..Malam Berbintang..










Kerlip Sapa
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Kerlap-Kerlip
Semesta Lain
Serpihan Diri
Friday, January 19, 2007
Causa Prima Si Sandal Jepit

Pernah nyeker? Saya pernah. Semalam. Gara-gara Rika.

***

Kemarin sore, tiba-tiba saya berniat mengambil tiket TeKom, yang sudah sejak dua hari sebelumnya saya pesan, di TIM. Malas pergi sendiri, saya lalu menelepon si sahabat-sejiwa-teman-seperjuangan-tiap-kali-luntang-lantung-nggak-jelas. The one and only: Rika. Ketika saya telepon, dia sedang beredar di Sawo—saya sendiri sudah siap tempur di stasiun Pasar Minggu. Rika langsung bilang, “Iya deh, gue temenin,” padahal saya belum ngajak dia.

Dari awal, seharusnya saya sudah ‘ngeh kalau perjalanan ini bakal jadi another weird trip—sayang, saya suka lalai memerhatikan tanda-tanda alam. >_<

Rika langsung mengajukan usul bodoh, yang dengan bodoh pula langsung saya setujui. “Gue naek kereta dari kampus, kalo kereta gue nyampe Pasar Minggu, lo naek—trus cari gue di dalem.”

Ada yang lebih bodoh-kah?

Ada: saya, karena menyetujuinya.

Beberapa puluh menit kemudian, Rika telepon lagi.

Kereta gue udah nyampe Tanjung Barat. Bentar lagi nyampe. Lo naek ya!”

Kali ini, saya pikir semua akan beres. Ide bodoh akan berakhir cemerlang.

Tak lama, kereta datang. Naiklah saya ke dalam, langsung menyisir seisi semestanya. Depan ke belakang. Belakang ke depan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Cukup. Orang-orang mulai nyadar kalau saya bolak-balik dari tadi. Mungkin mereka menyangka saya kebelet dan lagi nyari toilet. Gawat. Kenapa Rika tak terlihat? Harusnya dia lebih mudah dicari ketimbang toilet KRL.

Ponsel berdering lagi.

“Lo di mana?”

“Yee, elo yang di mana? Gue udah nyari dari tadi. Kok lo nggak ada?”

Jangan-jangan kereta kita beda?”

Nah, itu yang dari tadi saya pertanyakan.

Ternyata, firasat saya benar. Kereta Rika masih di belakang saya. Tertinggal dua stasiun. Ya, sudahlah.... Kebodohan pertama sudah terjadi. Saya buru-buru duduk, si om berkumis tebal di pojok sudah mulai mengamati saya. Hiiyyy....

***

Itu baru Pendahuluan.

(Waktu jaman kuliah dulu, kami menyebutnya inleiding—oh..., oh..., jurusanku tercinta!).

Sampai situ, saya belum nyeker.

Ini kisah nyeker yang sesungguhnya:

Setelah akhirnya ‘bersatu kembali’ dan menertawakan kebodohan tadi—plus mengambil tiket—kami bergegas pulang. Naik kereta lagi. Kali ini berdua, dari stasiun yang sama. Ternyata, berdua di kereta tidak menjamin semuanya bakal lancar.

Sudah jam sembilan lewat. Kereta penuh banget. Sama sekali tak ada jarak. Keluarga ikan yang sedang dalam proses pengasapan, atau kawanan sate yang sedang dipanggang, bahkan berjarak lebih renggang ketimbang penumpang kereta malam itu.

Saking sempitnya, sandal jepit saya terinjak seorang bapak di depan saya. Saya sudah beberapa kali bilang ke bapak itu, “Pak, maaf, kaki saya keinjek.” Tapi tuh bapak cuek aja. Mukanya tetap datar. Bereaksi pun tidak. Entah karena otot wajahnya kram. Atau karena mengidap penyakit bolot stadium akut.

Saya kesal. Akhirnya, dengan sok emosi—padahal saya setengah maklum, mungkin si bapak nggak bisa bergeser di tengah kepadatan telapak kaki—saya tarik kaki saya keras-keras.

Ups.

Kayaknya ada yang salah.

