..Malam Berbintang..










Kerlip Sapa
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Kerlap-Kerlip
Semesta Lain
Serpihan Diri
Sunday, April 27, 2008
Arrgghhh.. Iiihhh..
Arrgghhhhh!!!!

Kenapa sih, SEMUA ORANG di buku-buku sialan ini bilang kalo Indonesia merdeka tahun 1949??? Itu juga di bawah istilah soevereiniteitsoverdracht, alias penyerahan kekuasaan.
Ih, benci, deh! Begini nih, kalo nulis sejarah dari sudut pandang Eropa (baca: penjajah).
*kesel sendiri di tengah deadline tesis*

Tapi, tapi... di mana-mana, penulisan sejarah emang nggak pernah objektif, ya? Pasti bertujuan membangun nasionalisme dan membentuk pencitraan superior dari negara yang bersangkutan.

(Dan untuk menutup jumpa kita kali ini, sebagai seorang nasionalis, saya mau teriak kenceng-kenceng: TAON 49 DARI HONGKOOONGGGGG!!!?? Satu lagi: PENYERAHAN KEKUASAAN NENEK MOYANG LOOOO????)
cerita gadisbintang @ 12:21:00 PM   6 comments
Friday, April 25, 2008
Bahasa Prancis Yang Putih

Tenggelam di antara buku-buku teori dan sejarah, saya tiba-tiba terpikir, mungkin semua konsep ideal masa kini memang terbentuk dari sejarah:


  • Kulit Putih nan Menggiurkan

Mungkin konsep ideal ini lahir dari pembagian ‘kasta’ pada zaman kolonial. Dulu, masyarakat terbagi menjadi tiga kelas: Eropa, Bangsa Campuran (Indo-Eropa, Cina, dkk), dan Pribumi.

Nah, mungkin (dari) dulu (sampai sekarang) kulit putih jadi idaman karena semakin cerah kulit seseorang pada masa kolonial, semakin tinggi status sosialnya di masyarakat.

Pada masa itu, kulit putih merepresentasikan kenyamanan dan keamanan sosial. Konsep inilah yang — sekali lagi, mungkin — diwariskan turun temurun sampai sekarang.


  • Frenchmen yang never talk in English. Ohh, nooo! *ChinchaLawrah-mode: on*

Hahaha.. orang Prancis memang kadang nyebelin kalo udah nyangkut yang satu ini. Mereka lebih memilih menggelengkan kepala masa bodo dan membiarkan Anda nyasar di keramaian Paris ketimbang ngeluarin sepatah kata dalam bahasa Inggris yang artinya: BELOK KANAN, BUKAN KIRI. *curcol abis*

Mungkin juga mereka ogah pake bahasa Inggris, karena duluuu... dari abad pertengahan (kalo nggak salah, kalau salah, berarti sejak menjelang Renaissance, awal abad 16-an) sampai awal abad 19, bahasa Prancis adalah bahasa yang paling berjaya di seantero Eropa selain bahasa Latin. Bahasa mereka dipakai di kalangan pemerintahan dan di kancah pergaulan ‘menengah ke atas’.

Kayaknya, kebanggaan ini yang masih melekat dalam diri orang-orang Prancis. Mungkin dalam hati, mereka bilang: “Bo, sori aja ya sini disuruh ngomong Englis. Cuih. Sini kan keturunan bangsawan. En yu now, para bangsawan tajir nenek moyang ikke pakenya bahasa Prancis..ciss..ciss. Ih, Englis? Nggak lepel. Itu kan bahasa kaum jelata!”


Nah, setelah membagi pemikiran (tidak bertanggung jawab dan hampir tanpa dasar) ini, izinkan sayaa.. *pakai suara bass, Rhoma Irama-mode: on* melanjutkan membenamkan diri dan terlelap di antara tumpukan buku sialan itu.

Doakan saya!

Setubuuhhh???

cerita gadisbintang @ 1:23:00 AM   4 comments
Thursday, April 24, 2008
To Whom It May Concern

Yth.

