|
| Friday, June 29, 2007 |
| Stress di Pagi Hari--Ada Yang Bisa Saya Banting?? |
Whuaaahhh..
Setres! Pagi-pagi sampai kantor, lalu membuka Yahoo! Messenger, daann... tak bisa dibuka. Layar kompie saya terus-terusan bilang "Bo, password-lo nggak mecing." Tadinya saya pikir, YM-nya yang sinting, tapii.. setelah saya coba log-in ke Yahoo! Mail dan si kompie masih teriak-teriak dengan kalimat sama, saya langsung pusing tujuh keliling.
Coba get a new password, tapi tak berhasil. Karena alternate e-mail sama sekali tak membantu: second account saya lampirkan dulu udah di-terminate entah sejak kapan. Pun challenge question yang diajukan Yahoo! bukan pertanyaan yang saya rikues ketika bikin imel. Bayangkan saja, waktu bikin imel, saya pilih pertanyaan, "Who was your childhood hero?" (dengan jawaban: Wonder Woman, karena dulu saya suka sekali jadi copycat-nya--pakai baju renang, mengikat kepala dengan kacu pramuka, ambil tali pramuka buat laso, lalu mengejar-ngejar anak-anak tetangga, memecut mereka satu persatu). Nah, ketika tadi berhasil memenuhi data pribadi, step terakhir yang harus saya hadapi malah pertanyaan "What is your pet's name?" Bo, tolong ya, saya nggak pernah punya pet. Topi pet saja kemungkinan besar saya hilangkan, apalagi pet beneran. Bisa mati dia gara-gara lupa saya beri makan. (Kucing yang sedang beredar di rumah saya itu peliharaan ayah dan adik saya. Saya mah nggak ikut-ikutan).
Jadi, bisa dibayangkan betapa kesalnya saya karena nggak bisa mengakses peblem@yahoo.com. Padahal, di account itulah sebagian besar urusan saya berakhir. Benci, deh! X((
Ada yang tahu nggak, kenapa bencana ini bisa terjadi? Apa iya karena saya kebanyakan dosa? Tapi, dosanya si Aburizal Bakrie pasti lebih banyak dari saya, lalu mengapa dia nggak pernah ngeluh soal password imelnya yang tiba-tiba berganti secara misterius? (Hmm, mungkin dia nggak punya imel kali, ya! hehehe....).
Bantu saya, yaa.. Sebelum saya mulai membanting-banting. *blebaaayy* ^.^
Sekarang, YM dan imel saya terpaksa pindah ke gadisbintang@yahoo.com.
Semoga saja account peblem bisa normal lagi. Amien.
PS: hiks.. bantu sayaaa. plisss.. *muka memelas menjijikkan* hihihi...
|
cerita gadisbintang @ 4:24:00 AM   |
|
|
|
| Tuesday, June 12, 2007 |
| TukeranLink Really Makes My Day |
Pagi hari sepanjang hari-hari kerja selalu jadi saat-saat berat bagi saya. Saya, si tukang molor, biasanya masih merindukan guling gepeng dan selimut tebal. Jadi, pagi-pagi di kantor, nyawa saya biasanya masih setengah. Setengahnya lagi masih ngiler di negeri mimpi. (Hahaha... nggak, ding. Saya nggak ngiler. Paling cuma mangap.) =D
Dan, alangkah terkejutnya saya ketika suatu pagi—di tengah kantuk—mengunjungi blog tukeranlink.
(Blog yang awalnya—ehm, mungkin sampai sekarang—tak terlalu saya mengerti visi-misinya. Saya tahu, tujuannya mulia. Katanya, sih, untuk meningkatkan pagerank. Tapi, tolong, pahami saya yang bodoh nan gaptek ini: saya tak tahu arti pagerank. Yayaya, silakan tertawa. Saya tak keberatan. Sejauh yang bisa dicerna otak saya yang keriput ini, semakin sering blog kita di-link, semakin mudah ia ditemukan ketika googling ato yahooing (hihi, maksa!). Dan, servis link inilah yang ditawarkan tukeranlink. Bukan begitu, bukan?)
Ya... jadi pagi itu, saya mengunjungi tukeranlink. Taraaa... ternyata ada blog saya nampang di sana. Di-review.
Saking girangnya, langsung saya kopi-pes karya si Mas TukeranLink:
-----------------------------------------------------------------------
Backlink Review: Gadis Bintang
Gadis Bintang, demikian pemilik blog ini mengenalkan dirinya.
