|
| Wednesday, January 30, 2008 |
| Skor Terakhir di Cruquius-Land: 3-0 |
Si kembar Erik dan Niels termasuk mudah panik. Dan saya suka sekali memanfaatkan kepanikan mereka. Yang biasanya jadi korban adalah Erik. Soalnya ia lebih gampang panik daripada Niels. Jadi lebih seru. Hehehe...
Kali pertama saya iseng adalah beberapa bulan yang lalu. Hari itu kami jalan-jalan bertiga. Beredar di sekitaran Harlemmer- dan Breestraat. (Agenda mereka: hunting DVD dan beli tong sampah besar untuk di dapur. Agenda saya: hunting selimut dan seprai. Agenda kami: belanja bahan makanan. Lengkap!)
Pemberhentian pertama waktu itu adalah Blokker: beli tong sampah. Sembari menenteng-nenteng tong sampah yang ukurannya hampir sama dengan tubuh saya, kami beranjak ke Van Leest. Mulailah mereka hunting film Asia. Bosan menunggu (Booo, pelem Asia gitu.. di Glodok juga banyak pelem Cina yang gocengan), saya tiba-tiba menemukan ide cemerlang. Saya perhatikan tampang mereka: busyet, lebih serius dari Aktivis Perdamaian Dunia yang mikirin krisis di Kenya. Baguslah. Perlahan, tong sampah besar yang tadinya berdiri gagah di samping Erik, saya pindahkan ke pojok. Di balik tiang besar. Tersembunyi. Saya lalu sok ikutan sibuk lihat-lihat DVD. Beberapa menit kemudian Erik baru menyadari bahwa tong sampah raksasanya menghilang. Saya menunduk makin dalam. Mencoba menyembunyikan senyum. Walau mata saya tak bisa lepas dari pemandangan mahaindah: PANIK, Chuy! Hahahaha… 
Dan inilah yang dilakukan Meneer Erik: tengok kanan-kiri, nggak ada. Berjalan tiga meter ke kanan dan ke kiri, nihil. Melongok ke rak DVD sebelah, nada. Mengedarkan pandangan ke penjuru Van Leest, niets! Wajahnya mulai panik: alisnya berkerut, pipinya memerah, matanya serius. Ia tengok kanan-kiri, berniat mencari petugas toko. Kayaknya dia pikir, si tong sampah ‘diamankan’ petugas. “Wat is er?” tanya saya sok peduli.
“Tong sampah!” Saya memasang tampang polos. Ia makin panik. Lama-lama saya tak tahan. Saya mulai cekikikan.  “Waarom lach je?” “Die is daar,” kata saya, menunjuk ke ‘pojok rahasia’, di sela cekikikan yang makin mengerikan. “YOU, MEAN GIRL!!!”
Dan tawa saya makin menggelegar.
*****
Kali kedua adalah hari Minggu kemarin.
Jeroen, abang mereka, dan Carla, calon istrinya, datang mengunjungi kami. Setelah beberapa jam ngobrol dan makan, mereka pamit. Niels mengantarkan mereka ke parkiran. Sedangkan saya dan Erik berdiri di balkon. Menunggu kesempatan melambai-lambaikan tangan dari lantai tujuh, bagai penumpang Titanic yang mau berlayar. Tiba-tiba, triiingggg. Kira-kira apa yang bakal dilakukan Erik kalau ia pikir kami terkunci di luar dan nggak bisa masuk rumah? Itu yang ada di pikiran saya. Setelah meyakinkan diri kalau saya mengantungi kunci rumah, saya tutup pintu pelan-pelan. Erik masih nggak sadar, dia masih asyik ngeliatin Jeroen, Carla, dan Niels di parkiran. Setelah puas melambai-lambaikan tangan, ia berbalik. Mukanya langsung pucat melihat pintu yang tertutup. Artinya, kami nggak bisa masuk, karena pintu cuma bisa dibuka dari dalam. Kecuali kalau ada kunci. Ia merogoh kantungnya. Tentu saja, barang berharga yang dicarinya nggak ada. Ia menoleh. Saya mengangkat alis.
“Heb je wel sleutels bij jou?” Ia bertanya apa saya bawa kunci.
Saya cuma membelalakkan mata dan ‘melempar bola’, “Bij Niels misschien?”
“Nee. Niels nggak bawa kunci rumah ke bawah. Dia cuma bawa kunci pintu gedung. Kuncinya ada di atas meja,” jawabnya panik. “Dan kita juga nggak bisa minta tolong petugas gedung. Soal beginian cuma bisa diurus pas hari kerja. En het is weekend.”