Pengelola Gedung Cruqland

di tempat


Dengan Hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : bukan Sukema, apalagi Sulemana

TTL : bukan di Belanda, apalagi Suriname

ingin melayangkan protes yang tidak terbang-terbang (mungkin karena jenis benang gelasan yang dipakai murahan) sehubungan dengan keamanan di Cruqland 144 yang semakin hari semakin menipis.


Beberapa hari yang lalu, kejahatan salah eja terjadi, menyusul insiden Sukema yang datang lewat kotak pos. Hari ini tindak kriminal selanjutnya terjadi: pengambilan foto diam-diam. Saya, sebagai juru bicara Cruqland 144 yang terdiri dari Feba dari SDN Cipayung 07 Petang, Niels dari Gentiaan basisschool (terjemahan: sekolah dasar gantian — ini nama sekolah beneran, teman saya ini memang kurang mampu, sekolah aja harus gantian), dan Erik dari Tweekeeraan basisschool (persi Indonesia-nyah: sekolah dasar tukeran — dia memang suka bolos, menukar sekolah dengan kegiatan main game), berkesimpulan bahwa para papparazzi mulai berkeliaran di Cruqland 144.


Sebagai barang bukti otentik, saya melampirkan foto berikut ini:



Barang bukti ini ditemukan tercecer di antara jajaran foto lainnya. Dengan tegas saya menerangkan bahwa foto ini diambil tanpa seizin si empunya muka. Dan oleh sebab itu, penjajahan di atas muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan Cruqland tidak akan tinggal diam sampai pelakunya tertangkap.


Dengan ini, kami menghimbau agar Anda, sebagai pengelola gedung, memperketat pengawasan, demi terciptanya Cruqland yang penuh KEMENYAN DANSA (Keamanan, Kenyamanan Dan Kemesraan Bersama).

Atas perhatian Anda, saya ucapkan terima kasih.



Hormat Saya,


-bukan Sukema, bukan Sulemana-

cerita gadisbintang @ 4:52:00 PM   2 comments
Hujan (dan) Celana Dalam

Dasar negara aneh, ganti cuaca kok lebih sering dari saya ganti celana dalem!


Bayangin aja, kemarin pagi cuaca cerah ceria cenderung hangat. Jadilah saya keluar rumah dengan jaket denim kebangsaan yang tebelnya sama kayak kertas A4 80 gram. Siangan dikit, dengan harap-harap cemas saya mengintip langit kelabu dari balik perpustakaan (maksudnya, perpustakaan makanan alias kantin Lipsius. Hehehe..). Gerimis mengundang. Sorean dikit, matahari berkunjung lagi. Lega. Tragisnya, baru aja nemplok di atas sepeda, berniat melaju ke lokasi permodelan, hujan deras menyambar. Pakai petir segala. Monyong! Sampai di ARS, penampakan saya udah kayak tikus kebayakan pake gel: basah kuyup. Malamnya, ketika akhirnya kembali menjejakkan kaki di lantai tujuh Cruqland, pakaian telah kering di badan, tertiup angin sotoy-sotoy (baca: lebih kenceng dari sepoi-sepoi) sepanjang jalan.


Tadi pagi, sebagai model proporsional dan propesional (maksudnya: selama dibayar proporsional, saya akan propesional. Hehehe…), saya kembali melaju ke ARS. Cuaca mendung dan trauma dingin membuat saya memilih memakai slaapzak yang kehangatan dan ketebalannya membuat saya terlihat seperti saingan Ade Rai. Dua jam kemudian, setelah menyelesaikan tugas di ARS dan melaju ke arah KITLV, matahari sibuk senyum-senyum. Orang-orang ramai berjemur. Tinggal saya yang keliatan kayak orang gunung habis hibernasi. Dan sekarang, ketika sudah duduk damai dan kenyang di rumah, langit kembali mendung. Masyaollo!


Duh..duh.. anehnya. Bukan apa-apa, saya mah nggak peduli soal saltum ato ditontonin orang gara-gara gaya busana anomali, saya cuman kasian ama badan saya: kedinginan-kepanasan-kedinginan-kepanasan. Soalnya, menurut pelajaran IPA yang saya dapat berbelas-belas tahun lalu, perubahan cuaca terus-menerus nggak bagus. Rel kereta api aja bisa rusak, apalagi badan saya. Bisa-bisa keropos sebelum waktunya.

