|
| Saturday, December 30, 2006 |
| New Year = New Beginning |
Happy New Job!
Tahun baru. Awal baru.
Itu yang akan saya hadapi bulan Januari nanti. Dua hari lagi.
Tahun Baru = Awal Baru = Pekerjaan Baru.
Akhirnya, setelah hampir satu setengah tahun tanpa komitmen, bekerja paruh waktu di sana-sini, melompat dari satu tempat ke tempat lain, saya memutuskan untuk mulai mencoba bekerja penuh waktu. Akan berat, saya tahu. Rutinitas-tanpa-rutinitas saya akan berubah jadi sesuatu yang benar-benar teratur (sebuah kata yang hampir tidak tercatat dalam kamus hidup saya). Hidup saya mungkin akan jadi membosankan. Sesi-sesi panjang percakapan sunyi mungkin akan berganti dengkur yang tak kalah panjang. Semalaman bekerja di depan komputer mungkin masih akan saya alami, hanya saja, keesokan harinya saya pasti tidak lagi bisa bangun siang. Tidak ada lagi menonton-Oprah-sebelum-pergi-entah-ke-mana-tergantung-harus-ke-mana-hari-ini. Tidak akan bisa lagi tiba-tiba nongol di kantor Rika, atau kantor Tasha (yaah, Tasha-nya juga pindah ke Papua, sih!), atau kantor pacar, atau di The Jakarta Post, BBJ, Percetakan Gramed, dan selusin tempat lain yang biasa saya satronin ketika “kebetulan-lewat-daerah-sini-jadi-sekalian-mampir.” Teman-teman yang menelepon saya tidak akan lagi bertanya, “Lo lagi di mana hari ini?”—mereka juga tidak akan lagi bisa seenaknya bilang, “Ngapain lo hari ini? Main yuk!”
Ah, banyak hal akan berubah. Tapi mungkin memang sudah waktunya. Saya harus belajar berkomitmen. Kalau sebelumnya saya memilih untuk jadi freelancer, sembari ‘mencari tahu hidup macam apa yang saya cari,’ seharusnya waktu satu setengah tahun sudah menjawab pertanyaan itu. Harusnya proses pencarian saya sudah membuahkan hasil. Tapi, begitulah, seperti pencarian absurd lain dalam hidup, pencarian yang satu ini belum juga berujung.
Banyak hal akan berubah. Banyak hal belum terjawab. Toh, realitas tidak mau menunggu. Saya harus terjun ke dalamnya. Just wish me luck.
Ngomong-ngomong,
Hapi Nu Year!!!
Hehehe…
TRIVIA: Kalo disuruh milih, mendingan mana: jadi reporter harian ekonomi atau editor penerbit buku terjemahan? hehehe.... |
cerita gadisbintang @ 12:19:00 PM   |
|
|
|
| Thursday, December 28, 2006 |
| Salah Sebut a la Ibu |
Ibu sulit menghafal nama. Atau suka salah menyebutkan sesuatu yang agak asing di telinganya. Hal ini terkadang menimbulkan salah paham, yang lebih sering berakhir dengan tawa. Pernah, saya bertemu seorang teman lama di angkot. Setelah ngobrol-ke-sana-kemari-basa-basi-tanya-kabar, ia bertanya soal kuliah saya. Kebetulan, waktu itu saya baru lulus kuliah. Anehnya, ia mengerutkan kening ketika saya bilang, saya lulusan sastra. “Kenapa?” tanya saya, agak defensif. Maklum, sebagai anak sastra saya sudah kenyang dengan pandangan-pandangan ‘melecehkan.’ “Kok bisa?” teman saya melanjutkan, “soalnya minggu kemaren gue ketemu nyokap lo, pas gue tanya soal lo, nyokap lo bilang, lo freelance jadi auditor. Waktu itu nyokap lo gak bilang sih, lo kuliah di mana. Tapi, kok bisa anak sastra jadi auditor?” Saya mati-matian menahan tawa. Berbekal ilmu teater yang tak seberapa, saya pandang teman saya dengan serius, “Lo kali yang salah denger. Gue bukan jadi auditor, tapi editor.” “Masak sih, gue salah denger?” ia terlihat tak yakin. “Ya iyalah, masak nyokap gue kagak tau anaknya kerja jadi apa,” imbuh saya lagi. “Hmm, nyokap lo masih ngajar?” ia membelokkan percakapan. Hihihi… Sampai