Wajahnya memerah. Tanda-tanda alam bahwa ia panik beneran. Ia lalu melongok ke jendela dapur. Melongok ke jendela kamar saya. Seolah mengharapkan ide McGyver datang. Saya lihat Niels membuka pintu balkon, dari lift. Saya tak sanggup lagi. Cekikikan mengerikan saya mulai menampakkan diri.
Erik menoleh tak percaya.
Niels memandang kebingungan.
“Wat is er?” tanya Niels.
“FEBAAAA. YOU, MEAN GIRL!!!” nada suara Erik meninggi.
Sembari ngakak dan memamerkan kunci rumah, saya berlari menjauh. Saya tahu benar apa yang akan mereka lakukan untuk membalas saya. Hal yang paling saya benci: dikelitikkin.
Sampai sekarang, Tragedi Kunci Rumah itu masih jadi aksi terbaik saya. Bahkan beberapa belas menit kemudian, ketika kami sudah kembali hangat di ruang duduk, menyesap teh masing-masing, Erik bilang, “Weet je, je bent gemeen! Masih deg-degan, nih.” Hahaha.. Yes, my friend.. indeed, I AM mean!
*****
Dan malam ini, si Gadis Kejam kembali beraksi.
Pukul setengah satu. Tengah malam. Saya baru selesai mandi (hihihi... lagi ketagihan mandi tengah malam, nih). Si kembar masih sibuk di depan komputer: main game. Di kamar, pandangan saya tiba-tiba menumbuk salah satu benda yang harus-dibawa-karena-paksaan-Ibu: masker wajah. (Salah satu benda serupa lain adalah bumbu-ikan-racikan-Mbah yang langsung ‘diimpor’ dari Purwokerto dan sukses membuat saya dianggap pintar masak. Haha..) 
Si triinggg tiba-tiba muncul lagi. Saya pakai masker itu. Cekikikan sendiri selama beberapa menit. Mematikan lampu kamar. Menyalakan lampu meja yang remang-remang. Menyiapkan pose terbaik. Lalu berteriak: “SOMEBODY HELP MEEEEE!!!”
Saya mendengar gedubrak-gedubruk di ruang kerja. Langkah-langkah kaki tergesa. Pintu kamar saya dibuka paksa. “Feba, wat is er? Kenapa?” tanya mereka hampir berbarengan. “FEBA?” Saya diam saja. Menunduk. Membelakangi mereka. Rambut panjang saya terurai tak karuan. (Sayang, jubah saya merah jambu. Coba kalau putih. Pasti lebih ciamik.). “Feba?” Erik memegang bahu saya, lalu memutar tubuh saya. “HUAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” Saya pasang wajah seseram mungkin. Beraksi seolah hendak mencekik. Mereka terhenyak. Erik melepas tangannya cepat. Niels mundur selangkah. SAYA LANGSUNG NGAKAK.
“FEBAAAA!!!!!! NOT AGAAIIINNNN, YOU MEANY!!!!”
Saya ingat, mereka tak suka hantu Asia. Apalagi Indonesia. Minggu lalu, saya pernah memperkenalkan beberapa pada mereka, lewat situs-situs hantu Indonesia yang bertebaran di jagat maya. Dan waktu itu, mereka bergidik ngeri memandang Sundel Bolong: perempuan berambut panjang dan berwajah putih. Dua ciri-ciri yang malam ini saya perlihatkan.
Jadi, silakan bayangkan sendiri betapa kagetnya mereka menemukan makhluk semacam itu di sini, di rumah mereka sendiri! Jangan lupa, bayangkan juga betapa bahagianya saya melihat reaksi mereka yang sungguhlah amat dahsyat. Walau setelahnya, saya harus teriak “Ampun.. Ampun” gara-gara dikelitikkin.
Nah, skor Cruquius-Land sampai saat ini: 3-0. Saya masih di atas angin. Laporan selesai. Cihuuuyyyyy.

