Aaarrgghhhh..
Setelah mengumpulkan kekuatan bintang dan agak sedikit sembuh dari keterkejutan, akhirnya saya bisa kembali menyentuh blog ini. Tadinya, mah, beuuuu.. agak trauma nyentuh kibort gara-gara baca postingan tanpa izin milik Mr. Dutchie. *lebay*
Tapi, toloongg yaaa.. saya mau meluruskan sedikit mengenai posting narsis Mr. Dutchie di blog ini. (btw, Warta Berita banget nggak kalimat barusan? Hahahaha..) Booowwkkk yaaa.. He is indeed so sweet, romantic and all. And yes, when he is with me, he does cook, clean and everything (sekarang Anda mengerti kan, kenapa saya memacarinya? Hahahaha.. *kedip-kedip mesum ke Mr.Dutchie biar dia nggak marah*) . Waktu saya sakit kemarin, he even bought me a Teddy Bear to "watch over me when I slept." (Geli nggak lo!? Ahahahaha..). Yes, yes and yes.. he's a very very very good boyfriend, tapiiiiiiii yaaa.. yang belum diketahui umum adalah DIA ITU KADANG NYEBELIN BANGET!!!!
*****
Contoh kasus:
Saya sempat 'bermasalah' waktu nyari kosan baru. Di Belanda yang sempit ini emang susyaahh banget cari tempat tinggal, apalagi kamar kosan. Deeuuhh, pegel deh!
Nah, singkat kata, setelah berpindah-pindah dari satu kamar ke kamar lain, suatu hari saya punya kunci TIGA kamar sekaligus. Mantap nggak, tuh!? Sori, bukan tajir bukan sombong, masalahnya ketiga kamar itu punya status masing-masing, yaitu:
1. Kamar Cruquiuslaan -Leiden yang sudah tidak bisa ditinggalin karena kontrak habis, sementara si kembar pemilik rumah masih ngayeng ke Asia dan belon pulang ampe gini hari.
2. Kamar di Hilversum, yang cuma selemparan beha dari kantor. Waktu itu masih saya jagain sambil pindahan ke kamar baru.
3. Kamar baru yang diidam-idamkan di Haarlemmerstraat - Leiden. Waktu itu masih belum bisa ditinggalin karena saya belon pindahan.
Nah, sekarang silakan bayangkan sendiri berapa kunci yang ada di tas saya: tiap kamar punya minimal empat kunci (pintu gerbang, pintu rumah, pintu kamar, pintu gudang). Dan waktu ngeliat saya punya serencengan kunci begitu, tahukah Anda apa yang dikatakan pacar tercinta saya?
"Baby, kamu kok kayak janitor, sih!?"
Coba bayangiiiinnn, emang saya ada potongan Satpam?
Dan ketika saya protes, "Ih, kamu tuh pacar macam apa sih, ngatain pacarnya sendiri mirip janitor?"
Dengan kalem dia jawab: "Pacar jujur."
Eh, Bule, tolong ya, catet! Bedanya jujur ama ngeselin itu tipis!
*****
Jadi coba, yang masih percaya Mr.Dutchie is a very very very good boyfriend, ngacung!
*tengok kanan-kiri dan mengangguk puas karena nggak ada yang nunjuk tangan*
Hahahahahaha...
Ps: Sayang, walau kamu kadang nyebelin, aku cinta kamu, kok. Kalau datang ke Leiden lagi, kamu masak, ya! Oh, iya.. saluran air di dapur juga agak tersumbat, tuh! *pasang tampang merayu menjijikkan* Hahahaha..
Hello friends from Indonesia, This is Mr. Dutchie, I have taken over this blog because Feba, my wonderful girlfriend, is ill (physical, not mental...although...). I will take this opportunity to say that I am a very very very good boyfriend. I cook, I clean, I change light bulbs, I construct Ikea furniture, I vacuum the carpet, I iron clothes while Feba mostly sits back and checks her email, blog and other people's blogs.