Benar, sandal jepit kiri saya putus dengan sangat sukses.

Rika nggak bisa berhenti cekikikan ketika tahu sandal saya putus sebelah.

Saya mengambil sandal jepit kiri saya. Susah, memang, tapi berhasil. Saya juga bingung, kalau dipikir sekarang, ngapain saya ambil sandal jepit putus itu. (Ah, waktu itu, saya cuma nggak rela aja kalau sandal saya tertinggal di gerbong kereta dan berakhir menyedihkan di suatu tempat di stasiun Bogor.)

Dengan khusuk, di tengah-tengah orang asing di KRL, saya mengamati sandal jepit yang gugur di tengah perjuangan hidup itu (halaahh….). Saya memang mendengar suara cekikikan di sekeliling saya, tapi bodo amat. Belum tentu juga saya yang diketawain. (Belakangan, saya tahu dari Rika, kalau mereka emang ngetawain saya. Kenapa saya nggak ‘ngeh, ya? Bahkan, menurut Rika, ada yang sempet bilang, “Kasian, tuh mbak-nya. Sendalnya mahal banget kali ya, ampe dipegangin gitu.”). Oh..., oh.... Sayangnya, nggak ada yang nanya langsung ke saya. Padahal kalau ada yang nanya, “Buat apa megang-megang sandal, Mbak?” Pasti saya jawab, “Buat nampar, mau coba?”

Singkat cerita, kereta sampai juga di stasiun UI. Masih memegang si Kiri, dan hanya memakai yang kanan, saya ikut berdesakan bersama penumpang yang mau turun. Tepat ketika saya melompat keluar, sandal kanan saya diinjak. Rika pelakunya.

Daannn….

Yaah, apa lagi yang bisa terjadi?! Tebakan Anda benar. Tepat. Seratus persen.

Dengan tak kalah sukses, si Kanan menyusul soulmate-nya: putus.

Si Kiri masih di tangan saya. Si Kanan terkulai di peron. Dan kaki saya telanjang bulat.

Cekikikan Rika pun berubah menjadi ngakak panjang tak berkesudahan. Mirip lolongan warewolf di bawah bulan purnama. Saya duduk di bangku stasiun, menghabiskan beberapa menit ngomel-ngomel nyalahin Rika. Rika nggak mau kalah. Dengan volume sama besar, dia menolak disalahkan. Jadilah kami berisik di dunia, yang kami pikir, milik kami.

Akhirnya, saya mengambil si Kanan. Menjajarkannya dengan si Kiri. Memandangi mereka dengan penuh kasih sayang. Di sebelah saya, Rika masih cekikikan. Nyebelin. Waktu itu, saya baru ‘ngeh kalau ternyata, tak jauh dari tempat kami duduk, kami berbagi dunia dengan seorang lelaki. Dia memperhatikan kami dengan ekspresi campur-aduk: nahan ketawa, kasihan, dan bingung (mungkin dia bingung ngeliat kami yang mirip pendekar siap perang, berbalas teriakan dan siap saling memangsa di peron stasiun yang sudah sepi). Pokoknya, kalau ekspresinya bisa diperas dan dibikin minuman, namanya bakal jadi mix-blended expressino.

Di sela-sela tawanya, Rika sempet-sempetnya bilang, “Kalau mau ketawa, ketawa aja, Mas. Dia udah biasa, kok, diketawain.”

What an effective invitation. Manjur. Si Mas langsung gabung sama Rika, memamerkan giginya yang tak seberapa itu.

Lanjut!

Niat membeli sandal baru langsung padam, warung sudah pada tutup. Oh iya…, saya baru nyadar, sudah hampir jam sepuluh.

Untung, si ide brilian datang.

Saya mengambil si Pasangan Malang, membungkus mereka dengan koran yang belum sempat saya baca, dan memasukkannya ke dalam tas.

Dasar pemikiran saya sederhana: hampir tak ada orang yang mau repot-repot meneliti kaki saya. Jadi kalau saya bersikap wajar, tidak terlihat menenteng sandal putus, mereka pasti nggak bakal melirik ke bawah dan nggak bakal tahu kalau saya nyeker. Masuk akal, kan?

