..Malam Berbintang..










Kerlip Sapa
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Kerlap-Kerlip
Semesta Lain
Serpihan Diri
Wednesday, November 21, 2007
Semerah Senja

Di kereta aku duduk.

Den Haag-Leiden.

Senja tersenyum di balik jendela.

Aku membalasnya.

Bapak tua di seberang lalu menyapa:

Siapa yang kau pikirkan?

Aku tersipu.

Kekasih?

Lagi-lagi tersipu.

Pipimu memerah, kau pasti sangat mencintainya.

Begitu simpulnya.

Aku tak berkata-kata.

Senyumku makin lebar:

cuma kamu yang bisa membuatku semerah senja.

cerita gadisbintang @ 7:29:00 PM   11 comments
Mata Pertama di Bulan Februari

Nama lengkap saya Febrianita Purwani.

Dan tak banyak orang yang mengetahuinya.

Bahkan mereka yang sudah mengenal saya bertahun-tahun.


Yayaya… nama lengkap saya Febrianita Purwani.

Dan Feba adalah nama panggilan saya.

Jangan salah, saya nggak ngarang-ngarang nama panggilan sendiri, seperti yang dilakukan teman-teman waktu SMP: Tauhid berubah jadi Bule, Irwansyah bertransformasi jadi Kiting, saya bahkan lupa siapa nama asli teman lama saya, si Oelil. Tidak, Feba adalah nama yang juga diberikan ayah saya.


Alkisah, saat mengandung, jika anak di perutnya perempuan, ibu saya berniat menamakannya Sheba, julukan si Ratu Balqis. Sayangnya, ayah saya tak suka menjiplak begitu saja: ia ingin nama yang personal. Nama yang diciptakannya sendiri. Dan ayah saya yang sangat kreatif itu akhirnya menemukan jawaban: diberikannya saya nama Febrianita Purwani. PLUS nama panggilan Feba. (Jadi, catat, nama Feba sudah saya miliki sejak lahir.) Selain terdengar mirip Sheba (biar ibu saya nggak ngambek), Feba juga punya arti: Fajar Barokah. Harusnya memang Faba, tapi demi ibu saya, berputarlah “a” pertama menjadi “e”: Feba.


Nama lengkap saya Febrianita Purwani.

Dan saya lebih suka menyebutnya nama teknis.

Karena nama itu hanya dipakai untuk hal-hal teknis. Hanya tercantum di berbagai dokumen, tanpa pernah benar-benar saya miliki. Ah, jangankan memiliki, menyebutnya saja saya jarang. Nama itu selalu saya sembunyikan. Saya simpan di kotak gelap dan pengap. Dan cuma boleh nampak di Akte, KTP, atau SIM.


Nama lengkap saya Febrianita Purwani.

Dan saya selalu menggunakan nama Feba Sukmana.

Selalu nama itu yang saya pakai. E-mail, YM, Friendster, kartu nama, tandatangan, tulisan, editan, terjemahan, siaran, dan di sejuta penanda identitas tak resmi lain. Tentu saja, hal ini kadang bermasalah. Pernah, ketika wawancara kerja di sebuah penerbitan, si pewawancara sempat tak percaya bahwa saya telah mengedit dan menerjemahkan beberapa buku. Pasalnya, ketika ia cek, nama yang tercantum di Katalog Dalam Terbitan adalah Feba Sukmana. Sedangkan CV orang yang duduk di depannya jelas-jelas bertuliskan Febrianita Purwani. Itu baru satu kasus. Saya punya lebih dari sepuluh kasus macam itu: dari telepon salah sambung, absen sekolah, sampai surat rekomendasi resmi.


Nama lengkap saya Febrianita Purwani.

Dan saya tidak pernah merasa memilikinya.

Sejak bayi, saya terbiasa disapa Feba. Saya nggak akan nengok ketika ada yang memanggil nama Febri. Bukan karena sombong atau belagu, tapi karena saya tidak merasa memiliki nama itu. Dan itu tidak dibuat-buat. Pernah, ketika meninggalkan sebuah kantor selepas wawancara kerja, saya melenggang menyusuri koridor. Menuju lift. Sementara Mbak Resepsionis teriak-teriak memanggil nama seorang Febri. Saya pikir, si Febri bolot banget, dipanggil segitu kencengnya, kok, nggak denger. Detik berikutnya, baru saya sadari: saya-lah yang sedari tadi dipanggil.


Nama lengkap saya Febrianita Purwani.

Dan saya tidak menyukainya. Entah mengapa.

Mungkin karena tidak terbiasa, saya jadi tak menyukai nama ini. Berbagai alasan saya cari-cari: Namanya pasaran banget-lah. Banyak orang yang namanya Febri-lah. Terdengar Jawa sekali-lah. (Padahal saya nggak pernah ngerasa jadi orang Jawa. Pun Sunda. Tolong saya, saya tak punya identitas. T_T).


Nama lengkap saya Febrianita Purwani.

Dan saya harus menyebutnya hari ini.