 
PS: Saya ingin berbagi kebahagiaan dengan Anda, jadi silakan nikmati wajah berbalut masker yang tak seberapa ini. Hahahaha... |
cerita gadisbintang @ 2:13:00 AM   |
|
|
|
| Friday, January 25, 2008 |
| Di Sela Sebuah Percakapan Telepon |
“Aku kangen kamu.” “Aku nggak ngerti. Apa yang sebenarnya kamu kangenin? Sosokku, keber-ada-anku, atau hari-hari yang pernah kita lewati bersama?” Ah, sejak kapan ia jadi begitu analitis? “Aku kangen kamu. Apa pun artinya itu.” Hening. |
cerita gadisbintang @ 4:32:00 AM   |
|
|
|
| Wednesday, January 23, 2008 |
| Re(s/v)olusi 2008 |
Jadi begini ceritanya. Saya masih dikejar-kejar tugas kuliah. Sudah dua jam saya nongkrong di depan layar kaca. Google sudah dibuka. Wikipedia masih setia. Tinggal saya yang mirip ayam keselek gundu. Melotot. Monyong. Bingung. Buruk rupa. 
Untunglah, di tengah kebimbangan yang amat sangat ini, saya teringat PR yang diberikan Tante Rahma. Hihihi… (oh, iya.. jadi ingat, saya juga belon ngerjain PR yang dikasih dua teman Blogger yang sama centilnya, Muthe dan Nanien, padahal mereka sudah melimpahkannya lebih dari dua puluh ribu tahun cahaya yang lalu. Maaphkanlah. Saya memang bodoh. Dan malas. Silakan hukum saya. Ayoo, pukul saja).
Jadi, ketimbang membuang-buang waktu di depan komputer dengan otak kosong melompong, mari kita susun saja resolusi 2008. Ehm, walo telat (banget), masih boleh kan, bikin resolusi? Atau, anggap aja ini resolusi saya buat ulang tahun yang akan segera tiba. Tuh, nggak telat kan, malah jadi prematur, deh. Hehehe… Ehm, resolusinya harus delapan ya? Nggak, kan? Soalnya saya nggak pintar bikin rencana. Dan sering tak bertarget. Yah, begitulah. Yang penting bahagia.
Dan teman-teman tersayang yang kena giliran tertimpuk PR ini adalaaaahhh (music, please..): Nanien (apa lagi resolusimu selain memberatkan suara, wahai penyiar RTC?), Muthe (apakah 2008 akan berubah menjadi tahun Mari Mencari Jodoh Bersama?), Mas Fatah (memacari salah satu Siti Nurhaliza, mungkin?), Gita (masih memanaskan cokelat?), Iwied (tetap menyimpan kenangan dengan rapi?), Nurul (turunlah sebentar dari langit!), Mbak Andini (haloo, Mbaak. Menghilang ke mana?), Ratna (penantianmu, apa kabarkah?). Sip! Delapan korban sudah terpilih. Mari mulaaaaiiii..
(Dan saya baru sadar, membuat rencana itu ternyata sulit. Aduh, bagaimana ini, apa yang saya inginkan untuk tahun ini, ya?!) 
2008 - Kuliah
Yayayaya… ini yang utama. Saya harus bisa menaklukkan dosen-dosen Leiden yang TAHU BANGET caranya bikin mahasiswa tersiksa. Saya harus lulus tepat waktu. Saya harus membuktikan kalau anak Indonesia nggak bego-bego amat. Doakan saya. Merdekaaa!!! (Duh, berarti saya harus buru-buru nyelesein paper, nih. Ah, payah!)  - Backpacking!
Nah, sebenarnya ini alasan saya mengambil kesempatan beasiswa di negeri antah-berantah yang jauh dari indahnya Margonda ini. Traveling. Backpacking. (Hmm, baiklah, mungkin motivasi agak kurang tepat ini yang bikin saya berjam-jam melototin komputer tanpa berhasil menyelesaikan satu paper pun). Bodohnya, sampai sekarang saya belum sempat ke mana-mana! Sungguh. Rencana traveling musim dingin ini hancur lebur begitu melihat deretan tugas yang harus diselesaikan. Namun, saya tak mau tahu. Saya harus menelusuri benua kecil ini. Mungkin kalau sampai akhir kuliah saya nggak sempet ke mana-mana, saya bakal memperpanjang izin tinggal. Atau apply visa turis. Demi ber-backpacking dari Volendam sampai ke Athena (dan semoga tabungan saya cukup untuk membiayainya). Hehehe… - Menulis
Saya ingin menulis. Benar-benar menulis. Serius menulis. Menulis yang serius. Saya ingin mulai BENAR-BENAR menulis fiksi. Yang manis. Yang menyentuh. Yang ‘dalam’. Ah, sulit.  - Deadline
Deadline pekerjaan saya sebenarnya cuma satu: terjemahan. Tuhan, tolong saya! Jangan biarkan saya diamuk Mas Yudi dan kroni-kroninya. Hihihi.. masalahnya, deadline terjemahan ini sudah tertinggal jauh, November 2007. Dan sampai sekarang, MASIH BELUM SELESAI. Ammmpuunnn! Pokoknya, tahun ini HARUS selesai. Hmm, Desember nggak apa-apa, kan, Mas Yudi? *kaburr* - Menemukan diri sendiri
Masih omong kosong yang itu-itu juga. Isu yang sama. Pencarian yang tidak (atau belum?) selesai-selesai. Semoga saja. Amin. - Living life to the fullest
Be happy. Go lucky. Hidup dengan hasrat serba-mengalami yang sangat tinggi. Hidup cuma sekali. Nikmati. Sepuasnya. Dan berbahagia. Itu saja. 