*teringat kayu yang dimakan rayap*


Mungkin saya harus lempar celana dalem ke atap kali ya, biar cuaca cerah ceria kayak lagunya Pina Vanduwinata [sic!].

*mulai milih celana dalem yang mau dilempar, semoga sampai ke sasaran yang tepat*

cerita gadisbintang @ 4:45:00 PM   2 comments
Monday, April 21, 2008
Dari Seorang Pemimpi Kepada Sahabatnya Yang Juga Pemimpi

Teman,

Aku baru selesai mandi.

Kamu tahu nggak, tadi di kamar mandi, ketika berdiam diri di bawah kucuran air, tiba-tiba aku teringat kisah Alkemis.


Lalu terpikir,

Mengapa ya, kita selalu didukung untuk jadi pemimpi?

Maksudku, film, novel, sampai buku-buku self-help, semua mendukung kita untuk membangun mimpi.


Padahal, pernahkah kamu menyadari, Teman: manusia tanpa mimpi menjalani hidup dengan lebih merdeka. Dan lebih sederhana.

Karena kita, para pemimpi, selalu terikat dengan impian kita. Dan terbelenggu oleh keinginan untuk menjadikannya nyata.


Ah, malangnya.

cerita gadisbintang @ 2:14:00 PM   4 comments
Sunday, April 20, 2008
Aduhhhh!!!
Tolong saya.





..saya jatuh cinta,
dan rasanya sakit sekali.
cerita gadisbintang @ 5:06:00 PM   6 comments
Saturday, April 19, 2008
K = LE

**Setelah kasus Sukema beberapa beberapa minggu lalu, kejahatan salah-eja kembali terjadi di Cruqland**


Langsung saja, karena si tersangka menolak melakukan rekonstruksi untuk memperkuat tuduhan, saya terpaksa mencari bukti secara mandiri (bukan BCA atau BNI).


Coba Anda perhatikan barang bukti di bawah ini dengan cermat:

(Jangan lupa pakai sarung tangan, agar sidik jari Anda tak tertinggal di sana.)



Tuh, lihat kan, si tersangka memang memiliki tulisan tangan buruk rupa. Itu kesimpulan pertama.


Sekarang, tolong alihkan mata Anda dari tulisan Gadis Aneh di atas (catatan: saya sama sekali TIDAK aneh. Saya manis. Dan narsis. Jelas?). Berkonsentrasilah pada kata yang saya lingkari. Apa yang terbaca? Quick? Okay, kalau English Anda oh, so cool macam saudari Chincha Lawra, Anda pasti bilang kalau tulisan itu berbunyi Quick. Namun, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lebih mencintai bahasa daerah ketimbang bahasa Inggris? Bagaimana dengan keponakan, sepupu, atau anak tetangga yang baru belajar membaca dan belum kenal lingua franca dunia? Ya, tepat sekali. Mereka pasti bilang kalau tulisan ini terbaca sebagai Quicle. Kesimpulan kedua: si tersangka cenderung menulis huruf K seperti huruf L dan E yang disambung.


Tolong dicatat, sebelumnya saya sama sekali nggak peduli apakah huruf K si tersangka mirip LE atau mirip IC atau bahkan mirip Tukul. Sayangnya, si tersangka melakukan sebuah kesalahan fatal: menuliskan nama saya di daftar peserta untuk sebuah ajang publik bergengsi.


Dan tak perlu menebak susah-susah, Anda pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi: nama indah saya kembali bermasalah. Alih-alih Feba Sukmana, nama saya tercetak sebagai Feba Sulemana. Dan tentu saja, semua itu adalah kesalahan si tersangka, yang sampai sekarang masih mengaku not guilty dan berusaha mengajukan banding ke pengadilan tinggi Cruqland.


*Sulemana yang tercetak di newsletter resmi — maaf, kualitas foto terbatas*


Arrrggghhhhh, sebaaaallll!!!!

