..Malam Berbintang..










Kerlip Sapa
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Kerlap-Kerlip
Semesta Lain
Serpihan Diri
Friday, August 31, 2007
September Datang Lagi

September datang lagi, Sayang.

Dan dedaunan masih luruh di jalan itu,

seperti tiga tahun lalu

: setapak kecil

dan hutan karet.


September datang lagi, Sayang.

Aromanya pun masih sama,

seperti tiga tahun lalu

: tanah basah

dan kupu-kupu.


September datang lagi, Sayang.

Kau dan aku

: menyisakan debar yang masih juga menggemuruh.



September is always to remember—

cerita gadisbintang @ 9:08:00 PM   9 comments
Saturday, August 25, 2007
Ah..

“Pangeran, bulan adalah kompas kita.

Tiap kali kau merindukanku,

tengoklah ia dan kenanglah aku.

: Aku pasti akan memandang ke tempat yang sama.”



“Ah, Putri… kau bukan kenangan. Kau impian.”

cerita gadisbintang @ 4:59:00 AM   10 comments
Monday, August 20, 2007
Lelah Jadi Penengah

Kalau ada tujuan mengapa saya dilahirkan ke dunia, pastilah untuk menjadi penengah. Sedari kecil, saya sudah terbiasa jadi aktivis rekonsiliasi antarteman. Mendamaikan pertengkaran. Merekatkan keretakan. Menyeimbangkan harmoni. Dan itu berlanjut sampai saya dewasa. Hampir di tiap sisi kehidupan.


Sungguh, bukan peran yang mudah. Terkadang, malah saya yang jadi korban. Serba salah. Saya tidak pernah berusaha membuat orang lain menyukai saya. Namun, tampaknya, saya berusaha terlalu keras membuat orang-orang saling menyukai satu sama lain. Saya orang yang mudah sekali bahagia. Sayangnya, saya lupa bahwa saya tidak bisa membuat semua orang bahagia.


Saya lelah berada di tengah.

Dan kali ini, saya memutuskan mundur.

Jadi, teman, kalau kalian mau berperang dan saling membunuh, silakan.

Saya tidak akan melarang.

Dan saya akan mencoba untuk tidak peduli.

cerita gadisbintang @ 6:16:00 AM   3 comments
Wednesday, August 15, 2007
Ehm...
Tuhan,
Udah, ah...
Udahan ya, mainannya!
Capek, nih!
cerita gadisbintang @ 8:41:00 AM   7 comments
Monday, August 6, 2007
Selepas Celotehan Panjang
Malam Senin, saya nginep di kos Rika. Sengaja datang bikin "surprise" kecil buat ultahnya. Selesai berpesta, kami cari nasi goreng ke Margonda. Tak sengaja, bertemu teman-teman lama di sana dan malah nongkrong sampai jam sebelas malam. Mengenang masa lalu. Berceloteh tentang rutinitas. Dan membicarakan masa depan.

Malam ini, sepulang kantor, saya janjian sama Tasha di Citos. Mumpung ia sedang cuti dari kantornya di Papua sana. Ngobrol berjam-jam. Membicarakan hidup. Dan perubahan-perubahannya. Rencananya nggak mau pulang (ke)malam(an). Nyatanya, makin larut, "kencan" yang tadinya hanya berdua jadi makin ramai. Karena, ajaibnya, satu demi satu teman lama bermunculan. Berseliweran begitu saja di depan tempat kami ngobrol. Tak sengaja. Sama sekali tak terduga. Apalagi janjian. Seolah semesta telah mengatur agar Kansas pindah ke Citos. ^.^

Gilanya, lepas pukul sembilan, beberapa teman yang memang datang ke Citos untuk nomat mulai meracuni saya untuk ikutan nonton. Dan saya mengiyakan. Begitu saja. Padahal Ibu sudah berteriak-teriak di telinga saya, menyuruh saya cepat pulang. Dan kantor sudah menunggu esok pagi. Lalu, duduklah kami. Menikmati Mr. Brooks sambil terus bertukar cerita.

Sampai di rumah, sudah setengah satu malam. Ah, saya pulang pagi! Melupakan deadline. Melupakan jam tidur yang makin menyempit.


Lelah. Tapi, saya bahagia. ^.^

(Dan sekarang, mari selesaikan pekerjaan, sembari menghadapi dilema: mau nyoblos ato nggak. Hihihi...)
cerita gadisbintang @ 9:37:00 PM   8 comments
Thursday, August 2, 2007
Pilkada Yang Mengada-ada

Akhir-akhir ini, saya amat-sangat-benar-benar terganggu dengan kampanye-kampanye yang dilancarkan kedua calon Gubernur Jakarta. Semua media mereka terjang. Hampir semua tokoh mereka rangkul, mulai dari Ali Sadikin, keluarga Doel, Bajuri, sampai siapalah-itu-seleb-perempuan-pacarnya-vokalis- Samsons-yang-saya-nggak-yakin-dia-ngerti-apa-yang-dia- omongin-di-iklan-kampanye itu.