Ya, itu saja. |
cerita gadisbintang @ 6:05:00 PM   |
|
|
|
| Wednesday, January 16, 2008 |
| Kata Bapak |
“Tak perlu khawatir, Sayang. Biarkan saja menggelinding, Ikuti saja. Hidup adalah apa yang ada di hadapanmu. Dan tak perlu mereka-reka apa pun sekarang. Nanti, Sayang. Nanti. Bersabarlah, dan akan kau temukan jawabannya.”
Itu yang dikatakan ayah saya hari ini, ketika kami mengobrol lewat telepon.
Ah, Bapak... |
cerita gadisbintang @ 6:06:00 PM   |
|
|
|
| Wednesday, January 9, 2008 |
| I Wish |
I wish I were old and wise, and understood life.
But I unfortunately were NOT, I am young and stupid, and confused.
Believe me, I'm great at being stupid.. *laughingatlife* |
cerita gadisbintang @ 1:45:00 PM   |
|
|
|
| Sunday, January 6, 2008 |
| Mari, Duduklah di Sebelah Saya |
Mari... Mari sini, Duduk di sebelah saya. Mengayun-ayunkan kaki di kursi yang terlalu tinggi. Mengobrol saja tanpa arah, tanpa perlu berhenti. Saya lagi liburan, nih. Liburan yang sama sekali nggak terasa kayak liburan. Boro-boro jalan-jalan dan menikmati hidup, masih ada dua paper, satu presentasi, dan satu ujian akhir yang harus dihadapi dua minggu lagi. Huh, pusing sih, nggak. Cuma malas aja. Hehehe… Dan tiba-tiba ini sudah tanggal enam. Huh. Hehehe… Belum lagi terjemahan yang NGGAK SELESAI-SELESAI. Duh..duh..duh, Pak Andy, Pak Aip, Mas Yudi, Mbak Lin: MOHON MAAP LAHIR-BATIN yaa.. Sumpah deh, saya cinta mati sama Dastan, masalahnya cuma satu: waktu. Hiks. 
Mari… Mari sini, Duduk di sebelah saya. Menikmati matahari. Menjemur diri. Di balkon lantai tujuh Cruquiuslaan. Bercerita saja tanpa arah, tanpa perlu berhenti. Saya sudah cerita kan, kalau sejak sebulan lalu saya pindahan? Sekarang saya tinggal di Cruquiuslaan. Saya suka memelesetkannya jadi Cruquius-land. Dan mereka sepakat bahwa “Cruquius-land is een land waar (bijna) alles mag en niets moet.” A land where (almost) everything may and nothing must, begitu kira-kira terjemahannya.  Mereka yang saya maksud adalah si kembar Erik dan Niels. Ya, saya tinggal bersama dua lelaki. Mungkin terdengar membahayakan. Dan riskan. Namun, tenanglah, saya lebih berbahaya ketimbang kedua lelaki itu. Saya sudah mengenal mereka lumayan lama. Sekitar tahun 2001. Ceritanya, mereka dulu sahabat pena saya (hihihi.. didikan Bobo banget, ya?). Setelah kurang lebih empat tahun bertukar e-mail-e-mail panjang (sumpah, panjang-panjang banget), foto-foto ciamik, kartu-kartu mengejutkan, dan hadiah ulang tahun yang selalu menyenangkan, kami bertemu pada musim panas 2004. Waktu itu, kebetulan saya dapet ‘gratisan’ summer course di sini. Singkat cerita, ketika beberapa bulan yang lalu kembali menginjakkan kaki di negara kecil ini, saya panik karena nggak kebagian kamar. Jadilah beberapa bulan pertama saya ngemper di sana-sini: nebeng di kamar Mima, tidur di dapur, atau bertumpuk mesum di ranjang sempitnya Julinta. (Dan, awas! Jangan komentar “Kasihan!” yang bernada prihatin begitu. Walau terdengar malang, saya menikmati episode ini, kok! Seru. Adventurous. Hehehe…).  Bulan November, Niels menelepon saya. Mengabari kalau mereka berniat pindah ke flat baru. “Ada tiga kamar tidur di sana, kamu bisa pakai satu,” begitu katanya. Saya akhirnya setuju. Bulan berikutnya, kami pindahan. 
