|
| Wednesday, June 17, 2009 |
| Whazzuuuupp, Cicak? *sok asik mode: on* |
Hah!
Kalau Anda pikir saya sudah pinis (maksupnyah kelar gituh!), Anda salah besar! I'm back, beiyybihhh!!
Terimakasih, Tuhan, saya masih diizinkan menyentuh blog ini. *tariknapaspanjang* Bukan sombong, bukan malas, tapi hidup saya akhir-akhir ini mirip marathon yang nggak jelas finish-nya di mana. *tariknapaspanjanglagi*
Tapi, syukurlah, terimakasih Uswah yang tiba-tiba menunda deadline editan sampai tahun depan *jogetjogetdangdut* dan terimakasih pacar yang terus-menerus mendesak saya untuk kembali menapakkan jemari di blog ini walau ia sebenarnya tidak, uhm.. maksup saya belum, mengerti benar kata-kata biadab yang saya torehkan di sini (kayaknya sih, dia begah aja kali saya intilin mulu!) daann.. terimakasih makhluk gila nan cacat pencinta honda jazz (boleh disebutin warnanya, nggak?) yang berhasil membuat saya geli-geli gatel untuk kembali menulis dengan segala pujian tak berotaknyah. Ailopyu ol!! *ini kenapa jadi sok Oscar beginih, sih!?*
Seperti biasa, sebagai pemanasan, saya hobi ngalor-ngidul ke sana-ke mari. Dan BERITA TERPENTING yang bisa dan harus saya bagi di sini adalah... eng, ing, eng... bulan September, tepat sehari sebelon lebaran, sampai pertengahan Oktober SAYA MUDIK!!! *bahagia, senyum sampai kuping* Senaaangggg!!! Ini artinya, hari-hari indah di Margonda bisa diputar ulang (Bayu, Rika.. MARII!!!) sekaligus MAKAN ENAK, TIDUR NYENYAK, dan berharap dimanja di rumah karena sudah dua tahun nggak menginjakkan kaki di persawahan Setu. Ohh, can't wait!!
Ngomong-ngomong, meneruskan kisah soal belajar Bahasa Indonesia, perkembangan Mr. Dutchie sedang terhambat, nih. Kayaknya sih dia kekurangan energi dan waktu buat serius belajar gara-gara sibuk banget di kantor. *membelapacar* Tapi, saya yang jenius ini tentu saja punya cara biar dia tetep keracunan Indonesia: lagu anak-anak!
Bulan lalu saya saksyeess mengajari Cicak-cicak di Dinding. Walaupun tadinya agak bikin esmosi karena Mr. Dutchie nyanyinya: Cicak-cicak DINGDINGDING, toh akhirnya lidah londo-nya bisa dilurusin. Saking fanatiknya, tiap ada kesempatan (dan kampretnya, kesempatannya BANYAK BANGET) Mr.Dutchie selalu ngajak saya paduan suara nyanyiin Cicak-cicak di Dinding. Bowk, ya... sekali, dua kali, tiga kali, sih, oke aja duduk manis di sadel belakang sepeda sambil nyanyi lagu kurang indah itu. Tapi kalo terus-terusan... kan mual juga.
Akhirnya, minggu lalu saya perkenalkan ia pada lagu terbaru: Bintang Kecil. Setau saya, begini nih, liriknya:
Bintang kecil di langit yang biru
Amat banyak menghias angkasa
Aku ingin terbang dan melayang
Jauh tinggi
Ke tempat kau berada
Baru lima menit diajarin, Mr. Dutchie udah protes, "Babe, mana bisa 'langit yang biru'?"
"Emang kenapa?"
"Kalo langitnya biru, mana mungkin bintangnya kelihatan?" katanya sambil menunjuk langit cerah siang itu.
Hal pertama yang muncul di kepala saya: iya juga, ya.. mungkin ini bedanya pola pikir kritis dan nrimo.
Toh, saya yang NGGAK PERNAH mau kalah ini harus membela diri. Akhirnya yang terlontar adalah: "Yee, jangan protes, dong! Kan maksudnya biru donker!"
Dan perselisihan pun tak bisa dihindari.
Masalah belum selesai, Sodara-sodara! Pacar saya yang kritis dan suka sok tau itu ternyata berpegang teguh pada prinsip cek dan ricek. Suatu hari, di tengah jam kerja, ia mengimel saya cuma buat protes: ia baru saja meng-google Bintang Kecil dan lirik lagu yang saya kasih ternyata beda sama yang dia temuin. Serius. Emang penting banget tuh orang! Nggak percaya? Nih, saya kasih potongan imelnya:
--------------------------------
Trouwens, ik heb de tekst opgezocht van Bintang Kecil:
bintang kecil, di langit yang tinggi (<-- niet biru, maar tinggi)
amat banyak, menghias angkasa
aku ingin, terbang dan menari <--
jauh tinggi ke tempat kau berada
--------------------------------
Jadi ya, Sodarah.. sampe sekarang dia masih kekeuh-sumekeuh kalo langitnya tinggi dan bukan biru. Masalahnya, seinget saya, liriknya itu 'langit yang biru', lagian nggak seru banget kalo 'langit yang tinggi' - di baris terakhir pan udah ada 'jauh tinggi'! Masak diulang!? Nggak kreatip! Huh!
Satu lagi, yang bener itu 'terbang dan menari' atau 'terbang dan melayang' sih? Menurut saya sih, melayang. Kan lebih cocok gituh disandingin sama 'terbang'. Iya, kan? Kan, kan, kan? (Walau kebenarannya agak meragukan, mengingat saya nggak TK).
(Dan baru aja saya googling, sayang nggak dapet situs yang meyakinkan. Ada yang bisa bantu soal lirik lagu ini!? Pliiisss..)
|
cerita gadisbintang @ 10:36:00 PM   |
|
| 7 Comments: |
-
hahah kamu memang salah darlig... yang betul itu langit tinggi dan terbang dan menari hahahahahahahahahah......
-
tika bela feba aja deh!! hehe
-
kalo gak salah sih, "langit yang biru" sama "terbang dan menari"
hehehe..
welcome back, mbak feba!
-
Mayan says: bener laki lo, Bok. Langit tinggi dan menari. Hihihi, jadi malu nih, si Londo kok lebih tahu... :P
-
ahahahahaha..
ini yang bener yang mana? kok pendapatnya beda-beda? :D
gimana kalo kita ganti aja? jadi:
bintang kecil di luar angkasa amat banyak menghias semesta aku ingin naik pesawat terbang jauh tinggi pulang ke indonesiaa..
(lah, ini mah homesick!) ;p
-
yg bener itu lagit biru terus terbang dan menari.. tolong ya kalian berdua jangan2 rusak lagu masa kecil gw hahaha
-
Feba, yang bener langit tinggi, terbang dan menari. Tinggi dan menari supaya berima. Tinggi diulang dua kali karena anak-anak kan kosa katanya masih terbatas dan supaya mereka lebih gampang ingetnya. Guru TK lo sesat tu:) Jangan-jangan lagu Balonku juga salah? Yang bener hijau-kuning-kelabu-merah muda-dan-biru. Soalnya gw pernah denger ada yang nyanyiin merah-kuning-kelabu, lah kalo gitu yang meletus warna apa dong? :D
|
| |
| << Home |
| |
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|
hahah kamu memang salah darlig... yang betul itu langit tinggi dan terbang dan menari hahahahahahahahahah......