Di depan ibu petugas imigrasi di Gemeente Tilburg. Demi izin tinggal sementara di negara dingin penuh kincir angin.

Ia tersenyum. Nama yang indah, katanya.

Saya balas tersenyum. Mungkin nama itu terdengar eksotis di telinga Kaukasian-nya.

Ada arti khusus di balik nama itu?—tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan yang melempar saya ke entah berapa belas tahun yang lalu.


Kala itu, saya menemukan jurnal harian ayah saya. Year 1984, tercetak besar-besar di sampulnya. Saya telusuri lembar demi lembarnya. Sajak. Sketsa. Kolase. Celotehan tak tentu arah. Jadwal pekerjaan. (Ia memang suka menulis. Puitis. Puisinya bagus-bagus). Sampai di bulan Februari. Tanggal enam. Hari ketika saya dilahirkan.


Saya lupa kata-kata yang dituliskannya. Yang pasti, dari situ saya mengetahui arti nama saya: Febrianita berasal dari Febri – A – Netra. Febri karena saya lahir di bulan Februari. A karena saya anak pertama. Dan Netra adalah mata. Penglihatan. Satu lagi yang saya ingat: ayah saya menyudahi jurnalnya hari itu dengan kalimat, Selamat datang, wahai, Mata Pertama di Bulan Februari.


Nou, Mata Pertama di Bulan Februari. Nama yang indah. Saya akan selalu mengingatnya,” begitu kata Ibu Petugas ketika saya beranjak keluar dari ruangannya.

Saya hanya tersenyum miris.

Ah, seharusnya selama ini saya juga mengingatnya.

cerita gadisbintang @ 7:03:00 PM   2 comments
Sunday, November 18, 2007
Malam Minggu Produktif!
Saya memanfaatkan malam Minggu yang sunyi-sepi-sendiri ini dengan sangat produktif: posting foto! ^.^ Jadi, teman-teman, bagi Anda yang malam Minggu-nya sesepi saya *curhat-mode: on* hehehe, silakan diintip di sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, dan sini. Tuuhh, produktif, kan? ^.^

Sedangkan bagi Anda yang tak punya waktu untuk repot-repot klik sana-sini, saya persembahkan sebuah mahakarya, pose paling menggiurkan dari model tanah air yang sangat saya rindukan: Rika Sylfentri.



Dan di bawah mahakarya ini, saya akan menambahkan pesan moral yang amatlah sangat penting: Jangan terlalu sering memakai koyo cabe jika kulit Anda sensitif. hehehe...


Selamat bermalam panjang yaa.. ^.^
Semoga malam Anda tidak sepanjang saya!

*curhatlagi*

hahahahaha...
cerita gadisbintang @ 5:00:00 PM   0 comments
Wednesday, November 14, 2007
Sepotong Fragmen Yang Mampir Pagi Itu: Tak Lelahkah Ia?

Pagi itu sang gadis terbangun dan menemukan setumpuk surat di samping ranjang. Tersenyum-senyum ia membaca semuanya. Terkikik-kikik menghayati kisah kawan-kawannya. Baru saja hendak beranjak, jendela menguak. Angin utara kembali mengantarkan sepotong surat. Mendarat dengan manis di pangkuannya. Alisnya bertaut.

Nama itu. Benarkah ia?

Sampul suratnya yang muram memperkuat dugaan. Pasti. Pasti ia.

Gadis itu menghela napas. Menghitung-hitung. Tujuh tahun. Tidak, delapan. Atau tujuh? Ah, entahlah.

Tak lelahkah ia?

Sang gadis menggigit bibir. Mengingat pemuda yang kadang menyeruak tanpa permisi dalam hidupnya. Datang. Dan pergi.

Ribuan hari lalu, pemuda itu mengunjunginya untuk pertama kali. Sang gadis tak pernah mengundangnya. Pun tak memintanya pergi. Dibiarkannya pemuda itu berdiam diri. Dekat-dekat. Dibiarkannya pemuda itu memandanginya. Lekat-lekat.

Ia dan pemuda itu. Bukan kisah indah. Tidak membingungkan. Dan sangat sederhana. Sang gadis tak pernah mencintai pemuda itu. Namun ia membiarkannya di sana. Dekat dan lekat. Gadis itu tidak merasa nyaman. Tidak pula terganggu. Mungkin sang gadis hanya ingin tahu. Penasaran. Pelarian.

Suatu purnama, pemuda itu menyatakan cinta. Dan sang gadis mengusirnya. Pemuda itu beranjak. Namun tak pernah benar-benar pergi. Kadang ia kembali singgah. Mencoba mengetuk pintu. Walau sang gadis telah membangun pagar. Tinggi-tinggi.

Sang gadis membaca surat itu. Fragmen singkat. Selalu fragmen singkat yang dikirimkannya. Pemuda itu pujangga. Dan selalu menulis kegetiran.

Ah, tak lelahkah ia?