Dan lihatlah tampilan blog miliknya. Benar2 mencerminkan judul ..Malam Berbintang..
star light
star bright
the first star
i see tonight
i wish i may
i wish i might
make my dreams
come true tonight..
Postingan pertamanya berjudul A-New-Born Babystar.
Isinya cuma a new baby is born, dengan foto seorang balita nan jelita, Kejora Mungil. Foto siapa ya?
Mungkin foto si Gadis Bintang saat kecil.
"Selamat datang, kalau begitu. Selamat menjejaki gelisah saya: pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, percakapan-percakapan tak berujung, pencarian-pencarian yang belum juga usai. Selamat datang di semesta kecil saya. Tempat saya menuangkan hidup."
Kalimat itu dari postingan kedua Gadis Bintang. Dari kalimat tersebut tergambar bahwa blog ini memang berisi curahan hati Gadis Bintang sendiri. Kesehariannya, orang2 terdekatnya dan pandangannya terhadap hal di sekelilingnya.
Wow, ada yang menarik. Gadis Bintang mengupas masalah poligami sampe 3 jilid postingan lo...
Hi hi... Nekat juga Gadis Bintang.
Poligami kan masalah sensitif.
Well, Gadis Bintang, Ur blog is very nice. Keep blogging.. Oke?
-----------------------------------------------------------------------
(Huhuhu... baru sadar kalau tampilan blog saya tak selalu terlihat sama. Lihat saja, font yang biasa ada di layar komputer saya, ternyata beda dengan yang dipandangi Mas TukeranLink)
begini tampilan asli blog saya
Kantuk saya langsung hilang. Lapar saya juga raib (karena saya baca review ini sambil sarapan.) hehehe…. Mas TukeranLink, makasih banyak, ya! You’ve brighten my day! ^.^ Ngomong-ngomong, sampai sekarang saya tak tahu nama asli Mas. Siapa, sih? Kenalan, dong, Mas! *tepe-mode:on* hahaha…
|
cerita gadisbintang @ 3:52:00 AM   |
|
|
|
| Sunday, June 10, 2007 |
| Writer's Block |
Percaya atau tidak, saya terkena sindrom writer’s block. Padahal, selama ini saya yakin, saya nggak bakalan ketularan penyakit yang satu ini. Pasalnya, saya bukan penulis. Hanya suka menulis. Jadi, mana mungkin penyakit penulis itu bisa mampir ke otak saya. Nyatanya, saya salah. Beberapa waktu terakhir ini, saya kalang kabut. Saya tahu apa yang ingin saya tulis, saya punya banyak hal untuk diceritakan. Namun, entah mengapa, saya tak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. Arrgghhh.... Writer’s block. Entah terdengar gaya atau tidak. Yang pasti, menyebalkan. Saya juga tak mengerti penyebab sindrom ini mengunjungi saya. Mungkin kelelahan. Mungkin terlalu banyak mengedit (hahaha..., yeah, right!), mungkin karena nggak mood, atau mungkin hanya karena ketololan saya meningkat derajatnya. ^.^ Akhirnya, saya paksakan. Menulis seadanya. Seperti tanpa jiwa. Dan melayang. Ah, menyebalkan. Hasilnya? Dua tulisan di bawah ini. = S Saya janji. Kalau si penyakit gaya ini sudah raib, saya akan edit ulang dua tulisan di bawah. Karena, jujur saja, saya nggak terlalu suka dengan hasilnya. Jadi, teman-teman... doakan saya cepat sembuh yaa! Hihihi... PS: Ada yang tau serba-serbi writer’s block? Bagi-bagi saya, yaa.. ^.^ |
cerita gadisbintang @ 6:30:00 AM   |
|
|
|
| Monday, June 4, 2007 |
| Kembali Jatuh Rindu.. |
Kalau ada pekerjaan yang pernah sangat saya inginkan, itu adalah menjadi seorang Penyiar. There, I’ve said it. Saya pernah ingin sekali jadi seorang broadcaster.
Saya pernah benar-benar jatuh cinta dengan dunia broadcasting. Head over heels. Sejak berkenalan dengan mike dan mixer di sebuah radio komunitas di daerah saya, saya—yang waktu itu masih kelas III SMA—bertekad untuk tetap berada di antara serakan playlist dan script. Jadi penyiar. Di mana pun saya berada. Selama saya bisa.