Coba, bayangkan, jika Anda jadi saya. Hukuman apa yang kira-kira pantas dihadiahkan pada si tersangka??

*menghasut-mode: on*

cerita gadisbintang @ 8:29:00 PM   3 comments
Interpretasi Wajah di Kelas Potret

Ketika seorang teman bertanya apakah saya mau menjadi model lukis potret di sebuah sanggar seni dekat kampus, saya langsung mengangguk. Bahkan sebelum bertanya berapa bayarannya.


Alasannya sederhana: saya selalu mencintai lukisan. Mungkin karena ayah saya juga melukis. Saya rindu wangi cat minyaknya. Dan obrolan kami ketika ia sedang melukis di teras belakang.


Selain itu, menurut saya, melukis objek adalah membangun interpretasi. Seorang pelukis tidak pernah benar-benar melukis objek di depannya. Ia membangun interpretasinya akan objek tersebut, lalu menuangkannya dalam goresan warna.

Dan saya penasaran bagaimana wajah saya akan diinterpretasikan.


Jadi hari ini, datanglah saya ke ARS. Walau harus mengorbankan tradisi bangun siang. Menjadi objek lukis potret.


Tak lama, saya dipersilakan masuk ke ruang kursus di lantai dua. Sebuah atelier besar yang membuat senyum saya mengembang. Lantai kayunya. Cipratan cat di mana-mana. Kertas dan kanvas, serta material lukis yang berantakan. Rak yang dipenuhi buku panduan melukis dan kuas-kuas berbagai ukuran. Saya merasa pulang ke rumah.


Dan di sanalah saya. Duduk tenang. Tak bergerak selama para peserta kursus sibuk menangkap wajah saya dengan pandangan menerka-nerka, mencari sudut terbaik. Suara goresan conté di atas kertas. Ceceran cat air yang kadang salah kombinasi. Sungutan kesal ketika salah menarik garis. Pertanyaan kecil tentang membentuk bayangan. Semua saya nikmati. Tanpa terusik.


Saya merasa kembali ke rumah. Di sebelah ayah saya yang melukis dengan hening.

Dan sembilan puluh menit — yang dibagi ke dalam dua sesi —berlalu begitu saja. Bersama kenangan yang saya ajak bersenang-senang di kursi objek.


*****


Catatan Panjang:

* Sayang, hari ini baterai kamera saya mendadak harus di-charge. Saya jadi tak bisa membuat foto. Sesi selanjutnya, deh, ya..


** Setelah kurang lebih sembilan puluh menit diam mematung, bergerak rasanya jadi indaaahh sekali. Mungkin itu juga yang perlu kita lakukan dengan hidup: sembilan puluh menit berdiam diri. Hanya mengamati. Mengenang. Menikmati ketidakbergerakan. Lalu kembali melaju. Melanjutkan perjalanan.



*** Ketika sesi berakhir, beberapa orang menghadiahkan hasil lukisannya kepada saya. Satu langsung saya boyong. Sisanya masih basah. Dan masih tergantung di atelier itu sampai sesi selanjutnya. Sungguh, kado yang sangat indah di Sabtu pagi yang tergesa.


**** Updated: foto-foto bisa diintip di sini dan di sini.

cerita gadisbintang @ 4:20:00 PM   0 comments
Friday, April 18, 2008
Home Alone(ly)

Hari ini saya benar-benar sendirian di rumah.

Pagi — ralat, siang — tadi ketika saya baru bangun, si kembar sudah nggak ada di rumah. Jumat pagi — ralat, siang — memang jadwal mereka latihan Tai Chi. Saya lalu ke kampus. Kuliah. Dan nongkrong. (Lamaan nongkrongnya ketimbang kuliah.) Sore saya sampai rumah, si kembar sudah raib lagi. Pasti bekerja. Hari Jumat biasanya mereka pulang (hampir tengah) malam.


Dan sendirian di rumah membuat saya cenderung ingin bergerak. Menyibukkan diri. Menyalakan lampu terang-terang. Menonton TV sembari menulis e-mail. Menyetel musik keras-keras (walau menurut sebagian manusia sesat, selera musik saya penting untuk dikritik).