di rumah, inilah yang terjadi: Saya: Bu, Ibu pernah ketemu Denny ya? Ibu: Denny siapa? Saya: Itu, bla..bla..bla… [Saya harus menjelaskan panjang lebar agar Ibu sukarela me-recall memorinya. Setelah berhasil, saya langsung masuk ke poin] Saya: Masak, katanya, Ibu bilang ke dia kalo Feba jadi auditor? Ibu: Loh, emang kamu jadi auditor, kan? Saya: Bukan auditor, Ibuuu.... Editor. Kan beda. Ibu: [Setelah berpikir beberapa detik] Oh iya, ya... kalo auditor kan yang meriksa-meriksa catetan uang itu kan?! [Cekikikan] Atau beberapa minggu yang lalu, misalnya, ia sudah berusaha membangunkan saya dari jam lima pagi. Kesal karena saya tidak juga bangun sampai jam enam, ia berusaha menarik perhatian saya dengan berita selebritis di salah satu acara gosip yang jam tayangnya menyaingi siraman rohani dan kuliah subuh. Ibu: [Teriak dari ruang TV] Nduuuk, bangun. Tuh di tipi ada artis yang meninggal. Saya: [Malas-malasan. Mata masih berat, hasil begadang semalaman. Akhirnya berteriak] Siapa siihhhh?? Bapak: [Tak kalah kencang dari tempatnya melukis] Pagi-pagi jangan pada teriak-teriak. [Saya cekikikan. Tiba-tiba Ibu sudah muncul di pintu kamar saya.] Ibu: Yuk, bangun, yuk. Saya: Siapa sih, Bu, yang meninggal? Ibu: Ituu, si Olga.. Olga itu. Saya: Hah, Olga Lydia? [Heran, masak sih?! Kayaknya saya baru nonton dia di News dot Com dua hari sebelumnya] Ibu: Bukan, bukan Olga Lydia. Dia mah masih dipenjara. Saya: Ibuuuu... yang dipenjara itu Lydia Pratiwi, bukan Olga Lydia. [Setengah tertawa. ‘Penyakit’ Ibu kambuh lagi.]
[Akhirnya, saya harus menyerah. Bukan karena tertarik gosip. Tapi karena harum nasi goreng menggelitik hidung saya. Sempoyongan, saya berjalan ke depan TV.] TV: Artis muda, Alda Risma meninggal tadi malam di Rumah Sakit…. Saya: [Cekikikan—maaf, Alda!] Ibuuuu…, yang meninggal bukan Olga Lydia, bukan Lydia Pratiwi juga. Tapiii.. Alda Rismaa… yang nyanyi Aku Tak Biasa itu.. Ibu: [Muka polos. Tanpa rasa bersalah] Iya, yang putih, cantik, itu kan? [Huuh, kalo ngomongin cantik & putih, mah, hampir semua selebritis perempuan ciri-cirinya begitu. Lagian nyasarnya jauh banget. Alda, kok, jadi Olga.] Ibu: Kasian ya, masih muda gitu. [Saya cuma ngangguk-ngangguk. Insiden pagi itu bikin saya tambah lapar.] Ah, Ibu memang unik. Dan unik itu indah, bukan? |
cerita gadisbintang @ 3:03:00 PM   |
|
|
|
| Friday, December 22, 2006 |
| Selamat Hari Ibu! |
Selamat Hari Ibu!!!
Selamat Hari Ibu untuk Ibu saya tercinta.
Ibu yang lucu, yang tegar, yang unik.
Ibu yang penuh energi.
Ibu yang optimis. Kuat. dan... Positif!
(ya, rasanya kata itu tepat untuk menggambarkan Ibu, perempuan menakjubkan yang (nyaris) sempurna.)
Selamat Hari Ibu untuk semua ibu di alam semesta.
Juga, Selamat Hari Ibu untuk semua calon ibu.
Selamat Hari Ibu untuk semua perempuan.
Selamat Hari Perempuan!
perempuan tiga generasi ^_^
|
cerita gadisbintang @ 2:24:00 PM   |
|
|
|
| Tuesday, December 19, 2006 |
| First Love Never Dies |
Sejauh apakah cinta pertama bisa membawa kita?
Sangat jauh, saya rasa. Itu yang saya alami.
Saya ingat, Ayah saya membelikan sebuah buku antologi puisi ketika usia saya belum menginjak lima tahun. Mata Pisau judulnya. Untungnya, saya sudah lancar membaca…, dan jatuh cintalah saya kepada Sapardi Djoko Damono, sang penulis. Kepada puisi-puisinya. Kepada kesederhanaan kata yang dipilihnya. Sejak itu, mulailah saya mencoba mengeja makna di balik puisi. Terbata-bata.
