namun, Sodara-sodaraku tercintah, si ibu berjilbab di sebelah Rika—yang ternyata mendengarkan kami dari tadi—langsung mengeluarkan hantaman bernada tinggi, “Eh, sekarang Ibu tanya, deh.... Mendingan mana kamu dipoligami, atau jadi istri satu-satunya di rumah, tapi ‘jajanan’ suami di mana-mana? Mana yang lebih menjijikkan?”
“Laki-lakinya yang menjijikkan,” mulut besar Rika spontan bereaksi tanpa bisa di-rem. (Ia memang pedas. Dan terlalu jujur. Dulu, di zaman kuliah, kami biasa menjulukinya Si Mulut Bodoh karena sering mengeluarkan ucapan ‘salah’ pada situasi dan waktu yang ‘salah’—tampaknya, kali ini mulut bodohnya kembali unjuk gigi.)
Si ibu tambah melotot.
Ah, Ibu... kalau begitu sudut pandangnya—harus memilih antara diselingkuhi atau dipoligami—apa bedanya poligami dengan legalisasi perzinahan? Apa bedanya laki-laki dengan binatang?
Ah, Ibu... sudut pandang Anda melecehkan laki-laki.
Begitu yang ada di kepala saya.
Tapi, saya diam saja. Saya tahu, tak ada gunanya menyahuti si ibu. Sudut pandang kami jelas jauh berbeda.
Ah, entah… saya lelah berpendapat. Mungkin otak saya yang benar-benar harus ‘direparasi.’
Begitulah.
Saya diam.
Rika juga.
Tapi, si ibu belum selesai menyerang, “Kalo suami poligami, pasti karena istrinya kenapa-kenapa. Jangan salahin laki-laki. Itu juga salah perempuan.”
Kami tetap diam. Bertukar pandang. Sekarang, si ibu sudah mulai mempertanyakan kredibilitas perempuan. Atas dasar apa? Dalam lini kehidupan sebelah mana? Komitmen?—Seks?—Partnership?—Seks?—Peran Domestik?—Seks?—Karakter?—Seks?— Kesabaran?—Seks? APA? Sayang, si ibu tidak rinci.
Kami memutuskan tak menggubrisnya lagi. Dan kembali melanjutkan perbincangan. Dengan tema sama. Dalam bahasa Belanda. (Aih.., aih... senangnya jadi anak Belanda. Hahaha....). ^_^
Curangnya, tak lama setelah insiden itu, Rika turun. Kober, daerah kos-nya, memang tak jauh dari tempat kami naik angkot. Si ibu beringsut menjauh ketika Rika melewatinya, seolah tak ingin menyentuh teman saya itu. Jijik, mungkin. (Rika, kau menjijikkan! Hehehe....).
Selepas Rika turun, hanya tersisa kami berdua di angkot biru itu. Si ibu beberapa kali melemparkan mata pisaunya ke arah saya. Saya cuma membalasnya dengan senyum tipis.
(Syukurlah, ia tak melanjutkan ‘pertikaian poligami’ kami).
Pun ketika turun, ia sempat memandang saya tajam.
Seolah saya musuh bebuyutannya.
Mungkin, ia akan menceritakan—pada siapa pun yang dikenalnya—bahwa ia pernah se-angkot dengan dua gadis bodoh, yang lebih memilih jadi perawan tua ketimbang dipoligami.
Ah, Ibu… benarkah poligami adalah keadaan terberi yang harus diterima begitu saja?
|
cerita gadisbintang @ 5:03:00 AM   |
|
|
|
| Thursday, May 3, 2007 |
| Poligami Episode II: Haruskah Dipolitisasi? |
Minggu lalu, milis angkatan kami—Sastra Belanda UI 2001—diramaikan oleh e-mail dari Tasha. Sebenarnya ini e-mail berantai, yang mungkin sudah pernah Anda terima. Tapi, saya belum pernah. Belum pula dengar isunya. Penasaranlah saya membaca e-mail singkat itu. Isinya cuma beberapa kalimat. Plus hint yang menyertakan nama saya (teman-teman biasa memanggil saya P—bentuk salah kaprah dari ‘Fe’):
Hohohoho… baca nih...!!! P! gimana P? Sebagai seorang feminis?