For those of you who are still in doubt over the correct version of Bintang Kecil: 'my' version is obviously the right one. How could you doubt that???
I welcome you all to reply to this blog message. Best to you all, Mr. Dutchie PS: Feba darling get well soon!
Hah!
Kalau Anda pikir saya sudah pinis (maksupnyah kelar gituh!), Anda salah besar! I'm back, beiyybihhh!! Terimakasih, Tuhan, saya masih diizinkan menyentuh blog ini. *tariknapaspanjang* Bukan sombong, bukan malas, tapi hidup saya akhir-akhir ini mirip marathon yang nggak jelas finish-nya di mana. *tariknapaspanjanglagi* Tapi, syukurlah, terimakasih Uswah yang tiba-tiba menunda deadline editan sampai tahun depan *jogetjogetdangdut* dan terimakasih pacar yang terus-menerus mendesak saya untuk kembali menapakkan jemari di blog ini walau ia sebenarnya tidak, uhm.. maksup saya belum, mengerti benar kata-kata biadab yang saya torehkan di sini (kayaknya sih, dia begah aja kali saya intilin mulu!) daann.. terimakasih makhluk gila nan cacat pencinta honda jazz (boleh disebutin warnanya, nggak?) yang berhasil membuat saya geli-geli gatel untuk kembali menulis dengan segala pujian tak berotaknyah. Ailopyu ol!! *ini kenapa jadi sok Oscar beginih, sih!?* Seperti biasa, sebagai pemanasan, saya hobi ngalor-ngidul ke sana-ke mari. Dan BERITA TERPENTING yang bisa dan harus saya bagi di sini adalah... eng, ing, eng... bulan September, tepat sehari sebelon lebaran, sampai pertengahan Oktober SAYA MUDIK!!! *bahagia, senyum sampai kuping* Senaaangggg!!! Ini artinya, hari-hari indah di Margonda bisa diputar ulang (Bayu, Rika.. MARII!!!) sekaligus MAKAN ENAK, TIDUR NYENYAK, dan berharap dimanja di rumah karena sudah dua tahun nggak menginjakkan kaki di persawahan Setu. Ohh, can't wait!! Ngomong-ngomong, meneruskan kisah soal belajar Bahasa Indonesia, perkembangan Mr. Dutchie sedang terhambat, nih. Kayaknya sih dia kekurangan energi dan waktu buat serius belajar gara-gara sibuk banget di kantor. *membelapacar* Tapi, saya yang jenius ini tentu saja punya cara biar dia tetep keracunan Indonesia: lagu anak-anak!
Bulan lalu saya saksyeess mengajari Cicak-cicak di Dinding. Walaupun tadinya agak bikin esmosi karena Mr. Dutchie nyanyinya: Cicak-cicak DINGDINGDING, toh akhirnya lidah londo-nya bisa dilurusin. Saking fanatiknya, tiap ada kesempatan (dan kampretnya, kesempatannya BANYAK BANGET) Mr.Dutchie selalu ngajak saya paduan suara nyanyiin Cicak-cicak di Dinding. Bowk, ya... sekali, dua kali, tiga kali, sih, oke aja duduk manis di sadel belakang sepeda sambil nyanyi lagu kurang indah itu. Tapi kalo terus-terusan... kan mual juga. Akhirnya, minggu lalu saya perkenalkan ia pada lagu terbaru: Bintang Kecil. Setau saya, begini nih, liriknya: Bintang kecil di langit yang biru Amat banyak menghias angkasa Aku ingin terbang dan melayang Jauh tinggi Ke tempat kau berada Baru lima menit diajarin, Mr. Dutchie udah protes, "Babe, mana bisa 'langit yang biru'?" "Emang kenapa?" "Kalo langitnya biru, mana mungkin bintangnya kelihatan?" katanya sambil menunjuk langit cerah siang itu. Hal pertama yang muncul di kepala saya: iya juga, ya.. mungkin ini bedanya pola pikir kritis dan nrimo.
