..Malam Berbintang..










Kerlip Sapa
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Kerlap-Kerlip
Semesta Lain
Serpihan Diri
Wednesday, September 12, 2007
Female, 23, Married

Female, 23, Married. Keterangan itu yang akan Anda lihat jika berkunjung ke account Friendster saya. Sungguh, saya bukan orang yang suka memalsukan identitas. Tidak di dunia maya. Apalagi di dunia nyata. Tapi, maaf saja, kalau status saya agak menipu.

Tadinya, saya nggak ambil pusing soal ‘penipuan kecil-kecilan’ ini, karena pada dasarnya, saya nggak pernah percaya 100% sama status yang dipampang di Friendster. Teman saya, yang kerjaannya tiap hari BW (baca: Bobogohan Wae—pacaran mulu, bo!) saja bisa mencantumkan Single. Sepupu saya yang sudah menikah malah memilih It’s Complicated. (Masuk akal, sih, mungkin memang kehidupan pernikahan itu complicated ya? Hihihi….).

Hal ini mulai menggelitik saya karena beberapa bulan belakangan ini, (lumayan) banyak teman lama yang menghubungi saya—baik lewat SMS, telepon, maupun e-mail—hanya untuk ngomel-ngomel: mereka menyangka saya sudah menikah dan nggak mengundang mereka. Awalnya saya bingung. Kok tahu-tahu mereka nyangkain saya udah nikah, sih?! Tapi, sodara-sodara, ungkapan “Tak ada asap kalau tak ada api” memang benarlah sangat! [sic!] Setelah ditelusuri, ternyata status Friendster saya-lah yang bikin mereka merasa ketinggalan gosip dan nyangkain saya beneran udah “melangkahi” mereka.

Setelah saya jelaskan kenyataan sebenarnya, mereka biasanya berkomentar, “Tumben, perempuan macem lo mau ngaku-ngaku merit. Nggak takut pastur?” Hah, sialan! Saya memang lajang, tapi maaf, Teman, bukan berarti saya jalang. Hehehe….

Hmm… kalo soal yang satu ini, harusnya saya menyalahkan sang pacar. *carikambingitem-mode: on* hihihi… Pasalnya, ia yang menginspirasi saya mengubah status yang tadinya In a Relationship menjadi Married. Gara-garanya, waktu itu kami baru saja bikin foto pre-prewed. Buat lucu-lucuan. Hasilnya ternyata ‘lucu’ beneran. Kami sepakat untuk memamerkan foto-foto itu di Friendster. Pacar lalu berkata, “Ay, ganti yuk, statusnya jadi Married, biar mecing ama potonya.” Tadinya saya agak ragu. Mengganti status jadi Married? Saya sih, mau aja. Tapi, gimana kalau nanti para sepupu saya nun jauh di propinsi lain melihat, lalu bertanya pada orangtuanya, dan pertanyan itu akhirnya sampai ke telinga orangtua saya? Bisa saja ini yang terjadi:

Bapak: *sibuk memelintir kumis* Kakaaaaakk… sini!! *pandangan dalam dan marah*

Saya: *sibuk memelintir rambut* Apaan, Pak?

Bapak: *sibuk memelintir telinga saya* Kamu apa-apaan??? Kamu udah nikah?

Saya: *sibuk memelintir telinga Bapak* Enak aja, Bapak kata siapa?

Bapak: *menghentikan pelintiran, tangannya kembali ke kumis* Dari internet.

Saya: *ikut memelintir kumis Bapak* Dari internet, gimana? Emang Feba artis, kawin aja ampe beredar di internet beritanya?