Dan ketika mulai kelaparan, saya beranjak ke dapur. Harus masak sendiri.


Mungkin begini rasanya tidak menikah dan tinggal sendiri, pikir saya sembari menyayat bawang bombay tipis-tipis. Tak ada yang menyambut saya pulang dengan sapaan konyol, “Halo, Putri Bintang yang Aneh Jelita.” Tak akan ada yang bertanya apakah hari saya baik-baik saja. Tak ada yang mau mendengar betapa saya harus menghindari perpustakaan karena ‘lelaki itu’ ada di sana. Atau mengaku takut ke jurusan karena khawatir bertemu salah satu dosen. Atau mengeluh tak penting soal tesis yang belum juga saya kerjakan (makanya saya takut ke jurusan). Atau merengek minta diajak ke flat ‘itu’ (walau jawabannya selalu tidak.). Atau rebutan nonton film. Atau berantem gara-gara debat kusir. Tak ada yang bisa saya teriaki ketika saya tak bisa menjemur pakaian sendiri gara-gara tali jemurannya ketinggian. Tak akan ada wajah cemberut ketika tersadar bahwa ia baru saja ketiduran di sofa (untuk kesekian juta kalinya). Tak akan ada yang komentar bahwa makan malam yang sedang disantap “Benar-benar amat-sangat enak sekali” (padahal, sumpah mampus, nggak ada rasanya). Tak akan ada tatapan khawatir ketika tiba-tiba melihat saya terisak cengeng.


Ah, saya hanya terlalu dimanja di sini.


Namun, sendirian di rumah hari ini membuat saya benar-benar mengerti mengapa seorang perempuan separuh baya yang memutuskan untuk tidak menikah, seorang perempuan yang sudah saya anggap teman sekaligus ibu, selalu menyalakan radio-nya dua puluh empat jam sehari. Saya jadi mengerti mengapa ia membiarkan radio itu terus menyala ketika ia meninggalkan rumah.


Kesepian.

Itu masalahnya.


Tapi setidaknya, kalau saya tidak menikah dan tinggal sendiri, cucian piring saya tak akan sebanyak ini, pikir saya lagi, sembari memandang dapur yang mirip kapal pecah.

cerita gadisbintang @ 10:16:00 PM   3 comments
Wednesday, April 16, 2008
Bocah Kecil di Kereta Seberang

Minggu siang, 13 April 2008.

Intercity. Stoptrein.

Leiden-Utrecht.

Kami duduk bertiga. Menuju Hogezand, rumah Oma Lammers yang hari ini ulangtahun. Saya kebosanan. Buku acuan sejarah Indische Nederlanders yang harus saya baca demi tesis tak lagi bisa diolah otak mungil saya. Di depan saya, Niels asyik membaca novel Lulu Wang. Sedangkan Erik sibuk dengan kameranya.


Saya lalu memandang ke luar jendela. Sebuah kereta menjajari kami. Dan saya menemukannya: sepotong wajah mungil nan polos, dengan tatapan mata yang sangat menggemaskan. Seorang bocah laki-laki berumur lima-enam tahunan duduk di sana. Di sebelah ibunya yang tertidur pulas. Pandangan kami bertemu. Dan saya langsung jatuh cinta pada jernih matanya.


Tanpa sadar, saya melambaikan tangan. Tersenyum. Dan ia membalasnya. Dengan gerak impulsif penuh semangat. Saya tertawa. Ia juga.


Kereta saya melaju lebih cepat dari keretanya. Saya kehilangan wajah manis itu. Tak lama, kereta saya melambat. Mendekati stasiun Woerden. Lalu berhenti. Agak gelisah, saya menanti kereta si bocah. Dan ketika melihat keretanya datang dari kejauhan, mata saya sibuk mencari-cari.


Kami bertemu lagi.

Ia kembali melambai. Saya membalasnya. Matanya masih sejernih sebelumnya. Dan senyumnya makin melebar.