Dan di sinilah saya. Hangat di antara si kembar tersayang. Tinggal bersama mereka sangat menyenangkan: bercangkir-cangkir teh dan bertoples-toples chips selalu tersedia untuk menemani DVD-night atau sekadar bermalam panjang, mengobrol sampai jam lima pagi. Feels like home. Oh, scratch that, feels like a princess with two bodyguards! Hahaha… And the best part is, mereka tetap Erik dan Niels yang saya kenal lewat e-mail-e-mail panjang. Tetap si kembar baik hati yang saya temui pertama kali, tiga setengah tahun yang lalu di Leiden Centraal Station.
Mari, Mari sini… Duduk di sebelah saya. Menikmati dingin yang berhembus. Mengamati laju kereta di kejauhan. Berkisah saja tanpa arah, tanpa perlu berhenti. Hampir tak ada yang tahu kalau sekarang saya nggak punya pacar lagi. Rasanya agak aneh kembali single setelah tiga tahun double. Hehehe… Saya sudah sangat terbiasa dengan kehadiran sang (mantan) pacar: lelaki manis-walau-tak-romantis yang sangat baik hati itu. Dan jangan tanya kenapa. Kalau Anda masih kekeuh juga nanya kenapa, saya cuma bisa bilang, “Nggak apa-apa.” Kalau Anda tanya masalahnya apa, saya hanya bisa menggeleng dan bilang, “Nggak ada masalah apa-apa.” Lalu kenapa putus? Mungkin memang waktunya putus. Terdengar sangat fatalis? Hehehe… Nggak juga. Saya sangat menyayanginya. Sampai sekarang. Dan saya tahu, ia juga masih peduli pada saya. Kami masih berteman (sangat) baik: saling menelepon, bertukar cerita, tertawa. Mungkin suatu hari nanti, setapak kami akan bersinggungan lagi. Mungkin juga tidak. Ah, kami sudah terlalu lelah membicarakan nanti.
Mari, Mari sini… Duduk di sebelah saya. Dongeng ini belum selesai. Namun saya akan menyudahinya di sini. Nah, sekarang giliran Anda. Ayo, berceritalah.  |
cerita gadisbintang @ 10:39:00 PM   |
|
|
|
| Tuesday, January 1, 2008 |
| New Year's Eve in Cruquius-Land |
Selamat Tahun Baru!!! Apa yang Anda lakukan malam tahun baru kemarin? Saya diam-diam saja di rumah. Mungkin terdengar membosankan. Tapi nyatanya menyenangkan, kok. Semboyan kami: keep it sweet and simple. Mengobrol. Makan. Nonton. Memandang ke luar jendela. Menanti kembang api yang makin lama makin ramai. 
Jam nol-nol kurang sepuluh kami beranjak ke balkon. Berniat mengabadikan kembang api amatir Leiden saat pergantian tahun. Dingin. Namun indah. Sangat indah. Kembang api-nya, tentu saja. Masak cuacanya, yang benar saja?! Ini salah satu hasil rekaman pemandangan tahun baru dari balkon Cruquius-Land. Kalau kurang memuaskan, yah.. mohon maap lahir-batin. Namanya juga amatir. Kalau videonya bergetar, tandanya yang megang kedinginan. Hehehe... Video ini Erik yang merekam. Terdengar potongan bahasa Indonesia cadel yang lucu. Hehehe... Kedua teman kembar saya ini pandai berbahasa Indonesia, lohh.
Oh iya, yang Anda liat ini belum seberapa. Baru 'pembukaan' doang. Main course-nya (baca: pesta kembang api yang sebenarnya) nggak sempat kami abadikan. Sudah keburu speechless ngeliat warna-warninya. Takjub. Hehehe...
Video yang lain, bisa dilihat di sini. SELAMAT TAHUN BARU, yaa.. Semoga.. semoga.. semoga.. Amien!!!
|
cerita gadisbintang @ 11:11:00 PM   |
|
|
|
Menanti Bintang Jatuh
|
|
|