Seperti biasa, hanya dibutuhkan satu kunjungan ke dokter untuk membuat saya merasa bahwa diri saya sakit. Benar-benar sakit.
Sebenarnya ini cuma masalah kecil. Geraham saya mau tumbuh. Dan sakitnya nggak karuan. Nyut-nyutan. Kepala saya sampai pening. Sehari, dua hari, tiga hari. Saya biarkan. (Percayalah, saya seorang masokis yang menikmati rasa sakit dan anti-painkiller). Hari keempat, sang pacar memaksa saya ke dokter. Mungkin ia kasihan. Mungkin juga bosan. Karena tiap kali menelepon saya, yang didengarnya hanya perempuan sakit gigi yang hobi ngomel. Akhirnya, pergilah saya ke klinik gigi. Sendirian.
Dan yang saya khawatirkan terjadi juga. Hampir tiap kali pergi ke dokter, bukan rasa aman yang saya dapat, namun keyakinan. Yakin kalau sebentar lagi saya mati. Mati karena demam, atau cacar air, atau typhus, atau demam berdarah, atau geraham tumbuh. Mati hanya karena mata dokter yang menghujam dan mulutnya yang selalu menggelisahkan. Padahal, sungguh, saya tak ingin mati (karena hal-hal) konyol. Saya ingin kematian yang dramatis. Dan mati karena ocehan dokter tentu bukan salah satunya.
Dan dokter gigi kali ini tak berbeda dengan dokter-dokter yang pernah saya temui sebelumnya. Setelah memeriksa geraham saya, ia mulai nyerocos tentang betapa geraham saya tidak mendapat tempat, betapa gusi saya tak mau membuka diri dan memberi jalan pada geraham, betapa mudah hal itu menimbulkan infeksi, dan betapa saya harus secepatnya menjalani operasi kecil untuk menyobek gusi yang membandel—hal yang akan berakibat fatal jika tidak dilakukan. Tak lupa, ia mengajukan pertanyaan, berapa kali saya menyikat gigi dalam sehari. Dua kali, jawab saya. Pagi dan malam. Cukup jawaban pendek, dan ceramahnya meluncur kembali. Tentang risiko kuman, infeksi, dan kanker mulut. Mungkin ia menderita obsesif kompulsif, pikir saya. Atau harusnya, ia ganti profesi. Mungkin jadi guru, atau ustad. Karena ia lebih pintar ngomong ketimbang menyembuhkan.
Namun, percayalah, Teman… hampir mati nyut-nyutan di ruang praktik dokter gigi bukan pengalaman terburuk saya. Masih ada satu dokter yang takkan pernah bisa saya lupakan. ****
Dua tahun lalu, di semester terakhir perkuliahan, saya mengalami masalah yang cukup sensitif: keputihan. Sayangnya, saya tidak mendapatkan pendidikan seks yang cukup dan memadai. Jadi, bisa ditebak, reaksi saya adalah panik. Saya bertanya pada Ellisa, yang memiliki jauh lebih banyak ilmu seputar kesehatan organ reproduksi. Ia cuma bilang, penyebabnya macam-macam. Bisa stres, bisa kelelahan, bisa air yang tidak bersih—bisa berbahaya, bisa juga tidak. “Oh, iya… bisa juga nyebabin kanker leher rahim,” begitu tambahnya dengan ringan. Saya makin panik. “Mungkin lo cuma stres gara-gara skripsi atau air kos-an lo nggak bersih,” ia mencoba menenangkan saya. Saya masih panik. Akhirnya, ia menyarankan saya pergi ke dokter. Dan menurutlah saya.
Tanpa pikir panjang, dari kampus saya meluncur ke rumah sakit umum PR yang bisa dijangkau hanya dengan sekali naik angkot. Sampai di sana, saya disuruh mendaftar ke Spesialis Kulit dan Kelamin. Kulit dan Kelamin? Sungguh pengalaman tiada duanya, pikir saya saat itu.
Dan tepat sekali. Pengalaman itu memang tiada duanya. Dalam artian busuk yang sangat buruk.
