|
| Tuesday, February 26, 2008 |
| **(ke)[ta]nyata(a)nya** |
Saya tahu ruang itu telah penuh.
Sesak.
Toh, tetap saja saya menunggu.
Di pintunya.
Bertanya-tanya.
: masih bolehkah saya menyisipkan kekosongan?
Sungguh,
saya ingin berdesakkan di dalam sana.
Entah kenapa.
|
cerita gadisbintang @ 11:27:00 AM   |
|
|
|
|
| In a Sentimental Mood.. |
Berusaha mengada di sela ketergesaanmu.
Ah, kapan kau mau berhenti sejenak?
Menoleh,
dan menyadari keberadaanku.
Di sini.
Mengamatimu. |
cerita gadisbintang @ 10:16:00 AM   |
|
|
|
| Sunday, February 24, 2008 |
| Pesan Tuhan Pada Ulang Tahun Kali Ini |
|
Hari itu.
Lima Februari 2008. Pukul enam sore. Saya ‘terjebak’ di LIPSIUS. Teman-teman yang sedari tadi menemani beranjak pergi satu per satu.
Saya pun bangkit. Menyadari, di Jakarta hari telah berganti. Ulang tahun saya. Lalu melangkah. Tanpa tujuan.
Belok kanan. Menunggu lift. Menuju ruang komputer. Entah untuk apa. Saya sama sekali tak punya kepentingan di sana. Anehnya, saya tetap berjalan. Mengikuti. Seolah sesuatu mendorong sekaligus membimbing saya menuju tempat itu.
Lantai dua. Belok kiri. Lalu kiri lagi. Membuka pintu. Sembari terus bertanya-tanya, apa yang akan saya lakukan di sini.
Lengang menyambut saya di ruang semi transparan itu. Hampir tak ada orang di sana. Saya melangkah masuk. Duduk di depan salah satu komputer yang berjajar. Lalu terhenyak. Memandang mouse pad yang sama sekali tak pernah saya perhatikan. Walau saya sering mengurung diri di tempat ini.

Di sanalah ia. Pesan sederhana yang tak pernah saya hiraukan. Selama ini.
Ah, Tuhan menyapa lagi. Saya lalu bangkit. Beranjak pulang. Tanpa pernah menyalakan komputer itu.
Kado Ulang Tahun dari Tuhan telah saya terima. Hanya itu yang saya perlu.
** Soms moet je je hoofd even leeg maken: Terkadang, kita perlu sejenak mengosongkan kepala. |
cerita gadisbintang @ 7:58:00 PM   |
|
|
|
| Thursday, February 21, 2008 |
| Ia |
Saya merindukannya, Ia : si telaga yang selalu menjaga perahu saya. Ah… |
cerita gadisbintang @ 1:08:00 AM   |
|
|
|
| Monday, February 18, 2008 |
| FebalousLife? |
Pagi-pagi. Baru saja bangun tidur. Ini yang saya temukan di pintu kamar. Ah, bagaimana bisa saya tak tersenyum membacanya? |
cerita gadisbintang @ 11:44:00 PM   |
|
|
|
| Friday, February 15, 2008 |
| Maka, Berbahagia Sajalah! |
Berbahagialah. Karena pada akhirnya, semua toh akan baik-baik saja.
Awal semester lalu, saya terlambat datang. Saya baru sampai di Leiden lima minggu setelah perkuliahan dimulai. Jangan tanya alasannya, yang pasti itu bukan salah saya. Hari kedua di Leiden, Pembimbing Akademik saya menyambut dengan setumpuk fotokopi artikel, notulen kuliah, silabus detail minggu per minggu, plus daftar paper dan tugas yang harus saya kejar. 
Belum sempat menarik napas dan memeriksa tumpukan itu, beban mata kuliah lain pun menjerat erat. Ah, susah payah saya mengejarnya. Hampir tanpa semangat. Setengah hati. Kelelahan. Dan penuh keyakinan bahwa saya-lah siswa terbodoh di kelas. Yang selalu tertinggal belasan langkah di belakang.