Saya juga tidak lupa, saya sampai harus memperhatikan baik-baik bayangan saya tiap kali berjalan kaki menuju sekolah, hanya karena Sapardi bilang bahwa ia dan bayang-bayangnya tidak pernah bertengkar siapa yang harus berjalan di depan. Saya pun tidak. Karena Sapardi pulalah saya mulai berani menangkap dan memenjarakan inspirasi di atas kertas. Padahal, biasanya saya hanya membiarkan mereka menggoda saya. Berlarian di sekeliling saya. Membuat saya sesak. Memang, tak selalu saya berhasil ‘menghukum’ inspirasi yang lewat tanpa permisi. Kadang saya tak bisa menuliskan apa pun, karena seolah-olah semua rasa telah diserap dan dituangkan Sapardi dalam puisi-puisi indahnya. Ia pencuri kata-kata. Pelukis imaji yang ulung. Saya jatuh cinta kepada Sapardi. Kepada puisi. Di usia lima tahun, saya telah memutuskan untuk mempelajari sastra. Ketika akhirnya saya berada di fakultas sastra, saya tahu, Sang Cinta Pertama saya masih mengajar mata kuliah Puisi di Jurusan Sastra Indonesia. Susah payah saya berusaha mencocokkan jadwal kuliah untuk menjadi mahasiswa pendengar di kelasnya. Sia-sia. Tidak berhasil. Jadwalnya selalu bentrok dengan mata kuliah wajib Jurusan saya. Pun, ketika beberapa kali berpapasan dengannya, atau sekadar melihat sosoknya melintasi koridor, saya tidak pernah punya nyali untuk mengucapkan salam—apalagi minta tanda tangan dan ‘menyatakan cinta.’ Padahal, buku antologi puisi dan cerpennya selalu setia mendekam di tas saya hingga lusuh, menunggu disentuh Sang Penulis. Empat tahun di fakultas itu, saya hanya sanggup memandangnya dari jauh, sembari menyimpan deg-degan dan sederet kekaguman dalam-dalam. Bodoh memang. Tapi toh cinta tak ada hubungannya dengan kecerdasan. Sampai sekarang, tak ada satu puisi pun yang bisa menyentuh saya lebih dari puisi milik Sapardi. Ia inspirasi saya. Teman baik saya melewati malam-malam panjang tanpa terpejam. Ia telah menuntun saya ke sebuah setapak panjang. Jadi, kalau ada ungkapan First Love Never Dies, rasanya saya setuju. |
cerita gadisbintang @ 6:05:00 PM   |
|
|
|
| Tuesday, December 12, 2006 |
| Happy Birthday, Mom…. |
“Selamat Ulang Tahuunn, Ibuuu…,” seru saya pagi ini, sambil memeluk dan mencium Ibu saya. Hari ini Ibu ulangtahun. Kira-kira yang ke-48. Kenapa kira-kira? Karena tak ada yang tahu pasti tahun berapa Ibu lahir. (Hihihi.. kok segitunya?!) Ibu lahir di sebuah desa kecil di Banjarnegara, Jawa Tengah. Yang ia tahu dari orangtuanya, ia lahir pada bulan Puasa. Kolom tanggal lahir di ijazah SD-nya pun kosong. Berbekal kreativitas dan hitung-hitungan yang diusahakan secermat mungkin, jadilah ia menentukan sendiri tanggal lahirnya ketika mendaftar SMP. 12-12-1958. Beres. Saya heran, mengapa Ibu begitu yakin menentukan tanggal lahirnya. Ibu bilang, dihitung saja, waktu ia lulus SD—tahun 1970—kira-kira ia berumur 12 tahun. Jadi, kemungkinan besar ia lahir tahun 1958. kenapa bulan Desember? Ternyata ia juga telah menghitung, bulan Puasa pada tahun 1955-1960 biasanya jatuh di bulan Desember. Yang ia tentukan dengan merdeka hanya tanggalnya: 12. Biar jadi nomor cantik, katanya suatu hari. Menanggapi latar belakang penentuan tanggal lahir Ibu, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Takjub. Rasanya saya tak akan sanggup membuat keputusan semacam itu. Hari ini Ibu ulangtahun. Saya sengaja tidak pergi ke mana pun, biar tak ketinggalan berita. Soalnya hidup Ibu dinamis sekali. Kalau saya tinggal sebentar, bisa-bisa ketika saya pulang, Ibu malah tak ada di rumah. Jadi saya putuskan untuk mengamati hari ulangtahun Ibu dari dekat. Ibu ulangtahun, dan sampai sekarang saya belum memberinya kado. Saya tahu, itu tak masalah. Ia tak pernah mengharapkan kado. Bahkan, sebenarnya, konsep merayakan ulangtahun juga tak ada dalam hidupnya. Kami—anak-anaknya—lah yang memperkenalkan ‘budaya’ itu. Tadinya, saya ingin membelikannya cake, saya bahkan sudah meminta adik saya