Toh, saya yang NGGAK PERNAH mau kalah ini harus membela diri. Akhirnya yang terlontar adalah: "Yee, jangan protes, dong! Kan maksudnya biru donker!" Dan perselisihan pun tak bisa dihindari. Masalah belum selesai, Sodara-sodara! Pacar saya yang kritis dan suka sok tau itu ternyata berpegang teguh pada prinsip cek dan ricek. Suatu hari, di tengah jam kerja, ia mengimel saya cuma buat protes: ia baru saja meng-google Bintang Kecil dan lirik lagu yang saya kasih ternyata beda sama yang dia temuin. Serius. Emang penting banget tuh orang! Nggak percaya? Nih, saya kasih potongan imelnya: -------------------------------- Trouwens, ik heb de tekst opgezocht van Bintang Kecil: bintang kecil, di langit yang tinggi (<-- niet biru, maar tinggi) amat banyak, menghias angkasa aku ingin, terbang dan menari <-- jauh tinggi ke tempat kau berada -------------------------------- Jadi ya, Sodarah.. sampe sekarang dia masih kekeuh-sumekeuh kalo langitnya tinggi dan bukan biru. Masalahnya, seinget saya, liriknya itu 'langit yang biru', lagian nggak seru banget kalo 'langit yang tinggi' - di baris terakhir pan udah ada 'jauh tinggi'! Masak diulang!? Nggak kreatip! Huh!
Satu lagi, yang bener itu 'terbang dan menari' atau 'terbang dan melayang' sih? Menurut saya sih, melayang. Kan lebih cocok gituh disandingin sama 'terbang'. Iya, kan? Kan, kan, kan? (Walau kebenarannya agak meragukan, mengingat saya nggak TK).
(Dan baru aja saya googling, sayang nggak dapet situs yang meyakinkan. Ada yang bisa bantu soal lirik lagu ini!? Pliiisss..)
Coba tanya saya soal hal-hal aneh di Belanda. Pasti saya bisa kasih banyak contoh. Mulai dari cara nyuci piring orang Belanda yang bikin saya mengerutkan alis, sampai gaya supir bus Connexxion yang hobi banting stir di tikungan -- mirip abang-abang Patas 82.
Tapi, dari semua keanehan di negeri berangin ini, cuma satu yang bisa bikin saya kembang-kempis-muka-merah: Tes rutin TBC. Jadi ceritanya, semua imigran dari luar Eropa yang baru datang ke Belanda wajib ikut tes TBC. Tes rutin ini dilakukan tiap enam bulan sekali selama satu setengah tahun pertama. Jadi, total jendral, ada tiga rontgen TBC yang harus dilalui.
Dan, sumpah, saya sebeeel banget kalo jadwal rontgen sudah di depan mata. Bukan apa-apa, sebenarnya di-rontgen seminggu sekali juga saya rela, cumaaa masalahnyaaaa... tiap kali rontgen TBC, saya harus TELANJANG DADA! Iyaaa!!! SERIUSAN!! TELANJANG DADA!!!
General Check-up di Jakarta. Jangan harap 'kostum' macam ini bisa Anda dapatkan di Belanda.
Satu setengah tahun lalu, pertama kali menginjakkan kaki di GGD (Gemeentelijk gezondheidsdienst, semacam puskesmas) Leiden untuk tes TBC, saya digiring ke 'ruang buka baju' yang terletak di sebelah ruang foto rontgen. Di sana, sama sekali tak saya temukan kain biru penutup dada yang biasanya dipakai pasien di Rumah Sakit. Bingung, saya lalu bertanya pada ibu petugas, "Bu, kok nggak ada kain penutup, ya?!" Jawaban si ibu: "Memang apa yang harus ditutupi?"
*langsungpucatpasi* Akhirnya, dua sesi tes TBC saya lewati sambil memamerkan dada di depan ibu petugas foto rontgen di GGD Leiden.