Perjalanan pun dimulai. (Oh, iya…, malam itu saya memang mau nginep di kosan Rika). Warung-warung boleh tutup. Tapi, bagi banyak orang, jam sepuluh masih terlalu dini untuk meninggalkan Sawo dan sekitarnya. Semoga semuanya lancar, harap saya dalam hati.

Percaya atau tidak, ide brilian saya akan jadi sesuatu yang benar-benar brilian—kalau saja Rika tidak mengacaukannya.

Belokan pertama di Sawo, sama sekali tidak ada yang ‘ngeh kalau saya nyeker—bahkan gerombolan cowok yang lagi nongkrong di depan tukang DVD bajakan langganan saya.

Sayang, Rika lalu menemukan ide yang tak kalah brilian untuk mempermalukan saya.

Setelah belokan tadi, semua orang tahu kalau saya nyeker. Pasalnya, tiap kali berpapasan dengan makhluk apa pun, dia langsung ngoceh, “Lihat, deh, Mbak/Mas/Dik/Bang…, ada yang nyeker dari stasiun!”

Pernahkah saya bilang bahwa Rika sahabat saya? Kalau pernah, lupakan saja! Saya yakin, kalau waktu itu kami berpapasan dengan Pocong atau Kuntilanak, dia nggak bakal takut—dan bakal tetep bilang, “Mbak Kunti/Mas Pocong, lihat deh, dia nyeker loohh!”

Entah sudah berapa orang ikut cekikikan dan menikmati penderitaan saya. Sampai di Margonda, oh…, no! (biar dramatis gituh!) Masih rame banget! Celinguk kanan-kiri, warung-warung di situ juga sudah tutup. Tabahlah, Nak…, tinggal setengah perjuangan lagi.

Untung, Rika sudah nggak mempromosikan ‘ke-nyeker-an’ saya. Menyeberanglah kami. Di seberang, ada seseorang yang saya kenal. Dia menyapa, dan Rika beraksi kembali.

Si Kenalan: Dari mana, Fe?

Saya: Dari stasiun.

Nenek Sihir Bernama Rika: Iya, nyeker lagi!

Mata teman saya itu langsung menghujam sepasang kaki telanjang saya.

“Kok bisa?” tanyanya.

Daaaggg, sampai ketemuuuu....” saya langsung ngeloyor. Masak saya harus curhat soal tragedi-sandal-jepit saya, sih?!

Sepanjang Kober—ini nama jalan menuju kos Rika—saya tak peduli lagi. Rika masih cekikikan dan mengabarkan pada dunia kalau saya nyeker. Tapi saya sudah keburu larut dalam kenikmatan dan sensasi unik di telapak kaki saya.

Si Mas penjaga warnet langganan kami sempat bertanya, “Kok nyeker?”

“Iya, Mas.... Lagi refleksi,” jawab saya pendek.

“Biasa, Mas.... Terapi…, buat orang sakit jiwa,” sambung Rika.

Sampai di kamar Rika, saya kembali bersemangat menyalahkannya, “Lo sih, ngajak naek kereta. Nginjek kaki gue lagi!”

Rika, seperti biasa, masih tak mau kalah dan langsung menggelar kuliah panjang. “Pe, [sic!] segalanya tuh harus dicari Causa Prima-nya. Nah, Causa Prima dari semua ini adalah: lo ngajak gue ke TIM. Kalo lo nggak ngajak gue, mungkin lo nggak bakal pulang naek kereta. Dan gue nggak bakal nginjek sandal jepit butut lo.”

Terserahlah.

Sekarang, yang pasti, saya jadi tahu kalau aspal di Kober lebih hangat ketimbang di Margonda. Dan bebatuan di gang kosan Rika jauh lebih tajam daripada kerikil Sawo.

***

Ah....

Mungkin, kali ini Semesta hanya ingin saya menikmati tekstur hidup lewat telapak kaki saya. Menikmati bebatuan tajam dan halusnya aspal. Mungkin Semesta sedang meminta saya untuk belajar memilih setapak yang harus saya lalui. Berhati-hati. Agar tidak terluka, dan menangis—atau meringis—di tengah perjalanan. Lalu bersyukur. Karena, toh, hidup yang saya jalani rasanya tidak setajam yang harus dihadapi sandal jepit saya.