Saya, yang (waktu itu) polos dan tak tahu apa-apa, melongok dan masuk ke ruang praktik dokter dengan wajah takut. Suara Ellisa terus terngiang di telinga saya. Kanker leher rahim. Kanker leher rahim. Kanker leher rahim. Kampret! Ibu dokter setengah baya menyambut saya dengan tatapan tajam. Saya takut. “Duduk.” Saya duduk. “Apa keluhannya?” Saya bingung, “Hmm… saya keputihan, Dok.” “Sudah lama?” “Hmm, belum. Itu bahaya nggak sih, Dok? Kata teman saya bisa gara-gara stres ya, Dok? Terus bisa nyebabin kanker leher rahim?” Pertanyaan-pertanyaan bernada panik langsung meluncur. Mencoba mengobati ketakutan. Dan dokter spesialis kulit dan kelamin di depan saya bereaksi dengan sangat tidak masuk akal. Dengan nada tinggi, ia (hampir terdengar seperti) menghardik saya. “Kamu diem dulu!! Gimana saya bisa kerja kalau kamu terus-terusan ngomong kayak gitu. Lagian, kenapa sih, kok kayaknya takut banget. Kamu seks bebas, ya???” Dan saya terngaga. Emosi.
Tolong ya, Bu Dokter yang pintar dan tahu segalanya. Saya ngerti Anda capek, mungkin kerja di rumah sakit umum seperti ini hasilnya nggak seberapa untuk ukuran spesialis. Tapi saya tekankan, tentu saja saya takut. Saya TIDAK TAHU APA-APA tentang tubuh saya. Tentang alat reproduksi saya. Jadi, wajar saja saya takut. Harusnya, dari dulu Anda mensosialisasikan ilmu Anda. Biar nggak ada lagi perempuan bodoh macam saya yang ketakutan cuma gara-gara keputihan.
Yang paling menghujam saya, tentu saja tuduhan yang diselipkannya di kalimat terakhir. Seks bebas? Hanya karena saya terlihat takut, ia menyimpulkan bahwa saya melakukan sesuatu yang salah, dan kesalahan itu adalah seks bebas?
Sungguh, saya tak akan pernah bisa lupa ekspresinya ketika menuduhkan hal itu. Bayangkan, ia bahkan belum memeriksa saya, dan sudah bisa menuduh saya melakukan seks bebas!
Saya sudah hendak beranjak dari ruang praktik itu. Hanya saja, saya tak ingin datang dengan sia-sia. Sebagian diri saya—yang tabah dan bodoh—memaksa saya tetap tinggal. “Pekerjaan kamu apa?” “Mahasiswi.” “Tinggal sama orangtua?” “Nggak. Kos.” Matanya menajam lagi. “Kamu seks bebas?” DUA KALI! Seks bebas? Maksud Dokter, seks sama siapa saja? Sama apa aja? Atau seks nggak bayar? Dokter sinting, ya?
“Dokter mau periksa sendiri?” tantang saya.
Ia tidak menjawab. Hanya membuka tirai di ruangan itu. Menyuruh saya membuka celana dan berbaring di tempat tidur, di balik tirai. Saya menurut. Dan ibu dokter yang sangat berdedikasi itu hanya memandang vagina saya dari jarak satu meter. Tanpa menyentuh apa pun!
Ia langsung beranjak kembali ke mejanya. Menuliskan saya resep. Tanpa sepatah kata pun. Saya menerima resep itu tanpa bertanya lagi. Dan langsung meninggalkan ruangan. Di depan ruang praktiknya, di depan suster yang bertugas memanggil pasien, saya sobek resep yang diberikannya. Dan jangan harap saya membayar. Saya tak peduli. Saya tak akan membayar biaya konsultasi dokter itu. Karena saya tidak merasa berkonsultasi. Saya merasa dilecehkan. Di ruang praktik dokter yang harusnya bebas nilai, saya malah merasa dihakimi. Dan itu lebih dari cukup.
Diiringi tatapan suster dan puluhan calon pasien, saya membuang resep itu ke tempat sampah. Dan berlalu. ****
Jadi, Teman… tolong, maklumilah kalau saya jadi agak antidokter. Kalau nggak parah-parah banget, saya memilih untuk jadi masokis ketimbang menghadapi dokter-dokter yang lebih rajin memperkenalkan bakteri-bakteri bernama latin daripada menenangkan pasien.
Satu lagi, untuk Anda (yang berniat jadi) spesialis Kulit & Kelamin, atau Kandungan dan semacamnya: tolong, tugas Anda menyembuhkan, bukan menilai moral. |