Dan bahasa adalah hambatan terberat saya. Sungguh, saya benci yang satu ini. Seumur hidup, bahasa-lah yang biasanya menyelamatkan saya. Rangkaian kata-kata indahlah yang jadi teman pertama saya: pelarian, ketertarikan, hasrat, cinta. Lalu tiba-tiba, ia berbalik menyerang. Dan saya marah: paper berbahasa Indonesia yang biasanya bisa dua kali lipat tebalnya dari tuntutan tugas, berganti tinta merah para dosen di atas bahasa Belanda saya yang dinilai belum cukup akademis. Argumen-argumen yang biasanya muncul sukarela dan hampir bebas hambatan di antrian kalimat tak-terlalu-panjang, berubah wujud menjadi kode-kode editing yang menandakan bahwa saya harus memilih diksi dan konstruksi kalimat lain.
Bahasa tiba-tiba jadi musuh saya. Ia tak lagi menjembatani. Cenderung membendung. Melarang ide menemukan bentuk di atas kertas. Ujian tertulis juga bukan kabar baik. Kekuatan terbesar saya pun turut raib: ngecap. Ah, teman-teman sekelas saya dulu pasti tahu, kemampuan (yang menurut mereka) menyebalkan inilah yang membuat saya bertahan: persahabatan dengan ide-ide sederhana yang terbungkus kalimat indah nan mempesona-lah yang berhasil mengelabui para dosen dan menyelamatkan saya dari IPK di-bawah-garis-kemiskinan. 
Dan lihatlah saya semester kemarin. Terseok-seok mengejar ketertinggalan. Dengan kebiasaan buruk yang belum juga hilang: tergopoh-gopoh bangun kesiangan, baru tidur di atas pukul tiga dini hari. Dan, yang paling penting untuk dicatat, tanpa melakukan apa pun yang seharusnya dilakukan. Sayangnya, saya masih si mahasiswa Sastra UI yang ceroboh, malas, pelupa, dan deadliner. Segalanya masih dieksekusi di menit terakhir. Masih berjaga di garis finish untuk semua hal yang berkaitan dengan tenggat. 
Hasilnya? Tentu saja ketidakjelasan nasib dan satu ujian her. (Ya, bersenanghatilah, Tasha… saya tahu kamu terbahak di sana). Dan saya cuma bisa tersenyum miris waktu itu. Tak cukup ujian her, salah satu dosen lain meminta saya melakukan presentasi pada musim liburan—tepat pada hari ulang tahun saya—karena jam kuliah normal tak cukup menampung presentasi mahasiswa susulan yang baru nongol pada bulan kedua perkuliahan. Cuma bisa memonyongkan bibir ketika memandang barisan kolom nilai yang kosong karena paper-paper dan tugas akhir saya belum selesai dikoreksi. Memandang angka lima, satu-satunya hasil ujian yang memamerkan diri di samping kode hertentamen.
Dan saya cuma bisa meyakinkan diri, kalau semua akan baik-baik saja. Walau rasanya, saya sendiri tak bisa percaya. Baik-baik saja adalah frase yang hampir mustahil. Cenderung ajaib.
Syukurlah, hari ini akhirnya semua terjawab. Nilai-nilai bermunculan. Aman terkendali. Saya menarik napas lega.
Lalu pertemuan dengan Pembimbing Akademik, yang terbelalak ketika saya bertanya apakah saya yang terbodoh di kelas. “Natuurlijk niet,” jawaban itu lalu dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar yang sungguh membuat saya bahagia.
Ah, saya benar-benar lega. Satu e-mail lagi saya terima sore ini. Hasil ujian her. Hati-hati saya baca surat pendek itu. Dan tersenyum bahagia melihat angka tujuh koma lima menggantikan nilai sebelumnya.
Akhirnya, sekali lagi saya membuktikan. Bahwa toh pada akhirnya, semua akan baik-baik saja. Dengan caranya masing-masing.
Jadi, berbahagia sajalah. Toh semuanya pasti akan baik-baik saja.  |
cerita gadisbintang @ 1:03:00 PM   |
|
|
|
|
| Hasil Ujian Her Si Kupu-kupu Malam |
Bahagia-bahagia-bahagia!  Hihihi.. boleh, dong?!