***

Epilog:
Sebelum tidur, Rika bilang, “We will remember this.”—teteeuup sambil cekikikan. Yes, Rika. That’s why I write it down—so that we can memorize this moment.





*inasweetmemoryofmybelovedjepitcouple*

cerita gadisbintang @ 3:18:00 PM   3 comments
Wednesday, January 17, 2007
Superman’s Birthday!

Hari ini giliran adik saya yang ulangtahun. Lahir tahun 1988, berarti ia sekarang sudah 19 tahun. Did I say 19? Oh, benarkah? Kalau begitu, ia sudah dewasa, dong!?

*mengingatingatsepertiapasayaketikaberusia19tahun*

Iya, benar. Sudah ‘tua.’ Sudah besar, kalau tidak bisa dibilang dewasa.

Ah, padahal di mata saya, ia masih bocah empat tahun yang menggemaskan.

Bocah yang selalu mengikuti ke mana pun saya pergi. Waktu itu, saya sebel banget, masak mau main diikuti melulu. Saya kan butuh privasi. Hehehe.... Saya ke sawah, ia ikut. Saya nyari ikan, ia turut. Saya manjat pohon jambu, ia menunggu di bawah—ia masih terlalu kecil untuk ikut memanjat. Paling-paling ia duduk di bawah pohon, menanti jambu-jambu yang saya lemparkan dari atas. Ia teman saya membolos Madrasah atau TPA (kami tiga kali pindah ‘sekolah ngaji’—entah kenapa). Teman main gundu, main gambaran, main karet (pernah main karet pakai ikatpinggang—coba, ke mana otak kami waktu itu?—hasilnya: kaki saya tersangkut dan dagu saya sobek, masih berbekas sampai sekarang). Teman ngobrol kalau ditinggal berdua di rumah.

ini tampangnya waktu masih polos. ada yang mau bantu retouch? hehehe....

Selain menggemaskan, ia juga badung. Kerjaannya tak lain dan tak bukan adalah jatuh, mengumpulkan luka di sekujur tubuh (yang ini saya juga koleksi), dan kejedot. Serius, dalam seminggu, bisa dua-tiga kali (dua sampai tiga kali, maksudnya, bukan dua puluh tiga kali) kepalanya terbentur. Penyebabnya macam-macam. Yang normal: ia bergulat dengan temannya, lalu jatuh membentur lantai sampai benjol gede banget. Yang aneh: ia menyeberang jalan, lalu tertabrak gerobak tukang roti (sampai gerobaknya miring-miring dan tukang rotinya mau jatuh), lalu benjol tak kalah gede. Untungnya, semua benturan di kepala itu tak ada yang berakibat serius.

Sudah saya bilang kalau ia kadang nyebelin? Dulu, ia suka sekali nonton Takeshi Castle. Suatu hari, seperti biasa ia menunggu acara kesayangannya di depan TV. Sudah dua jam. Tapi sampai dua jam berikutnya, Takeshi Castle tidak juga diputar. Ternyata, acara itu sudah habis masa tayangnya. Anehnya, bukannya marah sama stasiun TV yang menghentikan acara itu, ia malah marah ke saya. Aneh, kan? Mana segala ngacak-ngacak ruang TV: kursi-kursi digulingkan, meja digeser, pokoknya dibuatnya ruangan itu mirip kapal pecah. Waktu ibu saya pulang dan bertanya apa yang terjadi, ia cuma menjawab, “Tau’ah gelap. Gara-gara Kakak tuh.” *maksudlooo???*

Ia unik. Saya tahu itu. Sejak dulu. Ia suka menciptakan lagu. Kapan pun. Dan ia hafal lagu-lagu yang telah diciptakannya. Biasanya, ia akan menyanyikan lagu-lagu itu ketika mandi. Kadang, kalau kami request, ia bersedia menyanyikan lagu-lagunya. Entah sekarang ia masih ingat atau tidak. Rasanya, tidak.

