Akhir-akhir ini, saya amat-sangat-benar-benar terganggu dengan kampanye-kampanye yang dilancarkan kedua calon Gubernur Jakarta. Semua media mereka terjang. Hampir semua tokoh mereka rangkul, mulai dari Ali Sadikin, keluarga Doel, Bajuri, sampai siapalah-itu-seleb-perempuan-pacarnya-vokalis- Samsons-yang-saya-nggak-yakin-dia-ngerti-apa-yang-dia- omongin-di-iklan-kampanye itu.
Belum lagi baliho di mana-mana, slogan-slogan konyol bertebaran, kemacetan akibat pawai, plus kampanye dari-shoutbox-ke-shoutbox di dunia Blogger. Gerah saya dibuatnya.
Kemarin, saat makan siang di warteg dekat kantornya, pacar saya sempat mencuri dengar pembicaraan macam ini:
Pemuda I: Kira-kira sapa yang menang?
Pemuda II: Kayaknya sih, si B*w*. Duitnya lebih kenceng. Kemaren aja, cuma ngiter-ngiter [pawai kampanye, red] sebentar dikasih 25.000.
Pemuda I: *d*ng juga ngasih, kan?
Pemuda II: Tapi kampanyenya si *d*ng cuman ngasih 15.000. Kencengan B*w*. Pastilah, B*w* yang menang.
Reaksi saya waktu denger cerita ini: Heran, para cagub itu kok, nggak malu ya, disebut manusia!?
Bagi saya, puncak kekesalan saya terjadi saat bermalam Minggu dengan pacar tercinta, nonton The Simpsons. Tak disangka, tak dinyana, sebelum film dimulai, layar besar yang biasanya diisi trailer film-film terbaru, kini dihiasi iklan berdurasi hampir dua menit dari seorang calon berkumis. Waktu itu, saya setengah memekik begitu sadar kalau yang saya pelototi itu kampanye Gubernur, “AARRGGGHHH… MENJIJIKKAN!”
“Sssstttt,” sang Pacar langsung menenangkan sambil membungkam mulut saya dengan tangannya. Mungkin ia tak ingin diusir keluar dari bioskop karena dianggap punya pacar sinting.
Tapi, tulung ya, Pak Kumis! Saya susah-susah ke sini buat liat Homer yang botak. Bukan kepala Bapak yang penuh rambut-hitam-hasil-semiran itu. Jadi, kampanye di layar bioskop itu BLEBAY! IDE BURUK dan GANGGU BANGET! Kami datang untuk bersenang-senang. Melupakan proyek-proyek gagal dan nggak mutu dari Mr. S, atasan-Anda-sekarang itu. Jadi, puuuhhlleeeezzz, jangan racuni kami lagi dengan senyum-maut-sok-tebar-pesona Anda.
Jangan salah, saya bukannya tidak peduli dengan Jakarta. Saya malah sangat mencintai kota kelahiran saya ini. Saking cintanya, saya sampai-sampai tidak bisa mempercayakan nasibnya pada kedua calon birokrat yang mungkin akan membuat keputusan lebih bodoh dari water-way di masa depan. Saya tak peduli terdengar sinis, skeptis, dan pesimis. Sungguh, saya tak rela menyerahkan kota ini pada salah satu calon.
Mungkin, kekesalan saya sudah menumpuk dari awal. Saat saya tahu bahwa hanya calon dari partai yang boleh ikut pilkada. Sedangkan calon non-partai terpaksa memilih: jual diri ke partai, atau mundur dan cukup jadi RT. Apa-apaan sih, itu? Konyol! Partai malah jadi tempat melacurkan diri, menunggu klien dengan tawaran tertinggi. Apa bedanya sama lelang ikan Koi?
Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mencoblos minggu depan. Di mata saya, pemilihan Gubernur Jakarta cuma dagelan. Macam additional performance untuk melengkapi sandiwara 17-Agustusan di RT saya. Cuma dagangan partai. Pembodohan publik. Penipuan besar-besaran.
Saya ingat, seorang teman pernah berkata, “Not to choose is also a choice.” Kali ini, saya akan berpegang teguh pada postulatnya. Logika yang bodoh memang, betapa tidak memilih apa pun malah dianggap sebagai sebuah pilihan. Namun, rasanya, lebih baik saya membodohi diri sendiri, ketimbang dibodohi (calon) Bapak Gubernur—yang belum tentu lebih pintar dari Bapak saya. ^.^
Dan, ehm… soal kepedulian saya terhadap Jakarta? Tak perlu diragukan. Saya masih akan terus berusaha melakukan hal-hal nyata. Lebih baik tidak mencoblos dan mencoba melakukan “sesuatu” dengan tangan sendiri, ketimbang mencoblos, lalu tak mau tahu. Toh, mencoblos bukan ukuran kepedulian. Sama seperti seks yang bukan ukuran cinta. |