Ceritanya, sebulan lalu saya ujian mata kuliah Didaktik. Bahannya aujubile. Bodohnya, saya terlalu ‘sibuk’ sampai-sampai baru belajar dua puluh empat jam sebelumnya. (Hihihihi, yes, Sir… old habit DOES die hard!). Dan di kelas, ketika mengerjakan soal, saya cuma bisa ngecap seadanya, sambil terus berpikir, “Hmm, ini siapa, ya? Kayaknya kenal, deh,” tiap kali ada nama teoretisi muncul. 
Ah, goblok emang. Nggak belajar dari pengalaman.
Nggak ada contoh yang lebih tepat untuk menggambarkan peribahasa Bahkan keledai saja tidak jatuh dua kali di lubang yang sama. Dan karena saya jatuh di lubang serupa berkali-kali, tentu saja saya lebih canggih dari keledai. Idiot tingkat tinggi. DOS Pentium lima.* Hebatlah pokoknya. 
Dan akhirnya, kisah dramatis ini berakhir tragis: ujian her.  Tanpa menyesali nasib, saya berjanji dalam hati bahwa saya akan memanfaatkan waktu dua minggu yang diberikan sebelum ujian her, membabat habis teori-teori bagaimana-cara-menjadi-dosen-yang-baik itu. Lalu, Anda pikir saya menepati janji? Yaa, enggaklaah. Jangan mimpi, deh.
Dua puluh empat jam menjelang ujian her, saya termangu di depan buku-buku teori bersampul biru. Tadinya, saya pikir saya mengalami dé jà vu, namun sesaat kemudian saya baru sadar, saya memang sudah pernah mengalami hal yang sama, dua minggu sebelumnya, untuk ujian yang sama. Dan itu kenyataan. Bukan mimpi. Apalagi dé jà vu. Saya langsung trauma. Dan karena sedang trauma, saya butuh hiburan: nonton.
Dan, di sanalah saya. Tak mempedulikan pertanyaan-pertanyaan menyelidik dan wajah khawatir si kembar yang tahu bahwa keesokan harinya saya ujian her. Saya cuma nyengir. Berbaring di sofa. Dengan timbunan DVD sewaan dan chips pembuat bodoh yang tak kalah banyak. Memelototi layar kaca hampir semalaman. Lalu tertidur nyeyak sampai pagi. 
Keesokan harinya saya berangkat ke kampus. Tanpa pernah menyentuh bahan ujian sekali lagi. Lalu mengerjakan ujian her dengan semangat ‘kupu-kupu malam’: apa yang terjadiii, terjadilaaaaahhh. Huwooo..uwoo..uuwooo.. *TitiekPuspa-mode: on*
Dan, baru saja saya menerima hasil ujian si Kupu-kupu Malam. JAUH LEBIH BAGUS dari prediksi.  Monyet! Tau gitu pas ujian nggak usah belajar aja, biar nggak perlu her segala. Hidup yang aneh…. *gelenggelengkepala ala SKJ ‘88*
* Kalo Anda percaya makhluk bernama DOS Pentium lima itu nyata, berarti Anda lebih dodol dari saya. (Iya, saya tau, kemungkinannya emang kecil banget. Tapi, berharap aja, boleh kan?)
** Gode, kalo lo baca posting ini, jangan bilang-bilang Ibu gue suka memonyet-monyetkan diri, ya. Bilang aja, gue langsung ber-Alhamdulillah-ria. Hehehe..
|
cerita gadisbintang @ 12:54:00 PM   |
|
|
|
| Tuesday, February 5, 2008 |
| LIPSIUS, 5 Februari 2008 |
Di Jakarta, tiga menit lagi saya ulang tahun.
|
cerita gadisbintang @ 3:14:00 PM   |
|
|
|
| Monday, February 4, 2008 |
| Datanglah! -- Puisi-puisi Cinta SDD di TIM |
Teman-teman,
Karena saya, tentu saja, tidak bisa datang di acara yang dipersembahkan untuk cinta pertama saya, bolehkah saya memohon kalian untuk datang mewakili?
Tolong,
Jangan lupa datang.
Serap cinta yang luber di sana,
dan bagilah kisahnya pada saya.