*****
Minggu lalu, surat terkutuk dari GGD datang lagi. Memberitakan jadwal foto rontgen selanjutnya: hari ini. Dan, pagi ini, sepanjang jalan menuju GGD, saya sudah 'sorak-sorak bergembira'. Ini tes TBC terakhir saya! Yeah! Setelah hari ini, saya tak perlu lagi memamerkan buah dada setiap enam bulan sekali di depan ibu petugas berwajah asem (Mungkin gara-gara kebanyakan liat dada sesama perempuan kali, ya!?). Nyatanya, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Telanjang-telanjang dahulu, tetap telanjang kemudian. *apa, sih!?* Saya ulang: nyatanya, wahai saudaraku!! Ibu petugas yang hobi cemberut itu hari ini absen. Sedang sakit (keracunan akibat terlalu banyak mengkonsumsi dada perempuan, mungkin!?). Dan, yang menggantikannya adalaaaahhhh... lelaki klimis berusia tiga puluhan. Aaahhhh, Ayam Kecap!!! Saya tiba-tiba merindukan si ibu foto rontgen. Sumpah, saya mendingan disuruh pulang ke Jakarta, trus makan nasi padang pake ikan kakap sampe kenyang, daripada disuruh telanjang dada di depan lelaki muda yang lumayan ganteng itu. Aaaarrrggghhh!!!
Namun, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Saya sudah terlanjur duduk di ruang tunggu GGD, dan nggak mungkin tiba-tiba ngebatalin foto rontgen dengan alasan, "Hmmm, bisa ditunda nggak, Mas? Saya mau operasi payudara dulu." Dengan dada berdebar, lutut lemas, dan wajah pucat pasi, saya melucuti diri. Lalu keluar dari ruang ganti, berjalan ke arah mesin foto rontgen. Telanjang dada. Di depan lelaki muda yang sama sekali asing.
Lima menit kemudian, saya sudah berada di jalan pulang. Tentu saja tak lagi telanjang dada -- jangan ngarep, deh. Hehehe.... Masih dalam keadaan 'shock', saya menelepon Ibu. Menceritakan semuanya.
Di seberang sana, Ibu tenang-tenang saja. "Ahh, nggak papa. Tuh laki-laki dokter, kan?" "Duuh, tapi kan tetep ajaa... malu," kilah saya. Dan ibu saya yang metal itu kembali beraksi, "Ah, kamu! Gitu aja ribut! Nggak papa, itung-itung latian. Ntar juga kalo udah punya suami, kamu telanjang-telanjang juga."
Saya histeris. Permisi, saya mau pingsan dulu.
Salah satu pertanyaan terbesar dalam hidup saya adalah: kenapa, sih, ibu saya nggak se-'normal' ibu-ibu lainnya? Duh, seriusan, deh, ibu saya itu uniknya pol. Kelakuannya macam ABG yang baru masuk SMU.
Coba aja, bayangin....
Siang ini saya tiba-tiba rindu rumah. Dengan suasana hati melankolis dan perut lapar, saya meng-SMS Ibu. Sekadar bertanya, apakah semuanya baik-baik saja.
Tak sampai lima menit, ponsel saya bergetar. Balasan dari Ibu. Dan, tahukah Anda, kalimat macam apa yang terbaca di SMS Ibu?
"Ya iyalaahh, masak ya iya doong. Duren aja dibelah, bukan digendong. Hehe.. ailopyu, Cantik."
Coba, bayangkaaaaannn! COBAAAA!!! Pertanyaan sakral saya dijawab ala Tika Project Pop -- dimodifikasi pula kalimatnya!
Kerinduan saya dibalas dengan ke-'metal'-an ala AGATA.*
Ah, saya frustasi. Yuk, ah.. mau cari duren** dulu! Hehehehehe....
Bintang-bintang kaki: *AGATA: Anak Gaul Jakarta dong, ah! **kalo DUREN yang ini maksudnya 'duda keren' -- tapi kalo ada yang bujangan, ngapain juga nyari duda, ya!?