Setelah senyum-senyum miris (masih) dijuluki feminis—julukan ini mulai muncul ketika saya menyusun skripsi bertema jender—saya scroll e-mail itu ke bawah, ada beberapa gambar di-attach di sana:
Melihat attachment ini sekilas, saya harus tarik napas panjang. Sekali—dua kali—tiga kali…. Lalu mulai menghitung dari satu sampai lima belas. Membayangkan yang indah-indah (seperti gelato yang dijanjikan seorang teman, cowok ganteng yang saya lihat di angkot, sungai Seine kala senja).
Belum cukup.
Saya putar lagu Cat Stevens, Morning Has Broken, keras-keras.
Tiga kali.
Baik, mari kita mulai….
Haaaahhhhh??? Sampah beginian bisa beredar????? (Teteeuuup, histeris!! Apa gunanya menenangkan diri kalo gini?! Hehehe….). Hmm, mari—sekali lagi—saya coba merunutkan segala yang berkeliaran di otak saya. Satu per satu. Perlahan. Sistematis. Penuh pertimbangan. Dengan cara yang beradab.
Baiklah, kita mulai dengan konsep poligami. Saya tahu, poligami diperbolehkan dalam Islam—dengan syarat yang bla-bla-bla (entah apa saja, saya sudah terlalu lemas untuk bertanya pada ibu saya yang guru agama Islam itu). Saya tidak menentang poligami, selama hal itu dilakukan sesuai syarat dan ketentuan. Namun, tetap saja, secara pribadi saya tak mau jadi ‘korban’ poligami. Bagi saya, pernikahan adalah komitmen. Dan orang ketiga—atau keempat, kelima, kedua puluh tujuh—tidak termasuk di dalamnya. Pernikahan adalah untuk dua orang yang bersedia mengambil risiko hidup terikat.
Berdua saja.
Titik.
Di sisi lain, saya tak pernah menyalahkan laki-laki poligami atau merendahkan perempuan yang dipoligami. Ah…, (semoga) mereka lebih mengerti tindakan mereka ketimbang saya. Pun ketika Indonesia dihebohkan dengan pernikahan kedua Aa Gym—dan hati saya diiris berita poligami Sapardi—saya tak juga protes.
Sekali lagi, beberapa keputusan adalah sesuatu yang sangat personal. Dan poligami termasuk di dalamnya.
Poligami adalah sesuatu yang harus dilihat secara kontekstual. Kasus per kasus. Tak bisa dipukul rata.
However, menurut saya, poligami cuma masalah interpretasi, kepentingan, dan kehendak bebas. Hanya kombinasi ketiganya. Tak lebih.
Itu poin pertama.
Sekarang, mari melangkah ke poin selanjutnya: tabloid bodoh ini.
*mengambil napas panjang dalam-dalam*
Bodoh. Murahan. Picisan. Menjijikkan.
Itu pendapat saya.
Saya tidak menentang poligami, tapi saya seratus tujuh puluh delapan persen menentang tabloid ini. Menurut saya, ini pembodohan. Pendangkalan masalah. Politisasi kepercayaan. Pembenaran sepihak. Pelecehan terhadap kemanusiaan.
Saya ‘mengizinkan’ mereka yang ingin berpoligami dan bersedia dipoligami. Silakan. Monggo. Tapi, melihat betapa keputusan yang sangat personal kemudian digembar-gemborkan menjadi sesuatu yang disebut ‘jihad’—saya benar-benar muak.
Sedih.
Lagi-lagi, kita tak bisa memisahkan sesuatu yang personal dan yang publik. Lagi-lagi kita lupa: kebenaran dan pembenaran adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan, haruskah agama dipakai sebagai landasan untuk membenarkan sebuah pembenaran?
(Agama mengizinkan poligami, itu benar. Tapi, menyatakan bahwa semua laki-laki boleh berpoligami dan semua perempuan harus mau dipoligami, itu jelas hanya sebuah pembenaran.).
Jujur saja, saya ingin menangis. Saya marah besar. Lagi-lagi Tuhan dijual. Dijadikan tameng. Dipolitisasi.
Poligami mungkin— entah menurut siapa—manusiawi. Tapi, membuat tabloid poligami, jelas sebuah dehumanisasi. Apalagi melihat tagline dan judul-judul artikel yang sangat tendensius. Hak dan Kebutuhan Perempuan, misalnya, bisakah digeneralisasi?