Ia punya kosakata pribadi yang sangat khas—dan salah. Parahnya, kalau kami coba membetulkan kesalahannya, ia kekeuh dan menjawab, “Bialin, semau Ade.” (Tuh, salah, kan?).

Ketoprak disebutnya Traktor (“Pak, beli telaktol!”);

Dibunuh berubah jadi Digunuh (“Iya, telus penjahatnya digunuh.”);

Akibat jadi Diakibatin (“Awas loh, ntal Ade akibatin.”—“Bandel sih, jadi diakibatinnya begitu.”—aneh, kan?)

Ide jadi akal (“Ade tau, Ade punya akal.”)

Banyak lagi, deh.

Kalau ia kesal, ia akan mendenda kami. Enam ribu. Selalu angka itu yang disebutnya. “Bodo, pokoknya Ibu halus bayal enem libu.” Selalu begitu.

Kalau ia malas menjawab, ia pasti bilang, “Au, makangkikus kali.” (Tau, dimakan tikus kali).

Jadi kalau kami bertanya:

Gode, palu Bapak di mana?”

“Deek, sepatu kamu yang satu lagi mana?”

“Liat tas Kakak nggak?”

Jawabnya teteeuup:

“Au, makangkikus kali,” tanpa mengalihkan perhatian sama sekali dari kegiatan yang sedang dilakukannya.

Ia bermimpi bisa terbang. Setelah merajuk dan mendapatkan baju Superman impiannya (itu lho, baju-baju bersayap yang dulu lagi tren), ia bertekad membuktikan ia bisa terbang. Ia loncat dari lantai atas rumah kami ke lantai bawah. Untung, waktu itu tingginya belum seperti sekarang. Dua meter setengah-lah (atau tiga meter, ya?). Untungnya lagi, sayap Supermannya, entah gimana, nyangkut—jadi ia harus bergantung di udara selama beberapa menit, sebelum ayah saya menyelamatkannya.

*anakyanganeh—sambilgelenggeleng*

Hari ini Superman itu sudah berusia 19 tahun. Ah, semoga saja, suatu hari nanti ia akan benar-benar bisa terbang tinggi, dan menyelamatkan dunia.

(Duh, saya mulai terdengar seperti ibu-ibu yang nggak rela anaknya tumbuh dewasa! Hehehe....)

Hapi Birthday, My Superman! Love you so....

cerita gadisbintang @ 3:19:00 PM   0 comments
Monday, January 15, 2007
Pertanyaannya: Apa?

Seumur hidup, saya pikir, saya akan jadi ‘perempuan pekerja.’ Workaholic. Menikah sedikit (atau sangat) terlambat karena sibuk ngurusin karir—dan tidak berminat untuk terikat. Bahkan mungkin tidak akan jadi contoh ibu yang baik karena lebih mencintai pekerjaan ketimbang anak. Dan, rasanya, sekeliling saya juga berpendapat sama. Salah satu sahabat saya, Ellisa, malah sudah meramal dari zaman kuliah tingkat dua kalau saya “bakal jadi wanita karir yang sok feminis dan nggak kawin-kawin karena jadi men hater.” Waktu itu saya cuma ngakak—kalo soal feminis dan men hater mah nggak perlu dikhawatirin. Kesimpulan itu muncul hanya karena ‘hobi’ saya membaca buku-buku teori feminisme (yang akhirnya berguna buat skripsi) dan kisah cinta saya yang berliku (halaaahh, sok berliku!). Tapi kalau soal ‘wanita karir,’ rasanya saya tidak menentangnya. Dulu.



Ya, dulu. Seumur hidup, saya pikir, saya akan jadi perempuan bekerja. Sampai beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba saya menyadari kalau saya ‘tidak terlalu bahagia’ ketika weker berbunyi. Mengingat harus kembali ke dunia nyata dan meninggalkan mimpi yang saya pahat di dinding-dinding kamar, malam sebelumnya.



Dan saya tidak meracau di sini hanya karena malas bangun pagi, atau sederet alasan manja lain. Sungguh, saya mencintai pekerjaan yang sedang saya jalani. Tapi, entah kenapa, tiap kali termenung sendiri di perjalanan pulang, saya selalu bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang saya lakukan. Apa yang sebenarnya saya cari. Karena, tetap saja, seperti ada yang ‘kosong.’ Sesuatu yang harus saya isi. Sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan. Atau pacar. Atau teman. Atau semua hal yang saya miliki. Ada sesuatu yang saya pertanyakan. Sesuatu yang saya cari.



Dan malam tadi, sepulang kantor, ketika turun dari bus, hujan deras tiba-tiba menyambut. Saya tidak tergesa (walau masih harus naik angkot dua kali lagi untuk sampai rumah). Saya cuma berjalan pelan. Menikmati guyuran air. Membiarkan hujan memandikan saya. Saya tidak peduli naskah-naskah yang saya bawa bisa basah. Saya tidak peduli orang-orang memandangi saya (sepertinya mereka khawatir saya linglung. Atau nyasar). Saya terus berjalan. Sangat pelan. Mirip adegan slow motion di film-film. Terus mempertanyakan. Terus melamun.



Entah kenapa, hujan malam tadi seperti katarsis buat saya. Tiba-tiba semuanya jadi jelas: saya tidak akan pernah jadi ‘wanita karir.’ Saya bahkan tidak peduli—dan tidak bermasalah—jika nanti saya ‘hanya’ akan jadi ibu rumah tangga. Yang saya peduli, dan saya inginkan, cuma satu: saya ingin benar-benar hidup.

cerita gadisbintang @ 3:08:00 PM   0 comments
Wednesday, January 10, 2007
Opium Yang Tak Kunjung Jadi Nyata

Pasti datangkah semua yang ditunggu?

Detik-detik berjajar pada mistar yang panjang....

(Buat Ning—Sapardi Djoko Damono)




Beberapa mimpi lahir tanpa pernah terwujud. Saya percaya itu. Beberapa mimpi kita ciptakan, hanya untuk jadi mimpi. Bukan kenyataan.

Buat saya, Sapardi—ingat cinta pertama saya?—adalah salah satunya. Betapapun saya punya kesempatan untuk menyapanya, ‘menyentuhnya,’ mengenalnya—dengan cara atau alasan apa pun yang bisa saya cari-cari—toh, tetap saja saya tidak melakukannya. Saya cuma diam. Jalan di tempat. Membiarkannya, mengutip perkataan Iwied, tetap terlihat utuh dari jauh—walaupun saya selalu berkata, saya ingin sekali menguliti dan menyusun kepingan-kepingan nyata dirinya.



Teater Koma adalah kasus yang sama. Sumpah, saya memuja Pasangan Riantiarno. Nano yang genius dan Ratna yang loyal. Seumur hidup saya berjanji, saya akan bergabung dengan Teater Koma. Jadi apalah. Kalau saya tidak cukup bagus jadi pemain, dan pastinya tak mampu jadi penyanyi di pementasan-pementasannya, saya rela ngurusin apa pun. Konsumsi, kek (saya janji nggak bakal ngabisin makanannya, seperti yang biasa saya lakukan ^_^). Publikasi, kek. Dokumentasi, kek. Apalah.



Teater Koma telah saya jajarkan di barisan mimpi, tepat di sebelah Sapardi.



Nyatanya, sampai sekarang, tak sekali pun saya berstatus anggota. Meskipun saya hafal betul letak rumah Riantiarno, jadwal mereka latihan, sampai sejarah terbentuknya Teater Koma. Gaya sih, boleh, sok-sok serius mau gabung. Segala nanya-nanya Wem, teman saya yang anggota beneran, soal segala macem. Tapi alasan tak kalah banyak, sibuklah, jadwalnya nggak cocoklah, inilah-itulah. Ahh….



Saya jadi teringat kisah Alkemis-nya Paulo Coelho.



Si bocah sedang dalam perjalanan mewujudkan mimpinya, pergi ke Piramida, ketika ia bertemu seorang pedagang kristal. Sejenak si bocah singgah di kota itu, bekerja untuk sang pedagang—mengumpulkan uang untuk membeli domba dan kembali melanjutkan perjalanan.
Si bocah bercerita pada sang pedagang tentang mimpinya, lelaki itu pun lalu memberitahu si bocah: ia juga punya impian. Pergi ke Mekah dan melaksanakan ibadah Haji. Si bocah bingung dan bertanya,



Kok Bapak tidak pergi ke Mekah sekarang?



Ia bertanya karena tahu, sang pedagang punya cukup uang untuk mewujudkan mimpinya. Dan jawaban sang pedagang sempat jadi perdebatan dalam diri saya:




Justru pikiran tentang Mekah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku tetap kuat menghadapi hari-hari kosong ini; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malam di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup.

(Sang Alkemis, hal.59--terbitan Alvabet, bukan yang versi Gramed)



Sang pedagang menolak mewujudkan mimpinya, karena ia hidup hanya untuk bermimpi, dan bukan untuk mewujudkan mimpi itu. Memiliki impian sudah cukup untuknya. Bahkan, hanya itu yang diperlukannya untuk melanjutkan hidup.



Benarkah? Benarkah impian bisa jadi hanya sekedar opium untuk mengebaskan realitas? Hanya jadi pelarian tak nyata, dan tumpuan maya, di tengah rutinitas membosankan? Opium. Pelarian. Utopia. Tak perlu jadi nyata. Hanya sebatas itu? Akankah kita kehilangan tujuan hidup ketika impian telah tercapai?


Entah. Toh, nyatanya, saya tak berbeda dengan sang penjual kristal. Mungkin saya akan tetap menempatkan Sapardi dan Teater Koma di kotak impian saya. Tanpa pernah mencoba mengeluarkan mereka dan menjadikan mereka bagian nyata dari hidup saya.


Mungkin sang penjual kristal benar, impian tentang Sapardi dan Teater Koma-lah yang membuat saya tahan menghadapi rutinitas membosankan, membuat saya merasa punya sesuatu untuk ditunggu—punya alasan untuk merasa hidup. Hanya dengan bermimpi. Tanpa harus mewujudkannya. Mereka-lah opium saya.



Beberapa mimpi dilahirkan tanpa harus diwujudkan. Akhirnya, saya harus percaya itu.


PS: Teater Koma mentas di GBB-TIM dari tanggal 12-28 Januari 2007. Kunjungan Cinta. Ada yang mau nonton bareng?

cerita gadisbintang @ 5:05:00 PM   0 comments
Monday, January 8, 2007
Mind the Brand, You Brand Minded!
(Peringatan: Saya hanya ingin meracau, jadi jangan berharap menemukan esai cerdas tentang kapitalisme di tulisan ini) ^_^
barang palsu? ^_^

Di Indonesia banyak banget barang palsu dijual. Semua orang juga tahu. Tapi, pernah nggak, merhatiin barang-barang tiruan itu? Ada yang dibuat benar-benar mirip aslinya, biasanya sih disebut 'second best'--halah, tiruan mah, tiruan aja. ^_^ Ada juga yang memang cuma dimirip-miripin. Bukan cuma barangnya, tapi juga merk-nya.

Saya pernah melihat tas dengan merk Esprite (tiruan Esprit yang kelebihan ‘e’), lalu Channel—dengan dua ‘n.’ (Kalau tidak salah sih, merk Chanel-nya Coco Chanel cuma pakai satu 'n'). Terakhir, di toko tas dekat rumah saya, ada yang merk-nya Kliping (bener loh, tiruan Kipling ya, kalau tidak salah). Saya sendiri punya jeans bermerk Vogve—dengan huruf ‘v’ kedua dibuat mirip ‘u’ (jadi, kalau dari jauh kelihatan seperti Vogue). ‘Kreatif’ banget. Saya baru menyadarinya ketika ada seorang teman yang bilang, “Tumben lo mau buang-buang uang buat beli merk.” Hihihi…, padahal, saya juga baru tahu kalau ada jeans bermerk Vogue dari teman saya itu. Yang saya tahu, Vogue cuma nama majalah. ^_^

vogve--nggak jauh beda sama Vogue! (tulisannya!)

Ada juga penjual makanan yang ‘menyamarkan’ produknya. Di dekat rumah saya, ada home industry yang memproduksi donat dengan merk Don King Donuts. Hihihi.. mungkin sebentar lagi bakal ada yang merk-nya Je.Co. ^_^ Di daerah Puncak—pasti pada tahu deh, pasti ke sana kan, tiap inisiasi?!—di sebelah kiri, kalau nggak salah pas keluar tol Ciawi (benarkah?!), ada penjual ayam goreng kakilima mengusung nama KFC—Kentucku Fried Chiken. Gerobaknya pun mirip KFC, bergaris merahputih. Entah Kentucku ada artinya, atau hanya plesetan tanpa maksud.

Tadinya, saya berencana untuk mengikuti tren ini, suatu hari nanti. Rencananya sih, saya mau bikin fastfood dengan nama Mang Donald. Lengkap dengan badut bernama Ronal (tanpa ‘d’). Dipikir-pikir lagi, kalo badut mah kurang mantep, pake ondel-ondel aja kali ya!? Biar lebih mirip saya. (loh?!) hehehe….

Akhirnya, niat tadi terpaksa saya batalkan. Mengingat fastfood yang mematikan. Juga pecel dan gado-gado yang makin terlupakan. Walaupun begitu, saya tetap tidak mengizinkan ide Mang Donald saya dipakai sembarangan. Awas, saya akan benar-benar bikin copyright untuk ide ini. Setidaknya, jika suatu hari nanti saya menemukan restoran dengan nama itu, saya tahu bahwa si pemilik mencuri ide saya. Huh, nggak kreatif! ^_^

cerita gadisbintang @ 2:32:00 PM   0 comments
Wednesday, January 3, 2007
Tiësto dan Steak Banjarnegara

Para penggemar dunia 'ajep-ajep' pasti kenal nama Tiësto. Tapi, tahukah Anda kalau di sebuah kota kecil—yang untungnya masih ada di peta—bernama Banjarnegara, ada sebuah restoran steak bernama Tiësto? Font yang dipakai pun sama persis dengan ‘font Tiësto’ yang biasa ditemui di flyer-flyer party.

Nggak percaya? Lihat ini….

(Maaf, ini cuma hasil jepretan kamera ponsel yang sangat amatir ^_^)

Sayang, saya nggak sempet cari tahu lebih jauh tentang tempat itu karena ketika saya ke sana, tempat itu tutup—maklum, lagi libur lebaran. Bukannya saya ngefans ama Tiësto dan ingin tahu banyak soal dia (Uh, kalo buat saya sih, Sapardi tetep paling oke!) ^_^ saya cuma penasaran, kenapa nama restorannya Tiësto, apa si DJ itu punya saham, atau malah Tiësto himself yang punya tempat itu, tapi kenapa memilih kota kecil Banjarnegara—tempat yang [sepertinya] sama sekali tidak mengenal nama Tiësto?

Bahkan, saya tidak pernah menemukan resto steak dengan nama itu di tempat lain. Atau saya yang kurang gaul? (karena biasanya begitu! ^_^) Ada nggak sih, resto steak bernama Tiësto di Jakarta?

Yang saya tahu, menurut sepupu saya, harga steak di situ nggak mahal-mahal banget (berkisar dari Rp.15.000,- sampai Rp.25.000,- —hampir sama-lah dengan tempat steak yang beredar di Margonjreng)—satu lagi yang lucu: semua sepupu saya, dan sepertinya semua orang di Banjarnegara, menyebut tempat itu Tisto, ketika saya menyebutnya Tiësto (dengan ‘ë’ yang diucapkan), mereka langsung membetulkan, “Bukan Tiësto, Fe…, Tisto!” Hihihihi....

cerita gadisbintang @ 2:08:00 PM   0 comments



Menanti Bintang Jatuh









Kerlip Lalu
Kerlip Inspirasi
Kerlip Makna
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan

deras dinginmu
sembilu hujanmu

-Tajam Hujanmu-
SDD
Kerling Mata
Web Counter
Get a Web Counter

Serbuk Bintang

http://edittag.blogspot.com
BLOGGER
Free Blogger Templates
Free Shoutbox Technology Pioneer