Terima kasih.
--------------------------------------------
Sebagai penghormatan atas pencapaian dan
dedikasi Sapardi Djoko Damono di bidang
sastra, Pusat Kesenian Jakarta akan
menyelenggarakan acara bertajuk
Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko
Damono.
Acara ini akan dilaksanakan
pada tanggal 14 dan 15 Februari 2008,
jam 20.00 di gedung Graha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki.
Di samping dikenal luas sebagai seorang
guru besar dan kritikus sastra yang
handal, Sapardi Djoko Damono juga
merupakan salah satu dari sedikit
penyair Indonesia yang sangat tenar.
Dengan kepiawaian seorang maestro,
Sapardi menuangkan pengalaman puitiknya
dalam bahasa yang jernih dengan pilihan
kata yang sederhana, namun selalu
berhasil menciptakan imaji yang
serta-merta membetot empati pembacanya
untuk terlibat lebih dalam dengan
karya-karyanya.
Karya-karyanya antara lain: DukaMu Abadi
(1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas
(1983; mendapat Hadiah Sastra DKJ 1983),
Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah
pertama Puisi Putera II Malaysia 1983),
Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998),
Ayat-Ayat Api (2000) dan banyak lagi. Ia
juga menerjemahkan karya-karya sastra
dunia seperti: Lelaki Tua dan Laut
(1973; Ernest Hemingway), Sepilihan
Sajak George Seferis (1975), Puisi
Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi
(1977), Afrika yang Resah (1988).
Khususnya sejak penerbitan kumpulan
Hujan Bulan Juni, yang disusul
peluncuran album musikalisasi puisi
karya-karyanya dengan judul yang sama,
Sapardi Djoko Damono tidak ubahnya virus
yang menyebar begitu cepat, memaksa
orang untuk benar-benar menoleh ke karya
sastra puisi.
Acara ini akan didukung oleh Ari-Reda,
Jose Rizal Manua, Ine Febriyanti,
Cornelia Agatha, Ags. Arya Dipayana,
Lab. Musik Jakarta dan Paduan Suara Gita
Swara Nassa.
Sang penyair akan hadir
dalam acara tersebut, untuk memberi
kesempatan bagi masyarakat mengenal
lebih dekat penyair pujaan mereka.
Harga tanda masuk untuk acara ini adalah
Rp. 50.000 dan Rp. 30.000. Untuk
informasi lebih lanjut dan pemesanan
tiket dapat menghubungi Pusat Kesenian
Jakarta TIM di telepon (021) 31937325
dan 31934740.
Penanggungjawab Acara:
Jose Rizal Manua (0811833161)
Ags. Arya Dipayana (0818709075)
*Info diambil dari bulbo random yang di-posting SEMUA orang.
|
cerita gadisbintang @ 1:08:00 AM   |
|
|
|
| Sunday, February 3, 2008 |
| Pulang |
Dan aku pasti pulang.
Untuk mempertanyakan kita.
Untukmu.
*sedangkan sekarang, biarkanlah dulu aku mempertanyakan diri*
|
cerita gadisbintang @ 1:46:00 PM   |
|
|
|
| Saturday, February 2, 2008 |
| Sapaan Tuhan di Toko Buku |
Kemarin, di toko buku, mata saya meringkus sebuah notes. Biru muda.
Dan yang berhasil membuat saya menahan napas selama beberapa detik adalah tulisan yang tercetak di sampulnya.
Besar-besar.
Live your dreams, don’t dream your life.
Menyentuh. Dan terasa sangat tepat. Lagi-lagi Tuhan menyapa saya dengan cara yang benar-benar indah.
|
cerita gadisbintang @ 2:39:00 AM   |
|
|
|
|
| Tussen 'W' en 'D' |
Wat? Dat. Wat, wat, wat? Dat, dat, dat. Waarom? Daarom. Maar daarom is geen reden. En waarom is soms niet te vragen. ****
Didedikasikan buat si kembar yang pasti bakal bilang, “Feba, puisi ini nggak berima. Dat is geen echte rijm.” Halaah, bodooo!!
|
cerita gadisbintang @ 1:49:00 AM   |
|
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|