Dan lihatlah apa yang baru saja saya temukan di balik bantal:
Ah, sepertinya saya akan tidur nyenyak malam ini.
PS: Lieverd, dankjewel.. heel lief van jou. Kom nog even snel terug!
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya bukan orang yang menggilai kompetisi. Kompetisi, seperti layaknya Seleksi Alam, tentu saja diperlukan untuk menjauhkan manusia dari keberhentian. Kemonotonan. Ketidakberkembangan. Ketidakberjagaan. Kompetisi seolah menyuntikkan adrenalin ke hidup para pesertanya. Membuat mereka berenergi. Bersemangat. Berhasrat. Bahkan mungkin bertujuan.
Ah, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin juga saya menyukai kompetisi. Label ‘kalah’ atau ‘menang’-lah yang tak pernah saya permasalahkan. Tak pernah saya pedulikan. Bahkan cenderung luput dari perhatian. Bagi saya, yang penting semua orang bahagia. Dan saya tahu, saya sudah bahagia ketika berkompetisi. Saya bahagia karena telah ikut serta. Saya bahagia tanpa harus menang.
Namun kompetisi kali ini terasa agak berbeda. Pertarungan yang biasanya saya lewati dengan semangat ‘nothing to lose, just do your best and don’t worry about the rest’(iya, slogannya memang panjang ) tiba-tiba jadi ajang super menegangkan. Dan satu-satunya penyebab adalah karena saya ingin menang. Karena saya ingin memiliki hal yang diperebutkan.
Dan seolah ketegangan itu belum cukup, Semesta sempat-sempatnya mencandai saya dengan lelucon tidak lucu — atau mungkin malah sangat lucu, sampai-sampai saya sama sekali tidak menangkap humornya. Tepat ketika saya seharusnya merasa lega karena telah melakukan usaha terbaik dan bisa meninggalkan medan perang dengan hati damai tanpa beban tambahan, Semesta membukakan saya sebuah kartu rahasia: secara tidak sengaja saya mengetahui siapa ‘musuh’ tunggal nan misterius dalam pertarungan kali ini.
Hal ini tentu saja tidak akan jadi tragedi, jika saya tidak mengenal nama itu. Nyatanya, namanya akrab di telinga. Dan saya bisa dibilang kenal baik dengan si empunya nama. Hal ini mungkin juga tidak akan jadi tragedi, jika saya tidak menyukai si lawan. Nyatanya, ‘musuh’ saya ini baik hati sekali. Dan saya bisa dibilang menyayanginya layaknya saudara sendiri.
Begitulah, kompetisi kali ini jadi terasa agak berbeda. Sampai sekarang, pemenang belum ditentukan. Keputusan belum diperdengarkan. Dan bukan lagi harap-harap cemas, saya sudah sampai pada tahap deg-deg-an setengah mati. Ajang super menegangkan ini naik derajat menjadi super duper menegangkan.
Dan ketika saya mengisahkan hal ini kepada seorang teman baik — setelah sebelumnya membagi (atau melimpahkan? ) ketegangan pada Mr. Dutchie — sang teman membalas dengan cekikikan panjang dan pertanyaan mengerikan: so, how good is she?
“Well, she’s good,” jawab saya sungguh-sungguh.
Sang teman menarik napas panjang, lalu meluncurkan sebuah kalimat ajaib dari bibirnya: “Darling, she may be good, but you are FEBAlous.”
Dan saya yang cengeng ini langsung meleleh mendengar komentar hiperbolisnya.
Ah, ah.. Saya tahu, saya sama sekali tidak fabulous (mungkin hanya sedikit FEBAlous. Hahaha ). Namun setidaknya saya yakin, bagaimana pun akhir kisah ini, apa pun yang terjadi, semuanya pasti akan baik-baik saja. Dan saya akan tetap bahagia.
PS: terima kasih atas ‘puja-puji’-mu, Kawan. Sayangnya, saya tahu kamu gombal.
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan