|
| Wednesday, February 28, 2007 |
| Resign… Resign…. Resign! |
Akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan kantor dan segala rutinitasnya. Alasan resign? Adddaaaa ajjjaaaaa.... Hehehe…. Hari ini hari terakhir saya ngantor. Nggak ngapa-ngapain. Kerjaan udah beres. Paling beres-beres meja. Anehnya, dari kemarin saya nggak kepikiran nyicil ngeberesin meja, alhasil sekarang ransel saya penuh barang yang biasa saya tinggal di kantor: sandal jepit, tempat bekal (pantas Ibu sibuk nyariin tempat bekal, tiga-tiganya ada di laci meja kantor), buku-buku. BEFORE
foto ini diambil beberapa minggu sebelum resign. Ketika buku-buku masih bertumpuk di meja.
AFTER
Bersih...
Pojok yang biasanya penuh buku.
Hmmm, bagaimanapun juga, saya harus memilih. Dan saya memilih untuk kembali meneruskan perjalanan. Jadi inget yang Rika bilang semalam, there’s always a time to depart, even if there’s no certain place to go. Yup, and it’s now my time, baby…. |
cerita gadisbintang @ 11:29:00 AM   |
|
|
|
| Wednesday, February 21, 2007 |
| Secure Parking Yang Insecure |
Dua hari terakhir ini kepala saya sering sakit. Berdenyut-denyut. Mungkin karena terlalu lama bekerja di depan komputer. Tapi, saya khawatir, jangan-jangan ini karena Insiden Secure Parking setahun lalu. Soalnya, nyut-nyutannya tepat di ubun-ubun.
*****
Sebut saya bodoh, karena kayaknya sih, memang begitu. Anda tahu, palang Secure Parking yang belang-belang oranye itu, kan? Nah, yang bisa terpentok palang itu hanya orang bodoh, bukan? Jadi, sebut saja saya bodoh. Sungguh, saya tidak keberatan.
TKP-nya di depan Mal Depok. Waktu itu masih ada ruko Borobudur—terakhir saya lewat situ sih, ruko-nya sudah kosong.
Nah, kurang-lebih setahun lalu saya dan Rika (Rika lagi? Iya nih!) berniat mengambil ATM di ruko itu. Saya ralat, mengambil uang di ATM—bukan mengambil ATM-nya. (Penting banget, ya?!). Hari itu, saya memang sedang KK, bukan KD. KK artinya Kurang Konsentrasi. KD juga sih, Kurang Duit, makanya kami mau ke ATM. Halaaahhh.... *garingnugrohodotkom*
Singkat cerita, turun dari angkot, kami berjalan beriringan. Rika sibuk bercerita...bla, bla, bla.... Pikiran saya entah sedang terbang ke mana, jadi saya ikuti pikiran saya itu, mengawang-awang. Suara Rika tak terdengar di telinga saya, mungkin bolot saya sedang kambuh. Di depan saya ada mobil berhenti, mengambil tiket parkir. Saya berjalan terus. Tiba-tiba..., Jeduuuukkkkkkk.
Saya pikir, waktu itu saya ketiban karung pasir. Rasanya kira-kira seperti itu—maklum, saya belum pernah ketiban karung pasir. Tidak sakit, hanya berat. Saya tidak jatuh, cuma berdiri diam—bergaya seperti orang linglung.
“Pe…, Pe! [sic!]” Rika berusaha menyadarkan saya, “Lo nggak papa, kan?”
Masih bingung, saya mengusap ubun-ubun saya, “Nggak, kayaknya sih, nggak papa.”
Petugas Secure Parking memandang kami dengan khawatir.
Rika nyerocos lagi, “Aduh, lo ada-ada aja sih! Kan gue bilang, jangan lewat situ. Itu kan tempat mobil lewat. Palangnya otomatis.” Kok saya nggak denger dia ngomong gitu, ya?
Saya cuma meringis. Abis, gimana lagi, memang salah saya, berjalan di jalur mobil. Padahal, dari kecil saya sudah tahu, palang macam itu bakal otomatis naik ketika mobil datang, dan langsung turun kembali waktu mobil berlalu.
Sambil terus mengusap ubun-ubun, dan masih bengong kayak ayam makan sabun, saya kembali melangkah.
“Pe, lo nggak papa, kan?” Rika nanya lagi, “Ntar pake kayu putih aja.”
Malamnya ubun-ubun saya nyut-nyutan. Saya langsung menelepon (calon) dokter pribadi saya: Ipul. Hihihi….
“Kenapa, Ba?”
“Kepala gue ketiban palang Secure Parking.”
“Hah, kok bisa?” suara ngakak mengikuti pertanyaan itu.
Saya jelaskan secara singkat, padat, dan jelas tentang insiden itu.
Setelah dua menit ngakak, Ipul mengajukan pertanyaan ‘pak dokter’-nya.
“Abis kepentok, kepala lo pusing?”
“Nggak, sih. Tapi sekarang nyut-nyutan.”
“Lo nggak muntah, kan?”
“Pul, gue kejedot, bukan ngidam. Masak muntah-muntah, sih.”
“Yee, bahaya tau kalo lo muntah.”
“Trus sekarang gimana?”
“Kayaknya itu cuma memar, deh. Kompres aja pakai air panas. Trus pijit-pijit biar aliran darahnya lancar. Pakai kayu putih juga boleh. Besok lo ke dokter aja.”
“Yeee, apa gunanya gue telepon lo kalo masih harus ke dokter?!”
*****
Itu setahun lalu. Sekarang, kayaknya saya harus telepon Ipul lagi, deh. Bukan apa-apa, saya kangen! Lalu sakit kepala saya? Ah, tidur sebentar juga sembuh. ^_^
|
cerita gadisbintang @ 9:58:00 PM   |
|
|
|
| Tuesday, February 13, 2007 |
| Saya Benci Nasi Goreng dan Bubur Ayam! |
Prolog: Kadang saya bingung, kenapa kelihatannya hidup orang lain adem ayem, sementara kekonyolan dan kebodohan selalu memenuhi hidup saya. Why me? Why my life? Percaya atau tidak, kebodohan saya sudah mendunia. Tiap kali saya ceritakan insiden-insiden bodoh saya, teman-teman cuma menyumbang tawa. Paling banter, komentarnya, “Duh, elo banget sih, Pe!” Dan, bagaimanapun juga, saya harus percaya kalau di luar sana masih ada orang yang lebih dodol dari saya. Amien. *emosijiwa-mode: on*
*****
Insiden kali ini lagi-lagi melibatkan perut tercinta saya.
Ceritanya, hari ini Ari-Reda nyanyi di MP BookPoint. Di acara peluncuran buku Kurnia Effendi, Burung Kolibri Merah Dadu. Saya bertekad datang. Apa pun yang terjadi, saya harus nonton Ari-Reda nyanyi live.
Jam enam sore, sang pacar sudah muncul. Dari kantor saya, kami langsung ke MP BookPoint. Nggak jauh sih, cuma agak macet. Jam tujuh kami sampai. Perfect. Acara belum dimulai.
Setengah jam kemudian, acara belum juga mulai. Perut gembul saya, yang pasti minta diisi tiap tiga jam sekali, sudah mulai keroncongan. Ingin makan, tapi takut ketinggalan. Akhirnya, saya tahan-tahan hasrat mengunyah.
Jam delapan kurang seperempat, acara akhirnya dimulai. Dibuka dengan pembacaan cerpen yang, jujur saja, agak membosankan. Saya tidak menyimaknya sama sekali karena saya datang untuk Ari-Reda, bukan untuk peluncuran buku itu. Selesai pembacaan cerpen pertama, Ibu Pembawa Acara bilang, “Sebelum talkshow Burung Kolibri, saya akan membacakan sebuah cerpen karya Mas Kurnia yang…, bla, bla, bla.”
Halaaahhh, lama, nih. Saya lirik ponsel saya, jam delapan lewat lima. “Makan dulu, yuk,” ajak saya pada sang pacar. “Nggak takut ketinggalan?” ia ragu-ragu. “Ah, abis ini kan talkshow. Paling abis talkshow baru nyanyi. Sebentar aja,” saya kekeuh. Demonstran cacing pita di perut saya sudah minta jatah. Seperti biasa, sang pacar mengalah.
Menyeberanglah kami. Saya ngotot ingin makan di rumah makan seberang jalan, walau pacar saya bilang, makan di MP saja. Abis, nggak ada yang nendang di MP, mahal pula.
Rumah Makan Pakistan. Mata saya sedang menari-nari di atas daftar menu ketika sang pacar bilang, “Pesen yang cepet jadi aja. Biar nggak kelamaan.”
Baiklah, Baginda Raja! Titah Paduka, hamba laksanakan.
Akhirnya, saya cuma pesan Nasi Goreng, dan pacar saya, yang sedang sakit tenggorokan, memilih Bubur Ayam.
Nasi Goreng yang menggiurkan
Bubur Ayamnya juga enak!
Makanlah kami, sembari mengobrol dan cekikikan. Selintas saya bilang, “Ay, kok perasaanku nggak enak, ya?” “Kenapa, makanannya kurang banyak?” Sial!
Selesai makan, kami menyeberang. Setengah bercanda, si pacar nunjuk seorang ibu, “Ibu itu kok udah pulang, ya? Jangan-jangan….” Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Saya menarik tangannya, melihat jam. Delapan tiga puluh. Cuma setengah jam kami makan. Nggak mungkin, ah. Apa, sih, yang bisa terjadi selama setengah jam?!
Kami lalu masuk ke dalam. Loh..., loh?! Kenapa sepi begini?! Saya curiga, mic dan dua kursi—yang saya yakin disiapkan untuk Ari-Reda—sudah bergeser. Kami duduk. Saya gelisah. “Ay, kalau mereka udah nyanyi gimana?” “Nggak, ah. Kita kan cuma sebentar,” ia berusaha menenangkan saya. Tapi, ia tahu, saya tak akan tenang sampai dapat kepastian. “Mau tanya?” katanya lagi. Saya memandang berkeliling, siapa ya, yang bisa ditanya. Di kejauhan, saya melihat Mas Ari dan Mbak Reda. Ragu-ragu, saya malah ingin pipis. Dari toilet, saya berpapasan dengan Mas Ari. Tanggunglah! Saya harus siap menghadapi kenyataan. “Mas Ari,” sapa saya ragu-ragu. Ia berhenti. “Mas Ari tadi udah nyanyi?” “Sudah.” Duuuueeeeennnnnnnggggg. “Nanti nyanyi lagi nggak?” “Kayaknya nggak, deh. Soalnya masih banyak yang ngantri. Tuh, Wulan Guritno aja belum kebagian baca cerpen,” jawabnya sambil tersenyum.
Ya, Bumi, kuizinkan engkau terbelah. Tepat di tempatku berpijak. Lahap saja aku. Biar perut rakusku tahu rasa. Ini bukan salahku. Ini salahnya. Dan, sumpah, aku tak peduli Wulan-Guritno-siapalah-itu! Aku cuma ingin nonton Ari-Reda, berlebihankah keinginanku, wahai para cacing pita gendut yang bermukim di usus besarku?
Saya hampir menangis.
Ternyata, banyak yang terjadi selama setengah jam. Pembacaan cerpen, talkshow buku, empat lagu Ari-Reda. Semua dibabat habis ketika saya melahap nasi goreng!
“Ya sudah, minta tandatangannya aja dulu, mumpung ketemu. CD-nya bawa, kan?” pacar saya menyarankan dengan muka prihatin. “Sekalian foto bareng, mau aku fotoin?” Saya makin ingin menangis.
Memang sih, saya sempat foto bareng Ari-Reda, ngobrol sebentar dan minta tetede Mbak Reda di CD DuaIbu. Tapi, tetap saja, saya nggak ngeliat mereka nyanyi live, dan saya kehabisan CD :Becoming Dew!
Memaksakan diri tersenyum waktu foto bareng Mas Ari dan Mbak Reda >_<
Sepertinya, sampai mau pulang, wajah saya masih pucat dan mata saya masih berkaca-kaca. Pacar saya berkali-kali mengusap kepala saya, hal yang dilakukannya ketika ia tak tahu harus berkata apa.
“Nggak apa-apa, lain kali, kita nonton lagi,” hiburnya di perjalanan pulang. “Kamu siiihh!” saya mulai edisi terbaru nyalahin-orang-dot-kom. “Kok aku?” “Iya, ini kan gara-gara kamu!” “Iya deh, gara-gara aku,” katanya sambil merangkul bahu saya. Huuh, nggak seru! Kok pasrah, sih?!
*****
Epilog: Coba, katakan pada saya, apa hidup orang lain sebodoh itu? Semoga saja, iya. Yang pasti, mulai saat ini, saya benci Nasi Goreng dan Bubur Ayam!
Eh, saya cuma bilang, saya membencinya ya, saya nggak bilang saya akan berhenti makan Nasi Goreng dan Bubur Ayam looh. *rakus-mode----checking status: always on*
|
cerita gadisbintang @ 8:31:00 PM   |
|
|
|
| Saturday, February 10, 2007 |
| Namanya, Saiful Rahman |
Namanya Saiful Rahman. Ipul, begitu nama panggilannya. Ia salah satu lelaki dalam hidup saya. Seorang sahabat baik. Saya mengenalnya tujuh tahun lalu. Waktu itu, kami sekelas di Interstudi. Jujur saja, saya tidak terlalu memperhatikannya kala itu. Habis, ganteng juga nggak. Pintar apalagi. Tiga kata untuk menggambarkan kesan pertama saya: gondrong, hitam, tengil. Hehehe….
Saya ingat, ia duduk di belakang saya. Hampir setiap waktu. Saya, yang demen ngobrol, memang kadang membalikkan badan untuk sekedar bercakap-cakap dengan teman-teman yang duduk di belakang saya, termasuk si Ipul. Belakangan, ia sering bilang, “Ba, lo dulu naksir gue ya? Lo kan sukanya balik ama nengok-nengok ke belakang mulu!” Huahahaha..., naksir? Sori ya, Pul. Nama lo aja gue dulu nggak inget. =D
Kami mulai akrab pada awal puasa tahun 2000 (saya sudah lupa bulan apa itu). Gara-garanya, kelas kami ngadain buka bersama di Jalan Jaksa. Pulangnya, sekitar jam 9 malam, saya berjalan ke arah Sarinah bersama Ipul dan Wida (oh, Wida…, di mana engkau sekarang?). Ipul lalu mengajak saya pulang bareng. “Rumah lo di mana, Ba?” (Ia satu di antara sedikit orang yang menyingkat nama saya dengan suku kata terakhir). “Deket TMII.” “Bareng aja ama gue. Gue pulang ke Bekasi.” “Boleh.” “Tapi motor gue, gue tinggalin di Sahid. Kita harus ke sana dulu.” Pantes ngajak bareng! *merengut-mode: on* >_<
Jadilah ia mengantar saya. Malam itu, saya rasa, persahabatan kami dimulai. Ia bercerita banyak tentang dirinya. Tentang impiannya jadi dokter, pacarnya yang sangat dicintainya (inget gak, Pul? Huakakakak). Dan, saya, seperti biasa, menanggapi kisahnya a la psikiater menangani pasien. =D
Beberapa hari kemudian, kami sudah seperti amplop dan perangko, bantal dan guling, foto dan bingkai, kertas dan pena: susah dipisah. Apalagi, beberapa minggu setelahnya, saya les di lembaga bimbel yang sama dengannya. Jadi, kurang lebih, beginilah keseharian kami selama hampir setahun: pagi-pagi kami sudah bertemu di tempat les, walau nggak sekelas—saya IPS, ia IPA. Lalu siangnya, kami bersama-sama ke Interstudi, kali ini sekelas. Ia pasti duduk di sebelah, atau di belakang, atau di depan saya (yang ini khusus kalau dosennya Bindiya, India cantik favorit Ipul). Selesai kuliah, kalau teman-teman ngajak main, kami akan ikut. Kalau tidak, ya pulang, atau main berdua saja. Yang pasti, ia bakal nganterin saya sampai di depan pintu pagar.
Kadang-kadang, biar saya gampang dapet izin main, saya bilang ke Ibu, “Perginya bareng Ipul.” Kalau sudah begitu, Ibu biasanya mengizinkan. Pernah, beberapa kali, Ipul menelepon ke rumah ketika saya sedang pergi. Beginilah kira-kira percakapan yang terjadi: Ipul : Feba-nya ada, Bu? Ibu : Loh, pergi. Tadi katanya bareng kamu? Ipul : Hmm, iya sih, ini ditungguin belon dateng-dateng. Kikikikikik, abis itu, Ipul pasti menelepon saya, ngomel-ngomel, “Lo kalo jual nama gue kira-kira aja dong, kagak bilang-bilang lagi! Dasar Kepala Batu!” Hehehe....
Waktu itu saya masih jomblo, dan susah dapet pacar. Saya rasa, gebetan saya mengira saya pacaran sama Ipul. Parahnya lagi, kayaknya Ipul seneng saya nggak laku-laku. Bahkan, waktu kumpul-kumpul, ketika ada kesempatan, saya sudah sengaja ngomong keras-keras di tengah anak-anak (gebetan saya ada di situ), “Iya nih, sialan lo, Pul. Gue nggak laku-laku gara-gara disangkain pacaran ama elo.” Dan tahukah Anda, apa jawaban Ipul? Ia cuma bilang, “Emang kita nggak pacaran, Ba?” Ipul kampreeeettttt. Sampai di situlah riwayat gebetan saya. Harapan telah musnah. Pintu sudah tertutup. Cinta sudah mati sebelum tumbuh. Semua gara-gara Ipul. *dendam-mode: on*
Nggak. Ipul nggak naksir saya, walaupun ia kayaknya seneng saya jomblo. Ia melakukan itu atas nama kejahilan. Sama seperti ketika saya mengganggu aktivitas flirting-nya. Dulu, ada anak pindahan di kelas kami. Cantik. Namanya Bambi, kalau tak salah (kayak nama kijang ya!?). Ipul hobi banget tebar pesona. Bambi juga sepertinya menikmati ditebar pesona oleh Ipul. Dan, saya langsung bertindak. Ketika mereka sedang asyik saling menebar pesona, saya langsung jadi orang ketiga. “Sayang, aku duduk di sini ya?” saya mengambil tempat di samping Ipul. Ipul melotot. Kening Bambi yang mulus berkerut. Saya memasang tampang polos. “Eh, ini siapa?” saya menunjuk Bambi. “Gue Bambi,” ia menyodorkan tangan. “Oh, gue Feba. Calon istrinya Ipul,” saya menyambut tangannya. “Ba…,” Ipul berusaha menyela. Saya keburu memotongnya. “Sayang, pindah ke depan, yuk. Aku nggak keliatan nih, kalau duduk di sini.” Langsung saya ambil tasnya dan saya tarik tangannya. Sampai di depan, Ipul misuh-misuh. Entah Bambi ‘ngeh atau nggak Ipul ngomel-ngomel. Yang pasti, mulai saat itu, ia nggak pernah deket-deket Ipul. Hehehe…. *balasdendamterlaksana*
Ipul memang doyan tebar pesona, padahal waktu itu ia punya pacar. Saya kenal pacarnya, kami sempat beberapa kali jalan bareng tanpa Ipul. Ipul bahkan pernah mengajak saya ke rumah pacarnya (Ia bilang sama ibu pacarnya, saya ini adiknya. Hehehe….). Ipul bilang, pacarnya kadang cemburu sama saya. Saya tahu kok, saya juga pasti akan cemburu kalau jadi dia. Untungnya, saya tahu banget (waktu itu) Ipul cinta mati sama si pacar. Kadang-kadang saya menelepon pacarnya itu, menceritakan beberapa curhatan Ipul, pokoknya bagian-bagian yang intinya “Oh, Feba…, gue cinta banget ama dia. Pokoknya, ntar kalo gue nikah ama dia, lo yang jadi panitianya ya.” Sip. =D
Bodohnya, beberapa waktu kemudian, Ipul malah kepincut sama teman SMA saya. Terkutuklah saya yang mengenalkan mereka. Seumur hidup, saya tak pernah merestui hubungan mereka. Karena saya tahu Ipul punya pacar. Karena saya tahu pacarnya sangat mencintainya. Karena saya juga tahu, teman SMA saya tak pernah benar-benar menyayanginya. Ipul bodoh!
Pernah, ketika lulus UMPTN (kami berdua lulus, hari itu, dunia rasanya ada di genggaman kami), kami memutuskan untuk merayakannya. Pergilah kami makan-makan dan nonton. Adalah The Heartbreaker yang kami pilih sebagai film kedua. (Waktu itu kami nonton dua film sekaligus, berurutan. Saya lupa film apa yang kami tonton pertama). Lima menit di depan Jennifer Love Hewitt, ponsel Ipul berbunyi. “Halo----hmmm----------lagi ama Feba---------nonton----ooh, kenapa?-----hmmm-----nggak kok, nggak papa----hmmm----iya, iya, gampang-----hmmm-----nggak, nggak papa----ntar telepon lagi deh---iya, sebentar ya-----iya, daaggg.” Perasaan saya langsung nggak enak. Benar saja, Ipul nyolek saya. “Ba….” “Hmm?” “Kalau kita keluar gimana?” “Keluar ke mana? Filmnya kan baru mulai!” Nada saya langsung tinggi. Saya tahu persis apa yang terjadi. “Ya, Ba…, ya?” “Nggak.” “Gue janji, gue ganti deh. Besok kita nonton lagi. Lo pilih deh, mau nonton apa, di mana. Ya?” “Kenapa sih, emangnya?” “Itu ---namadisensor--- telepon gue barusan. Minta anterin ke rumah temennya.” Persis seperti dugaan saya. “Dia di mana?” “Di rumahnya.” “Jadi, dia minta lo jemput ke rumahnya, trus nganterin ke rumah temennya di Negeri Antah Berantah, trus lo harus nganterin dia pulang lagi. Gitu?” “Iya, nggak papa ya, Ba?” “Nggak! Gila lo, kita di Kelapa Gading, rumahnya tuh deket rumah gue—satu setengah jam dari sini. Lo gila apa?! Pake otak dong! Kalo lo mau ke sana, lo pergi aja sendiri. Gue bisa pulang sendiri.” Adegan mulai mirip sinetron. >_< “Mana bisa gue tinggalin lo sendiri di sini. Emang lo tau jalan pulang?” “Ya, enggaklah!”
Akhirnya, tanpa hati (bukan setengah hati lagi), saya duduk juga di jok belakang motornya. Daripada harus pulang sendiri juga. Males banget. Sudah malam pula. Sepanjang jalan, saya mengomel. Tentang betapa bodohnya ia, betapa perempuan itu hanya memanfaatkan kebodohannya. Betapa ia tahu hal itu dan tidak mempedulikannya. Saya tidak rela. Saya benar-benar tidak rela sahabat saya dipermainkan seenaknya. Sayangnya, cinta memang buta. Dan Ipul sudah kena katarak mata.
Setelah menurunkan saya di jalan (bayangkan, saya sampai diturunkan begitu saja!), ia berbelok ke arah rumah perempuan itu. Saya marah besar. Kemarahan yang hanya bertahan tiga jam. (Tengah) malamnya, ia menelepon saya. “Heh, Jagoan…, nyampe rumah juga lo.” “Siapa sih, ini?” saya pura-pura tak mengenal suaranya. "Weitss..., masak lo ampe lupa ama Pangeran Ksatria Saiful Rahman yang ganteng ini."
Kalau dia sudah narsis begitu, saya sulit menahan tawa. Ia lalu melanjutkan, “Aah, jangan batu gitu, Ba. Kalo lo nggak ridho, gue nggak tenang nih….” Halaaah, dia pikir saya ibunya apa!? Sampai sekarang juga saya nggak ridho. Untung, nggak terlalu lama kemudian, mereka putus. Saya sampai sujud syukur dengernya. Hehehe, nggak segitunya sih!
Lalu, apa yang terjadi dengan pacar terdahulunya? Mereka juga putus. Si pacar malah sekarang sudah menikah dengan orang lain. Ipul sangat menyesal. Saya tahu pasti, sampai sekarang ia masih sayang mantannya itu. Beberapa bulan lalu Ipul cerita: “Iya, Ba…. ---namajugadisensor--- udah nikah kemarin. Padahal dulu gue udah bilang ama dia, ‘Kalo lo nikah, nggak usah bilang-bilang gue. Nggak usah undang gue.’” “Trus?” “Gue nggak diundang, Ba. Tapi dia ngundang kakak gue. Kan sama aja jatohnya.” Saya ngakak, “Trus lo nggak dateng?” “Lo yang bener aja, Ba. Bisa pingsan gue di sana.” Ngakak saya tambah kencang. Sukurin.
Kami ‘berpisah’ di pertengahan 2001. Setelah diploma Interstudi kami selesai—kami wisuda bareng!—saya masuk sastra, ia masuk kedokteran UPN. UNILA yang berhasil diraihnya lewat UMPTN, dilepaskannya. Tak ada yang bisa membuatnya mengurungkan niat menjadi dokter. Ia telah menunggu tiga tahun, bukan waktu yang singkat, untuk kuliah kedokteran. Dipisahkan oleh dunia yang berbeda, kami tidak pernah saling melupakan. Ia selalu menelepon saya kalau ada apa-apa. Saya pernah beberapa kali mengunjungi kosannya. Kami terkadang masih jalan bareng.
Sekarang, jika diminta bercerita tentangnya, saya akan sanggup berbicara berjam-jam tanpa henti. Ipul adalah satu-satunya laki-laki yang tak pernah malu menangis di depan saya. (Pacar saya saja nggak pernah segitu sesunggukannya di depan saya). Ia tak pernah malu menceritakan apa pun tentang hidupnya, keluarganya, kegalauannya, aibnya, obsesinya. Ah, betapa saya rindu kebersamaan kami.
Saya rindu sahabat saya itu. Ipul yang playboy tapi cengeng. Ipul yang menjuluki saya Si Kepala Batu. Ipul yang narsis, tengil, konyol. Ipul yang tiba-tiba jadi puitis dan suka bikin puisi kalau sedang patah hati. Ipul yang doyan nonton film India (kesukaannya Kuch Kuch Hottahai). Ipul yang juga vokalis band. Ipul yang suka ngajarin saya nyanyi di atas motor yang melaju lumayan kencang (coba bayangin, mana kedengeran suaranya di antara deru jalan raya?). Ipul yang bikin saya hafal jalan. Ipul yang selalu ngatain saya perempuan jorok (hanya karena saya nggak pernah bawa saputangan atau tisu—yeah, nggak cuma karena itu, sih. Saya memang jorok!). Ipul yang penuh mimpi (mengingatkan saya akan diri sendiri). Ipul selalu mencari saya ketika bermasalah (yang ini diakuinya sendiri). Ipul yang sekarang hampir jadi dokter. Ipul yang sangat saya sayangi, yang sudah saya anggap sebagai Abang. Ipul yang berzodiak sama dengan saya. Ipul yang hari ini berulang tahun.
Ah, Ipul, selamat ulangtahun....
Ipul dan saya, waktu kami masih "muda"--hehehe....
|
cerita gadisbintang @ 7:47:00 PM   |
|
|
|
|
| Suatu Hari di Bulan Februari |
Ingatkah engkau,
Suatu hari di bulan Februari, tiga tahun yang lalu?
Hari itu mendung, namun hujan belum juga menyapa. Kampus kita indah sekali dipayungi langit yang makin menggelap. Semoga hujan deras, doaku kala itu, sembari tergesa meninggalkan kantin, tempatku menunggu hujan.
Sudah hampir jam sebelas, kelas berikutnya sudah menanti. Tapi, ketika kita berpapasan di depan Gedung VI, kau malah mengajakku menyusuri koridor panjang, menuju Gedung I.
“Sebentar saja,” katamu.
Aku menurut. Tanpa alasan. Walaupun dalam hati, aku bertanya-tanya.
“Mau ke mana kita?”
Kau diam saja.
(Tak terdengarkah tanyaku?)
Ingatkah engkau hari itu?
Kita berhenti di depan mading yang berjajar di samping Gedung I, lalu kau menyuruhku mundur.
“Kurang jauh,” protesmu.
Aku makin bertanya-tanya.
“Cukup?”
“Ya, di situ.”