Sang gadis beranjak. Bergegas meraih pena dan helaian kertas. Berniat menitipkan balasan pada angin utara yang masih menunggu. Namun berhenti di tengah jalan. Membaca fragmen itu sekali lagi. Lalu melipatnya rapi. Menyimpannya di antara tumpukan masa lalu.

cerita gadisbintang @ 7:45:00 AM   2 comments
Tuesday, November 6, 2007
Cokelat, Sehat, dan Identitas

Hari ini kami masih membahas poskolonialisme dan aplikasinya dalam karya sastra dan hasil budaya. Dari teori Orientalisme-nya Edward Said, diskusi lalu melebar ke politisasi warna kulit. Dan terkejutlah saya karena teman-teman sekelas tak tahu bahwa Indonesia—dan Asia—terkena demam kulit putih.

Waarom willen jullie blank worden?” tanya seorang teman sekelas.

Dan, tentu saja, saya yang harus menjawabnya. Saya satu-satunya orang Asia di situ. Mengapa orang Asia ingin berkulit putih? Hmm… satu, dua detik saya terdiam. Kenapa, ya?

Dan mengecaplah saya. Bahwa—dihubungkan dengan teori Orientalisme—orang Asia mungkin ingin berkulit putih karena mereka ingin lepas dari label the other. Mereka ingin menyerupai pihak dominan. Mungkin ini masalah identitas. Masalah cara orang Asia melihat diri sendiri dan eksistensi mereka.**

Atau bisa juga, putih jadi tujuan karena ia adalah representasi kenyamanan. Ia mencerminkan tingkat sosial dan ekonomi kelas atas yang “jarang kena matahari”. Perempuan—atau laki-laki—berkulit putih (hampir) selalu dianggap lebih terawat dan lebih mriyayi ketimbang mereka yang berkulit cokelat. Sekali lagi, ini masalah identitas. Masalah bagaimana kita melihat diri sendiri. Selanjutnya, kapitalisme yang mengambil alih. Memanfaatkan celah. Mempersenjatai diri dengan media. Mengkampanyekan peluang dagang. Dan meletuslah demam produk pemutih. Dari TjeFuk sampai SK II.

Dan saya tak mau kalah. Saya mengakhiri jawaban dengan pertanyaan balasan. Mengapa mereka ingin berkulit cokelat?

Jawaban mereka kira-kira begini:

“Yahh, karena kulit cokelat terlihat lebih sehat. Kalo lo putih dan pucat, orang-orang bakal nyangka lo sakit.”

Mengecewakan.

Menurut saya, pasti ada alasan yang lebih mendasar ketimbang hanya karena takut dianggap pesakitan.

Baru saja saya ingin menyanggah. Bel berbunyi. Kelas bersiap bubar. Saya mangkel.

Dan dosen saya menutup diskusi itu dengan pertanyaan, “Wil je blank worden, Feba?”

Saya menatapnya, lalu memandang sekeliling.

Menggeleng.

“Nee. Ik ben tevreden met mijn kleur en ik ben er trots op.”

Saya puas dengan warna saya. Dan saya bangga berkulit cokelat.

****

**Ceritanya catatan kaki, nih (hehehe..):

Saya selalu berpikir bahwa kita—orang Asia, atau orang Indonesia, deh—menganggap diri kita lebih rendah dari orang ‘barat’. Entah, mungkin kita terlalu lama dijajah, sampai kepercayaan dan kebanggaan diri pun hanya tinggal tipis tersisa. Dan ketika bicara masalah kecantikan, melongoklah kita yang menderita krisis identitas ini ke belahan bumi bagian ‘sana’: tinggi, putih, dengan mata warna-warni. Mungkin itulah sebabnya, (beberapa) kriteria semacam itu turut larut dalam pembentukan konsep kecantikan yang, menurut saya, sangat tidak masuk akal dan digeneralisasi habis-habisan. Mungkin itu sebabnya beberapa dari kita rela suntik putih, padahal sumpah-deh-si-dokter-yang-nyuntik-juga-nggak-tau- cairan-apa-yang-disuntikkan. (Ini serius dan nyata. Saya sempat bertanya kepada seorang dokter kecantikan ketika sedang menemani seorang teman yang rela bokongnya pegal-pegal terkena jarum suntik demi resepsi pernikahan dengan kulit kinclong. Dan jawaban si dokter cuma, “Ya... obat putih.” Jawaban yang sungguh sangat aduhai!)

PS: Nanya lagi nih, sebenarnya kenapa ya, orang Asia pengen berkulit putih dan orang bule ngotot berkulit cokelat? Ada yang bisa kasih pencerahan?

cerita gadisbintang @ 5:37:00 PM   8 comments



Menanti Bintang Jatuh









Kerlip Lalu
Kerlip Inspirasi
Kerlip Makna
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan

deras dinginmu
sembilu hujanmu

-Tajam Hujanmu-
SDD
Kerling Mata
Web Counter
Get a Web Counter

Serbuk Bintang

http://edittag.blogspot.com
BLOGGER
Free Blogger Templates
Free Shoutbox Technology Pioneer