Lalu, coba baca pengantar ini:
"Konflik, bencana alam, dan perawan tua adalah masalah serius yang menimpa perempuan di negeri ini. Karena itu, negeri ini membutuhkan banyak relawan poligami untuk mengatasi masalah nasional perempuan ini."
Sebuah pelecehan terang-terangan pada kemanusiaan..., dan perempuan.
Ditambah lagi, saya tidak berpikir bahwa premis yang ditawarkan matching dengan kesimpulan yang ditarik.
Konflik + Bencana Alam + Perawan Tua = Relawan Poligami
Konyol. Karena, menurut saya, tak satu pun masalah akan selesai di tangan poligami. Konflik dan bencana alam jelas-jelas lewat. Sedang masalah perawan tua, saya jamin, tak akan berkurang karena poligami. Bukannya biasanya laki-laki poligami cari daun muda?? Hehehe…. Jadi, apanya yang bakal selesai???
*depresi-mode: on*
(Catatan Selip: Lagian, apa perawan tua bisa disebut masalah nasional? Saya bahkan tidak menganggap perawan tua itu masalah. Lebih gawat “nggak-perawan-padahal-masih-muda” a.k.a pre-marital sex, kan?)
Belum lagi pemandangan Kupon Poligami dan kata jihad yang bertebaran di halaman tabloid ini. KONYOL pangkat tiga!
Ah, saya lelah.
Saya letih memaki di sini.
So, Tasha…, begitulah pendapat saya.
(Sekarang, izinkan saya menghela napas sekali lagi, dan menghapus airmata yang hampir menitik ini. Iya, saya masih mudah menangis seperti dulu, Tash!)
|
cerita gadisbintang @ 4:17:00 AM   |
|
|
|
| Wednesday, May 2, 2007 |
| Poligami Episode I: Sapardi pun Tak Mau Ketinggalan |
Minggu lalu, pada suatu pagi yang cerah, saya duduk di depan monitor komputer. Asyik ber-YM dengan teman-teman. Pagi yang cerah. Pagi yang membahagiakan. Sampai Sita menyapa saya. Dan mengabarkan berita itu: Sapardi Djoko Damono—iya, idola saya itu, cinta pertama yang sangat absurd—menikah lagi! Di usianya yang sixty something. Menikah lagi. Poligami. Menikah lagi. Poligami.
Saya mendadak sesak. Seakan saya yang dipoligami. Ah, mungkin ini yang dirasakan Rika ketika Aa Gym berpoligami, beberapa waktu lalu. (Dulu, Rika fans beratnya Aa Gym. Ia bilang, Aa Gym penerang hidupnya. Dan sejak insiden poligami itu, hidup Rika gelap-gulita.).
Poligami. Sapardi. Poligami. Sapardi. Keduanya lebih terdengar seperti oksimoron di telinga saya. Ah....
Sebenarnya, bukan di situ masalahnya. Bukan kehidupan pribadi Sapardi yang mengganjal saya. Menikah, bercerai, atau poligami: itu murni urusannya. Hanya saja, sebagian pencitraan yang saya miliki tentang seorang lelaki sederhana nan romantis—lengkap dengan cinta sejatinya yang tunggal—mendadak musnah. Ah, kadang yang menyakitkan bukan kenyataan yang terjadi, tapi pencitraan yang sudah kita bangun. Begitu kesimpulan saya.
Jadi, ketika ditanya, patah hati-kah saya? Tidak, saya menjawab pasti. Memang, saya kecewa. Tapi, toh, saya masih mengagumi Sapardi seperti sebelumnya. Menurut saya, beberapa keputusan adalah sesuatu yang sangat personal. Dan poligami termasuk di dalamnya.
(Lucunya, waktu saya SMS seorang teman dan bilang kalau saya kecewa Sapardi berpoligami, teman saya itu cuma komentar, “Kenapa? Kecewa, soalnya bukan lo yang jadi istri keduanya, ya??” Sial. Ya, enggaklaaahhh. Ngaco!). Hehehe…. |
cerita gadisbintang @ 3:52:00 AM   |
|
|
|
| Tuesday, May 1, 2007 |
| Apa Kabar, Hidup? |
Apa kabar, Hidup?
Ah... makin kehilangan waktu menulis. Makin tergesa dikejar Subuh. Makin merindu pekatnya malam.
Ah... Selalu ada yang harus dikorbankan. |
cerita gadisbintang @ 3:20:00 AM   |
|
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|