Bapak: Kamu jangan banyak omong, Intan dapet berita dari internet, dia tanya bapaknya, bapaknya tanya ama sepupu Mbah di Jawa, sepupu Mbah nggak tahu, terus nanya ama istrinya, istrinya nanya ama anaknya yang lagi kuliah di Bali. Anaknya yang kuliah di Bali itu kebetulan kenal ama Om Dedy, Om Dedy nanya ama Emak. Emak langsung pingsan. Anaknya itu juga kenal ama Aji, dia nanya ama Aji, Aji nanya sama Mbah. Sekarang, keluarga besar kita dari Sabang sampai Merauke udah tahu kalo kamu nikah mut’ah! Ayo, ngaku!!!!

Saya: *terbata-bata layaknya pemain sinetron* Aaaa…aaaapppaaaaa????

Berbahaya, bukan?

Jadi, selama beberapa minggu, sang pacar ber-single fighter dengan status Married, sedangkan saya cuma bisa melongo dan meneteskan liur tiap kali melihat profil Friendster-nya. Akhirnya, saya tak tahan. Huh, peduli amat sodara-sodara saya bingung liat status FS saya. Kalo saya dituduh kawin mut’ah, mending minta kawin aja sekalian. Hahaha… Jadilah status kami berganti. Semudah itu. Andai hidup seperti Friendster, yang tak perlu penghulu dan ijab kabul untuk mendapatkan status Married.

Sebenarnya juga, beberapa bulan setelah kami memajang status Married, saya sempat menggantinya kembali menjadi In a Relationship. Alasannya, tampang yang mejeng di foto yang waktu itu saya pajang adalah tampang Rika dan saya. Enak aja, masak sini disangka partner-nya Rika. Lesbi juga milih-milih, ya! *piss, Ka!* Namun, apalah daya, setelah bosan memajang dan memandang tampang Rika di Friendster saya, saya memilih untuk mengganti foto, sekaligus mengembalikan status Married. Mengikuti jejak sang pacar yang nggak pernah mengganti statusnya sejak kami mengubahnya waktu itu.

Jadi, teman-teman, sumpah, deh, saya belum nikah. Kalo nanti saya nikah beneran, pasti saya undang, kok! ^.^ Soal status Friendster saya? Yaahh, anggap aja itu doa. ^.^ Setubuuhhh?? *sibuk kedip-kedip genit*

cerita gadisbintang @ 2:29:00 PM   10 comments
Monday, September 10, 2007
Masokisme dan Gerakan Antidokter

Seperti biasa, hanya dibutuhkan satu kunjungan ke dokter untuk membuat saya merasa bahwa diri saya sakit. Benar-benar sakit.

Sebenarnya ini cuma masalah kecil. Geraham saya mau tumbuh. Dan sakitnya nggak karuan. Nyut-nyutan. Kepala saya sampai pening. Sehari, dua hari, tiga hari. Saya biarkan. (Percayalah, saya seorang masokis yang menikmati rasa sakit dan anti-painkiller). Hari keempat, sang pacar memaksa saya ke dokter. Mungkin ia kasihan. Mungkin juga bosan. Karena tiap kali menelepon saya, yang didengarnya hanya perempuan sakit gigi yang hobi ngomel. Akhirnya, pergilah saya ke klinik gigi. Sendirian.

Dan yang saya khawatirkan terjadi juga. Hampir tiap kali pergi ke dokter, bukan rasa aman yang saya dapat, namun keyakinan. Yakin kalau sebentar lagi saya mati. Mati karena demam, atau cacar air, atau typhus, atau demam berdarah, atau geraham tumbuh. Mati hanya karena mata dokter yang menghujam dan mulutnya yang selalu menggelisahkan. Padahal, sungguh, saya tak ingin mati (karena hal-hal) konyol. Saya ingin kematian yang dramatis. Dan mati karena ocehan dokter tentu bukan salah satunya.