(Tak terdengarkah detakku?)
Kau menghampiriku. Kita berdiri tak jauh dari pohon rindang itu. Di taman kampus yang masih hijau. (Sekarang rerumputan itu sudah tertutup semen, sayang!). Kulayangkan pandangan. Sepi. Seolah-olah cuma kita yang ada di planet kecil ini.
Berdua saja.
“Lihat nggak?” kau tunjuk dinding Gedung I.
Aku mendongak. Jelas saja aku melihatnya. Alfabet yang dijajarkan di dinding.
g______f______e______d______c______b______a
Kalau tidak salah, anak Senat yang membuatnya. Mereka menempelkan abjad dari A sampai Z di dinding-dinding gedung kampus. Entah kampanye apa, aku lupa. Pemilihan Ketua Senat, mungkin?
Kau pasti ingat, waktu itu aku bertanya, “Kok nempelinnya kebalik ya, dari kanan ke kiri?”
“Yang nempel anak Arab kali.”
Aku nyengir.
(Tak terdengarkah getarku?)
Kau lalu menyuruhku memejamkan mata dan berbalik, menghadap Gedung Perpus.
Aku merengut. Penasaran.
Rasanya lama sekali.
“Sudah,” kudengar lagi suaramu.
Perlahan kubuka mata. Kau sudah ada di sampingku, memutar bahuku agar kembali menghadap dinding itu.
Kutatap dirimu. Lagi-lagi kau cuma diam dan menunjuk dinding.
(Mengapa tak kudengar apa pun?)
Setengah tak mengerti, kuikuti telunjukmu. Mataku menyusuri dinding, dan akhirnya menyadari, beberapa abjad menghilang.
g______f______e______d______c______b______a
_______f______e______d______c______b______a
_______f______e_____________c______b______a
_______f______e____________________b______a
_______f______e______b______a_______
Aku tertawa, baru tersadar kalau namaku terdiri dari dua kelompok abjad berurut yang dibalik: a & b dan e & f.
Konyol.
Tapi..., manis.
“Dodol! Kok kepikiran sih?”
Tak ada jawaban. Lagipula, aku mulai tak memerlukannya.
(Ah, semoga telingaku tak berbohong)
Hujan mulai merintik.
Kau hendak beranjak, tapi aku sudah lebih dahulu memegang ujung kemejamu. Menahanmu di tempat itu. Membiarkan gerimis mendarat di ubun-ubun kita. Aku sudah melupakan ruangan yang menungguku.
Dan, tahukah engkau?
Rasanya, hari itu, di tempat itu, aku menyerah. Kubiarkan denting lembut itu menemukan melodinya, di tengah debar hujan yang makin menebal.
|
cerita gadisbintang @ 7:03:00 AM   |
|
|
|
| Monday, February 5, 2007 |
| My 23rd! |
It’s my birthday.
23 tahun = 276 bulan = 1196 minggu = 100.740 hari = 2.417.760 jam = 145.065.600 menit = 8.703.936.000 detik.
(Mudah-mudahan saya tidak salah menghitung, maklum, matematika saya lemah. Hehehe....)
Ah..., ah..., sudah semakin tua. ^_^
Sebenarnya, saya ingin bercerita tentang diri sendiri. Tapi apa yang harus saya tuliskan? Saya takut memulainya, khawatir tak bisa melanjutkan di tengah jalan karena baru sadar bahwa saya tidak terlalu mengenal diri sendiri. Mengerikan, ah.
Jadi, biarkanlah saya berpikir-pikir. Menimbang-nimbang, menganalisis, merasa-rasa..., dan melanjutkan perjalanan, mengumpulkan serakan hidup di sekeliling saya. Suatu hari nanti, ketika saya yakin saya tidak akan berhenti di tengah jalan, saya akan memulainya. Saya janji. Suatu hari nanti, saya akan bercerita tentang diri saya. Sekarang, saya cuma minta satu hal: doa. ^_^
|
cerita gadisbintang @ 7:24:00 PM   |
|
|
|
|
| *_* |
Aku cuma pergi sebentar, Pangeran. Mencari diriku. |
cerita gadisbintang @ 6:16:00 PM   |
|
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|