Nama lengkap saya Febrianita Purwani. Dan tak banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan mereka yang sudah mengenal saya bertahun-tahun.
Yayaya… nama lengkap saya Febrianita Purwani. Dan Feba adalah nama panggilan saya. Jangan salah, saya nggak ngarang-ngarang nama panggilan sendiri, seperti yang dilakukan teman-teman waktu SMP: Tauhid berubah jadi Bule, Irwansyah bertransformasi jadi Kiting, saya bahkan lupa siapa nama asli teman lama saya, si Oelil. Tidak, Feba adalah nama yang juga diberikan ayah saya.
Alkisah, saat mengandung, jika anak di perutnya perempuan, ibu saya berniat menamakannya Sheba, julukan si Ratu Balqis. Sayangnya, ayah saya tak suka menjiplak begitu saja: ia ingin nama yang personal. Nama yang diciptakannya sendiri. Dan ayah saya yang sangat kreatif itu akhirnya menemukan jawaban: diberikannya saya nama Febrianita Purwani. PLUS nama panggilan Feba. (Jadi, catat, nama Feba sudah saya miliki sejak lahir.) Selain terdengar mirip Sheba (biar ibu saya nggak ngambek), Feba juga punya arti: Fajar Barokah. Harusnya memang Faba, tapi demi ibu saya, berputarlah “a” pertama menjadi “e”: Feba.
Nama lengkap saya Febrianita Purwani. Dan saya lebih suka menyebutnya nama teknis. Karena nama itu hanya dipakai untuk hal-hal teknis. Hanya tercantum di berbagai dokumen, tanpa pernah benar-benar saya miliki. Ah, jangankan memiliki, menyebutnya saja saya jarang. Nama itu selalu saya sembunyikan. Saya simpan di kotak gelap dan pengap. Dan cuma boleh nampak di Akte, KTP, atau SIM.
Nama lengkap saya Febrianita Purwani. Dan saya selalu menggunakan nama Feba Sukmana. Selalu nama itu yang saya pakai. E-mail, YM, Friendster, kartu nama, tandatangan, tulisan, editan, terjemahan, siaran, dan di sejuta penanda identitas tak resmi lain. Tentu saja, hal ini kadang bermasalah. Pernah, ketika wawancara kerja di sebuah penerbitan, si pewawancara sempat tak percaya bahwa saya telah mengedit dan menerjemahkan beberapa buku. Pasalnya, ketika ia cek, nama yang tercantum di Katalog Dalam Terbitan adalah Feba Sukmana. Sedangkan CV orang yang duduk di depannya jelas-jelas bertuliskan Febrianita Purwani. Itu baru satu kasus. Saya punya lebih dari sepuluh kasus macam itu: dari telepon salah sambung, absen sekolah, sampai surat rekomendasi resmi.
Nama lengkap saya Febrianita Purwani. Dan saya tidak pernah merasa memilikinya. Sejak bayi, saya terbiasa disapa Feba. Saya nggak akan nengok ketika ada yang memanggil nama Febri. Bukan karena sombong atau belagu, tapi karena saya tidak merasa memiliki nama itu. Dan itu tidak dibuat-buat. Pernah, ketika meninggalkan sebuah kantor selepas wawancara kerja, saya melenggang menyusuri koridor. Menuju lift. Sementara Mbak Resepsionis teriak-teriak memanggil nama seorang Febri. Saya pikir, si Febri bolot banget, dipanggil segitu kencengnya, kok, nggak denger. Detik berikutnya, baru saya sadari: saya-lah yang sedari tadi dipanggil.
Nama lengkap saya Febrianita Purwani. Dan saya tidak menyukainya. Entah mengapa. Mungkin karena tidak terbiasa, saya jadi tak menyukai nama ini. Berbagai alasan saya cari-cari: Namanya pasaran banget-lah. Banyak orang yang namanya Febri-lah. Terdengar Jawa sekali-lah. (Padahal saya nggak pernah ngerasa jadi orang Jawa. Pun Sunda. Tolong saya, saya tak punya identitas. T_T).
Nama lengkap saya Febrianita Purwani. Dan saya harus menyebutnya hari ini. Di depan ibu petugas imigrasi di Gemeente Tilburg. Demi izin tinggal sementara di negara dingin penuh kincir angin. Ia tersenyum. Nama yang indah, katanya. Saya balas tersenyum. Mungkin nama itu terdengar eksotis di telinga Kaukasian-nya. Ada arti khusus di balik nama itu?—tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan yang melempar saya ke entah berapa belas tahun yang lalu.
Kala itu, saya menemukan jurnal harian ayah saya. Year 1984, tercetak besar-besar di sampulnya. Saya telusuri lembar demi lembarnya. Sajak. Sketsa. Kolase. Celotehan tak tentu arah. Jadwal pekerjaan. (Ia memang suka menulis. Puitis. Puisinya bagus-bagus). Sampai di bulan Februari. Tanggal enam. Hari ketika saya dilahirkan.
Saya lupa kata-kata yang dituliskannya. Yang pasti, dari situ saya mengetahui arti nama saya: Febrianita berasal dari Febri – A – Netra. Febri karena saya lahir di bulan Februari. A karena saya anak pertama. Dan Netra adalah mata. Penglihatan. Satu lagi yang saya ingat: ayah saya menyudahi jurnalnya hari itu dengan kalimat, Selamat datang, wahai, Mata Pertama di Bulan Februari.
“Nou, Mata Pertama di Bulan Februari. Nama yang indah. Saya akan selalu mengingatnya,” begitu kata Ibu Petugas ketika saya beranjak keluar dari ruangannya. Saya hanya tersenyum miris. Ah, seharusnya selama ini saya juga mengingatnya. |