Dan dokter gigi kali ini tak berbeda dengan dokter-dokter yang pernah saya temui sebelumnya. Setelah memeriksa geraham saya, ia mulai nyerocos tentang betapa geraham saya tidak mendapat tempat, betapa gusi saya tak mau membuka diri dan memberi jalan pada geraham, betapa mudah hal itu menimbulkan infeksi, dan betapa saya harus secepatnya menjalani operasi kecil untuk menyobek gusi yang membandel—hal yang akan berakibat fatal jika tidak dilakukan. Tak lupa, ia mengajukan pertanyaan, berapa kali saya menyikat gigi dalam sehari. Dua kali, jawab saya. Pagi dan malam. Cukup jawaban pendek, dan ceramahnya meluncur kembali. Tentang risiko kuman, infeksi, dan kanker mulut. Mungkin ia menderita obsesif kompulsif, pikir saya. Atau harusnya, ia ganti profesi. Mungkin jadi guru, atau ustad. Karena ia lebih pintar ngomong ketimbang menyembuhkan.

Namun, percayalah, Teman… hampir mati nyut-nyutan di ruang praktik dokter gigi bukan pengalaman terburuk saya. Masih ada satu dokter yang takkan pernah bisa saya lupakan.

****

Dua tahun lalu, di semester terakhir perkuliahan, saya mengalami masalah yang cukup sensitif: keputihan. Sayangnya, saya tidak mendapatkan pendidikan seks yang cukup dan memadai. Jadi, bisa ditebak, reaksi saya adalah panik. Saya bertanya pada Ellisa, yang memiliki jauh lebih banyak ilmu seputar kesehatan organ reproduksi. Ia cuma bilang, penyebabnya macam-macam. Bisa stres, bisa kelelahan, bisa air yang tidak bersih—bisa berbahaya, bisa juga tidak. “Oh, iya… bisa juga nyebabin kanker leher rahim,” begitu tambahnya dengan ringan. Saya makin panik. “Mungkin lo cuma stres gara-gara skripsi atau air kos-an lo nggak bersih,” ia mencoba menenangkan saya. Saya masih panik. Akhirnya, ia menyarankan saya pergi ke dokter. Dan menurutlah saya.

Tanpa pikir panjang, dari kampus saya meluncur ke rumah sakit umum PR yang bisa dijangkau hanya dengan sekali naik angkot. Sampai di sana, saya disuruh mendaftar ke Spesialis Kulit dan Kelamin. Kulit dan Kelamin? Sungguh pengalaman tiada duanya, pikir saya saat itu.

Dan tepat sekali. Pengalaman itu memang tiada duanya. Dalam artian busuk yang sangat buruk.

Saya, yang (waktu itu) polos dan tak tahu apa-apa, melongok dan masuk ke ruang praktik dokter dengan wajah takut. Suara Ellisa terus terngiang di telinga saya. Kanker leher rahim. Kanker leher rahim. Kanker leher rahim. Kampret!

Ibu dokter setengah baya menyambut saya dengan tatapan tajam. Saya takut.

“Duduk.”

Saya duduk.

“Apa keluhannya?”

Saya bingung, “Hmm… saya keputihan, Dok.”

“Sudah lama?”

“Hmm, belum. Itu bahaya nggak sih, Dok? Kata teman saya bisa gara-gara stres ya, Dok? Terus bisa nyebabin kanker leher rahim?” Pertanyaan-pertanyaan bernada panik langsung meluncur. Mencoba mengobati ketakutan.

Dan dokter spesialis kulit dan kelamin di depan saya bereaksi dengan sangat tidak masuk akal. Dengan nada tinggi, ia (hampir terdengar seperti) menghardik saya. “Kamu diem dulu!! Gimana saya bisa kerja kalau kamu terus-terusan ngomong kayak gitu. Lagian, kenapa sih, kok kayaknya takut banget. Kamu seks bebas, ya???”

Dan saya terngaga.

Emosi.