mengantar saya ke toko kue selepas maghrib. Jam segitu, biasanya kue-kue baru matang di toko kue dekat rumah saya. Biar kuenya fresh from the oven, begitu niat saya. Sayang, saya keduluan. Jam lima sore, Ibu pulang dari sekolah. Oh iya, Ibu saya seorang guru SD. Guru Mata Pelajaran Agama Islam. Hihihi… (Awas, jangan pernah kaitkan profesi Ibu dengan perilaku saya, setuju?! >_<) Ia membawa sekotak cake yang tampak yummy. Di belakangnya, Ayah saya—yang memang selalu-setia-dan-siap-siaga mengantar-jemput Ibu—tak kalah sibuk menjinjing sekeranjang buah-buahan yang dihias kertas krep warnawarni dan dibungkus plastik tembus pandang yang tak kalah meriahnya. Persis parsel lebaran. Ternyata oh, ternyata…. Ibu mendapat surprise party dari murid-muridnya. Tadi sore, Ibu mendapat giliran untuk mengajar kelas VI, tepat selepas istirahat sholat Ashar. Di koridor sekolah, ketika sedang menuju kelas VI, Ibu ‘dihadang’ beberapa murid kelas VI. Mereka melarang Ibu masuk ke kelas. Ibu, yang penasaran, justru langsung bergegas ke ruang kelas. Ketika ia membuka pintu, ruang kelas sudah dihias balon dan kertas krep warnawarni, persis dekorasi ulangtahun balita. Di tengah ruangan, terdapat sebuah cake dengan angka 48 di atasnya. Di sudut ruangan, berjejer gelas-gelas air mineral, parsel buah, dan kue bolu. Beberapa anak masih mengatur letak meja dan kursi mereka—mungkin itu alasan mengapa Ibu belum boleh masuk. Akhirnya, di ruang kelas yang masih—sedikit—berantakan, mereka menyanyikan Selamat Ulangtahun dan menyalami Ibu satu per satu. Uuh, so sweet. ^_^ Jadilah mata pelajaran Agama Islam sore tadi digantikan acara makan-kue-dan-minum-aqua. Usut punya usut, ternyata mereka menghias ruang kelas ketika istirahat sholat Ashar. Soal sumber dana, masih belum jelas. Kemungkinan besar mereka patungan. “Jadi cake ini dari anak-anak?” tanya saya ketika Ibu menyudahi ceritanya. “Bukan, ini mah dari temen-temen Ibu,” jawabnya. Beda lagi, toh?! “Kalo parsel ini?” selidik Adik saya. “Nah, itu dari anak-anak.” Ulangtahun Ibu membuat saya tersadar, bukan cuma kami—keluarganya—yang mencintainya. Bahkan, terkadang, mereka lebih piawai menunjukkan cinta pada Ibu. “Uh, padahal kan Feba mau beliin kue buat kado Ibu. Udah keduluan deh,” kata saya dengan tampang memelas. “Ah, Ibu nggak perlu kado kok,” jawabnya sambil tersenyum dan mencium pipi saya. Ah..., ah.... Ibu saya dicintai. Dan ia memang pantas dicintai. Selamat Ulangtahun, Ibu. |
cerita gadisbintang @ 2:14:00 PM   |
|
|
|
| Sunday, December 10, 2006 |
| Finally, Fly Me to the Stars! |
Akhirnya, duduk juga saya di sini. Di kursi komputer yang sangat tidak memenuhi syarat ergonomi. ^_^ Lalu berpikir-pikir, apa yang harus ditulis di blog ini untuk pertama kalinya. There’ll always be a first time for everything, and sometimes it’s just hard…. (Tapi mengingat ancaman kejam Mbak Yaya—"ayo posting, otherwise aku bakal acak-acak blog ini"—huuuhh, ngeri juga! Segala pake tenggat waktu lagi! Mentang-mentang dia yang ‘membidani’ malamberbintang. Btw, Mbak… makasiiiihhh bangeeettt yaaa.. ailopit, ailopyu tu! Hehehe..) Jadi tengah malam ini, diiringi Moon River yang melenakan, saya memaksakan diri untuk menulis. (So, what should I write? A welcome note, maybe!?) Selamat datang, kalau begitu. Selamat menjejaki gelisah saya: pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, percakapan-percakapan tak berujung, pencarian-pencarian yang belum juga usai. Selamat datang di semesta kecil saya. Tempat saya menuangkan hidup. Dan hidup, sekali lagi, adalah sebuah puzzle raksasa yang baru benar-benar bisa dipahami setelah kepingannya terkumpul satu demi satu. Jadi, biarkanlah saya mengumpulkan hari demi hari di sini. Mengumpulkan kepingan-kepingan yang perlu disatukan… (Halaahhh… Dramatis abis! Hehehe..) ^_^ Enjoy! |
cerita gadisbintang @ 5:51:00 PM   |
|
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|