Setelah kurang lebih enam tahun melompat ke sana-ke mari—dari radio komunitas, radio mahasiswa, sampai radio ‘beneran’—toh, akhirnya, saya ‘terpaksa’ menanggalkan predikat penyiar. Karena, kadang, living the dream ternyata tak seindah yang dibayangkan.
Sungguh, saya mencintai dunia radio. Saya mencintai pekerjaan dan peran saya di sana. Dari dunia itu, saya mendapat banyak kritik. Banyak pelajaran. Banyak pengetahuan. Dan banyak teman baru.
Sayangnya, di tempat terakhir saya bekerja sebagai penyiar, suasananya benar-benar “mengganggu”. Penuh arogansi dan penyiksaan verbal, plus pelecehan emosional. Waktu itu, alasan saya bertahan hanya satu: cinta. Ya, saya mencintai profesi ini. Apalagi, teman-teman pendengar selalu menyenangkan (walau memang selalu saja ada oknum menyesatkan), they really made my days. Ketika suasana di balik mike mulai tak kondusif, mereka mengembalikan senyum saya. Ketika kantor mulai berkonflik, mereka ‘memaksa’ saya bertahan. Dan ketika saya memutuskan mundur dari dunia yang sangat saya cintai ini, mereka meyakinkan saya. Untuk mencoba lagi. Untuk tidak menyerah. Untuk kembali menapaki mimpi. Ah....
Beberapa bulan setelah resign, mereka masih jadi teman saya. Sebagian meng-add di Friendster. Sebagian masih rajin menanyakan kabar saya lewat radio. Sisanya, mengirimi e-mail. Baiknya mereka. ^.^
Tak lama, perhatian itu surut.
Saya melanjutkan hidup. Pun mereka. Dan betapa terkejutnya saya ketika minggu lalu menerima SMS dari salah satu teman pendengar. Entah dari mana ia tahu nomor saya.
Dan, karenanya, saya kembali jatuh rindu. Pada mike dan mixer di studio yang luar biasa dingin. Pada headphone yang berfungsi ganda: mengontrol suara on-air, sekaligus menghangatkan telinga. ^.^ Saya rindu keterburu-buruan siaran pagi. Atau kecurangan memutar tiga lagu berturut-turut, hanya agar saya bisa sarapan atau pipis di sela siaran. Saya rindu melakukan kesalahan mixing. Atau masih nyerocos ketika intro sudah habis. Ah….
Saya kembali jatuh rindu. Pada mimpi mengubah dunia lewat ‘suara’ saya. Pada keinginan menginspirasi—atau setidaknya menyapa—hidup orang lain. (Dan izin tak tertulis untuk jadi ‘sok tahu’ saat ngoceh di udara. ^.^)
Saya kembali jatuh rindu…. Sesederhana itu.

(Karena itulah, saya langsung jawab “Ya” ketika seorang teman lama menawari saya untuk jadi MC di sebuah acara musik lokal. Saya begitu menikmati acara ini. Detik demi detik. Melepas rindu. Acara itu jadi semacam katarsis untuk saya. [Lucunya, ketika acara berakhir dan panitia ngasih amplop, saya—yang sudah ngeloyor ke tempat parkir—baru ingat kalau saya dibayar untuk melakukannya.] Hohoho…. ^.^)
So, thinking of hiring me as MC?? ^_^ v Hahaha… *selfmarketing-mode: on*
|
cerita gadisbintang @ 4:28:00 AM   |
|
|
|
| Sunday, June 3, 2007 |
| Tidurlah, tidur.. Bidadari Kecilku! |
…Akhirnya, gadis itu datang. Lagi-lagi bersimpuh di tempat yang sama. Memejamkan mata, lalu menyapa di sela doa…
Selamat Pagi, Adik sayang….
Bagaimana kabarmu?
Maafkan, aku sudah lama sekali tak berkunjung.
Walau sesekali masih juga merindukanmu….
Masih ingatkah kau, terakhir kali aku mengunjungimu? Rasanya sudah lama sekali. Tidak, aku sama sekali tak melupakanmu. Hanya saja, bergelut dengan realitas kadang terasa lebih ringan ketimbang memelihara kenangan—walau sama pedihnya. Toh, aku tahu, kau pasti baik-baik saja.
Banyak hal telah berubah sejak terakhir kali aku mengunjungimu, Dik. Banyak sekali. Ternyata, hidup memang benar-benar menawarkan probabilitas (hampir) tanpa batas. Ah, aku merindukanmu....