Tolong ya, Bu Dokter yang pintar dan tahu segalanya. Saya ngerti Anda capek, mungkin kerja di rumah sakit umum seperti ini hasilnya nggak seberapa untuk ukuran spesialis. Tapi saya tekankan, tentu saja saya takut. Saya TIDAK TAHU APA-APA tentang tubuh saya. Tentang alat reproduksi saya. Jadi, wajar saja saya takut. Harusnya, dari dulu Anda mensosialisasikan ilmu Anda. Biar nggak ada lagi perempuan bodoh macam saya yang ketakutan cuma gara-gara keputihan.

Yang paling menghujam saya, tentu saja tuduhan yang diselipkannya di kalimat terakhir. Seks bebas? Hanya karena saya terlihat takut, ia menyimpulkan bahwa saya melakukan sesuatu yang salah, dan kesalahan itu adalah seks bebas?

Sungguh, saya tak akan pernah bisa lupa ekspresinya ketika menuduhkan hal itu.

Bayangkan, ia bahkan belum memeriksa saya, dan sudah bisa menuduh saya melakukan seks bebas!

Saya sudah hendak beranjak dari ruang praktik itu. Hanya saja, saya tak ingin datang dengan sia-sia. Sebagian diri saya—yang tabah dan bodoh—memaksa saya tetap tinggal.

“Pekerjaan kamu apa?”

“Mahasiswi.”

“Tinggal sama orangtua?”

“Nggak. Kos.”

Matanya menajam lagi. “Kamu seks bebas?”

DUA KALI!

Seks bebas? Maksud Dokter, seks sama siapa saja? Sama apa aja? Atau seks nggak bayar? Dokter sinting, ya?

“Dokter mau periksa sendiri?” tantang saya.

Ia tidak menjawab. Hanya membuka tirai di ruangan itu. Menyuruh saya membuka celana dan berbaring di tempat tidur, di balik tirai.

Saya menurut.

Dan ibu dokter yang sangat berdedikasi itu hanya memandang vagina saya dari jarak satu meter. Tanpa menyentuh apa pun!

Ia langsung beranjak kembali ke mejanya. Menuliskan saya resep. Tanpa sepatah kata pun. Saya menerima resep itu tanpa bertanya lagi. Dan langsung meninggalkan ruangan. Di depan ruang praktiknya, di depan suster yang bertugas memanggil pasien, saya sobek resep yang diberikannya. Dan jangan harap saya membayar. Saya tak peduli. Saya tak akan membayar biaya konsultasi dokter itu. Karena saya tidak merasa berkonsultasi. Saya merasa dilecehkan. Di ruang praktik dokter yang harusnya bebas nilai, saya malah merasa dihakimi. Dan itu lebih dari cukup.

Diiringi tatapan suster dan puluhan calon pasien, saya membuang resep itu ke tempat sampah. Dan berlalu.

****

Jadi, Teman… tolong, maklumilah kalau saya jadi agak antidokter. Kalau nggak parah-parah banget, saya memilih untuk jadi masokis ketimbang menghadapi dokter-dokter yang lebih rajin memperkenalkan bakteri-bakteri bernama latin daripada menenangkan pasien.

Satu lagi, untuk Anda (yang berniat jadi) spesialis Kulit & Kelamin, atau Kandungan dan semacamnya: tolong, tugas Anda menyembuhkan, bukan menilai moral.

cerita gadisbintang @ 1:57:00 PM   2 comments
Saturday, September 8, 2007
Resign... hiks!
Hmmm...
Ini hari terakhir saya di kantor.
Hiks...
Sedih.
cerita gadisbintang @ 1:40:00 PM   0 comments



Menanti Bintang Jatuh









Kerlip Lalu
Kerlip Inspirasi
Kerlip Makna
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan

deras dinginmu
sembilu hujanmu

-Tajam Hujanmu-
SDD
Kerling Mata
Web Counter
Get a Web Counter

Serbuk Bintang

http://edittag.blogspot.com
BLOGGER
Free Blogger Templates
Free Shoutbox Technology Pioneer