Belum lagi baliho di mana-mana, slogan-slogan konyol bertebaran, kemacetan akibat pawai, plus kampanye dari-shoutbox-ke-shoutbox di dunia Blogger. Gerah saya dibuatnya.


Kemarin, saat makan siang di warteg dekat kantornya, pacar saya sempat mencuri dengar pembicaraan macam ini:

Pemuda I: Kira-kira sapa yang menang?

Pemuda II: Kayaknya sih, si B*w*. Duitnya lebih kenceng. Kemaren aja, cuma ngiter-ngiter [pawai kampanye, red] sebentar dikasih 25.000.

Pemuda I: *d*ng juga ngasih, kan?

Pemuda II: Tapi kampanyenya si *d*ng cuman ngasih 15.000. Kencengan B*w*. Pastilah, B*w* yang menang.

Reaksi saya waktu denger cerita ini: Heran, para cagub itu kok, nggak malu ya, disebut manusia!?


Bagi saya, puncak kekesalan saya terjadi saat bermalam Minggu dengan pacar tercinta, nonton The Simpsons. Tak disangka, tak dinyana, sebelum film dimulai, layar besar yang biasanya diisi trailer film-film terbaru, kini dihiasi iklan berdurasi hampir dua menit dari seorang calon berkumis. Waktu itu, saya setengah memekik begitu sadar kalau yang saya pelototi itu kampanye Gubernur, “AARRGGGHHH… MENJIJIKKAN!”

“Sssstttt,” sang Pacar langsung menenangkan sambil membungkam mulut saya dengan tangannya. Mungkin ia tak ingin diusir keluar dari bioskop karena dianggap punya pacar sinting.


Tapi, tulung ya, Pak Kumis! Saya susah-susah ke sini buat liat Homer yang botak. Bukan kepala Bapak yang penuh rambut-hitam-hasil-semiran itu. Jadi, kampanye di layar bioskop itu BLEBAY! IDE BURUK dan GANGGU BANGET! Kami datang untuk bersenang-senang. Melupakan proyek-proyek gagal dan nggak mutu dari Mr. S, atasan-Anda-sekarang itu. Jadi, puuuhhlleeeezzz, jangan racuni kami lagi dengan senyum-maut-sok-tebar-pesona Anda.


Jangan salah, saya bukannya tidak peduli dengan Jakarta. Saya malah sangat mencintai kota kelahiran saya ini. Saking cintanya, saya sampai-sampai tidak bisa mempercayakan nasibnya pada kedua calon birokrat yang mungkin akan membuat keputusan lebih bodoh dari water-way di masa depan. Saya tak peduli terdengar sinis, skeptis, dan pesimis. Sungguh, saya tak rela menyerahkan kota ini pada salah satu calon.


Mungkin, kekesalan saya sudah menumpuk dari awal. Saat saya tahu bahwa hanya calon dari partai yang boleh ikut pilkada. Sedangkan calon non-partai terpaksa memilih: jual diri ke partai, atau mundur dan cukup jadi RT. Apa-apaan sih, itu? Konyol! Partai malah jadi tempat melacurkan diri, menunggu klien dengan tawaran tertinggi. Apa bedanya sama lelang ikan Koi?


Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mencoblos minggu depan. Di mata saya, pemilihan Gubernur Jakarta cuma dagelan. Macam additional performance untuk melengkapi sandiwara 17-Agustusan di RT saya. Cuma dagangan partai. Pembodohan publik. Penipuan besar-besaran.


Saya ingat, seorang teman pernah berkata, “Not to choose is also a choice.” Kali ini, saya akan berpegang teguh pada postulatnya. Logika yang bodoh memang, betapa tidak memilih apa pun malah dianggap sebagai sebuah pilihan. Namun, rasanya, lebih baik saya membodohi diri sendiri, ketimbang dibodohi (calon) Bapak Gubernur—yang belum tentu lebih pintar dari Bapak saya. ^.^


Dan, ehm… soal kepedulian saya terhadap Jakarta? Tak perlu diragukan. Saya masih akan terus berusaha melakukan hal-hal nyata. Lebih baik tidak mencoblos dan mencoba melakukan “sesuatu” dengan tangan sendiri, ketimbang mencoblos, lalu tak mau tahu. Toh, mencoblos bukan ukuran kepedulian. Sama seperti seks yang bukan ukuran cinta.

cerita gadisbintang @ 5:18:00 AM   14 comments



Menanti Bintang Jatuh









Kerlip Lalu
Kerlip Inspirasi
Kerlip Makna
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan

deras dinginmu
sembilu hujanmu

-Tajam Hujanmu-
SDD
Kerling Mata
Web Counter
Get a Web Counter

Serbuk Bintang

http://edittag.blogspot.com
BLOGGER
Free Blogger Templates
Free Shoutbox Technology Pioneer