Jika saja kau masih di sini, kita pasti akan jadi teman baik.
Aku mungkin akan berbagi kamar—dan berbagi ranjang—denganmu. Kau akan tertidur saat aku masih mendongeng tentang si Kancil yang tak jera mencuri ketimun. Dan esok paginya, kau pasti akan mengganggu tidurku, memaksaku membuka mata, seperti yang selalu kau lakukan sejak kau baru lahir. (iya, dulu Ibu pasti akan membiarkanmu berbaring di sisiku setiap pagi. Dan kau akan berceloteh sendiri. Atau berusaha menggapai wajahku dengan jemari mungilmu, dan mencakarnya. Mengusir mimpi yang belum sempat kuusaikan.)
Pun, sampai sekarang, aku masih sering memimpikanmu. Kadang samar, kadang sejelas sapaan pelangi: indah, namun tetap saja tak tersentuh. Kau bertambah besar. Dan cantik. Kau selalu tersenyum kala menemuiku di sela tidur. Aku benar-benar merindukanmu, Sayang....
Terkadang kami masih membicarakanmu, Dik: tentang pipimu yang memerah, matamu yang bulat dan bersinar, rambutmu yang tebal dan hitam, dan kebiasaanmu bangun jam tiga pagi. Tentang keenggananmu menerima ciuman (kau selalu menjerit tiap kali aku mengecupmu), juga tentang kecerdikanmu membunuh semut yang mampir ke wajahmu, padahal waktu itu kau belum genap dua bulan.
Kau selalu tertidur tiap kali selesai mandi. Kebiasaan yang aneh. Kami juga kerap membincangkan kegemaranmu melahap bubur Nestlé rasa cokelat. (Kau menghabiskan dua mangkuk kala aku menyuapimu pagi itu!). Dan kau tak suka digendong tanpa bergerak. Menyebalkan. Padahal, waktu itu, berat badanmu di atas rata-rata. Kau pasti ingat, betapa aku selalu mengomel jika harus menimangmu.
Kalau saja kau masih bersama kami, kau pasti akan jadi kesayangan. Bapak dan Ibu pasti akan membelamu jika kita bertengkar. Aa akan melindungimu jika kau berkelahi (iya, kami yakin, kau pasti akan jadi ‘preman’ ^_^). Dan aku... aku akan membiarkan rambutmu memanjang, lalu mengepang atau menguncirnya dengan pita warna-warni. Kau pasti akan suka kepang kelabang. (Bapak yang mengajariku membuat jalinannya.) Lalu, aku akan mengantarmu ke sekolah, menggenggam tanganmu, menghujanimu dengan ciuman, dan membantumu mengerjakan PR. Jika hari pengambilan raport tiba, aku yang akan datang ke sekolahmu. Karena Ibu pasti akan sibuk di sekolahnya, dan kita tak mau mengganggu Bapak yang sedang melukis, bukan? Dan kalau aku sedang tak ada kuliah, kau juga boleh ikut ke kampusku. Teman-temanku pasti akan menyukaimu. Karena kau menggemaskan. Lincah. Dan cerdas.
Aku yakin, andai saja kau beranjak besar, kau akan menjelma jadi matahari pagi. Bersinar, namun tak menyengat. Hangat, namun tak membakar. Semua orang akan menyukaimu. Atau minimal, mereka tak akan punya alasan untuk membencimu.
Ah, mimpi memang bisa jadi sangat menyakitkan. Aku terperosok ke perut bumi saat mengetahui bahwa kau memutuskan untuk pergi lebih dulu. Entah karena kehilanganmu, atau karena kehilangan mimpi. Mungkin keduanya.
Selamat Ulangtahun, Bidadariku sayang....
Percayalah, kau selalu terselip di antara doa kami.
(Tunggu aku. Aku pasti akan menyusulmu, entah kapan.)
...Gadis itu lalu bangkit, membersihkan tanah yang menempel di celananya. Airmata yang disembunyikannya mulai luruh. Rasa kehilangan itu masih ada. Walau tak lagi mendera. Tempat ini mulai tak terurus, pikirnya. Rerumputan liar mulai tumbuh. Ia lalu memutuskan untuk kembali minggu depan. Janji yang entah bisa terpenuhi atau tidak...
(Sometimes it’s harder to be the one who survives)
|
cerita gadisbintang @ 3:59:00 AM   |
|
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|