Keretanya tidak berhenti. Sebelum kehilangan wajahnya lagi, saya menggigit bibir. Menyelipkan doa di sela lambaian tangan. Semoga ia selalu bahagia. Seakan mengerti, ia mengangguk. Lalu menempelkan wajah dan tangannya ke jendela. Berusaha tetap memandang saya, sampai kereta membawanya raib. Tak terlihat lagi.


Saya hampir menangis.

Andai hidup sesederhana melambaikan tangan pada bocah kecil di kereta seberang.



** Foto benar-benar diambil ketika saya sedang melambaikan tangan padanya. Thanks to Erik, yang diam-diam mengabadikan momen ini. Ia tak tahu betapa berartinya snap-shot ini bagi saya.

cerita gadisbintang @ 4:44:00 PM   4 comments
Wednesday, April 9, 2008
Notenschieten: Sebuah Peninggalan Dari Groningen Yang Bisa Dimanfaatkan Untuk Membangun Image Calon Potensial Ketua Karang Taruna

Tujuhbelasan memang masih lama. Tapi kalau Anda tergabung dalam Karang Taruna setempat dan bernafsu =P~ — ehm, maksud saya, berambisi — jadi Ketua periode mendatang, mungkin permainan ini bisa Anda perkenalkan pada warga RT/RW setempat. Sebagai alat kampanye, gitu. Dan, tenang, jangan bingung jangan limbung, saya akan memberitahu Anda serba-serbi Notenschieten, plus the do’s and the don’ts yang wajib diketahui sebelum Anda mempresentasikan (calon) pertandingan teranyar ini di depan Dewan Karang Taruna tempat Anda bernaung. B-) Siaap? Yuukk, aahh..


Dalam bahasa Belanda, permainan ini bernama Notenschieten. Sedangkan dalam bahasa Groningen: neutenschaiten. Secara etimologis, notenschieten artinya menembak kacang. Nah, sebelum Anda (iya, maksud saya Anda, yang malah baca-baca blog sambil cengar-cengir pada jam kerja! X() lanjut ngelonjor =P~ — ngelamun jorok, red — saya peringatkan bahwa Anda bebas mengganti namanya sesuka hati. Demi menghindari tersebarnya efek ngelonjor pada Hari Kemerdekaan kita. Apa? Butuh ide? Yah, Anda bisa menggantinya dengan nama “Tembak Karet” (dengan catatan, ganti kacang jadi biji karet). Atau “Bowling Miring” (Anda akan mengerti jika telah membaca tulisan ini sampai habis — atau menonton pideo [sic!] yang dengan niatan suci saya aplod [sic!] di sini).


Baiklah, mari kita mulai!

Permainan yang dulu diselenggarakan di Groningen dan sekitarnya pada hari kedua Paskah ini sebenarnya sederhana. Anda cukup menjajarkan tiga puluh kacang di satu garis lurus. Jarak resmi antarkacang sebenarnya sepuluh sentimeter. Tapi Anda bisa berimprovisasi, kok. Asal jarak satu sama lain sama. Dan nggak kejauhan atau kedekatan. Kalo kata lagu dangdut taon 90-an: yang syedang-syedang syajaaaa..lalalala.. :D/

*biduanita-mode: on*


Nah, buatlah tiga baris jajaran kacang. Masing-masing barisan akan menjadi arena terpisah. Lalu kira-kira dua meter dari kacang terdekat, buatlah garis lemparan. Siapkan juga bola pelempar yang ideal. Tidak terlalu berat. Tidak terlalu besar. Tapi juga tidak ringan dan tidak kecil. Mengulang hits dangdut taon 90-an: yang syedang-syedang syajaaaa..lalalala.. :-

*biduanita-mode: on*



Setelah arena Anda siapkan, kumpulkanlah warga RT atau RW Anda. Terutama anak-anak kecil tengil berkacamata tebal yang kerjanya cuma main Playstation. :-B Tampar satu-satu (iseng aja, tanpa motif khusus), lalu bagilah mereka dalam tiga regu. Ketiga regu akan mulai melempar kacang pada waktu bersamaan di masing-masing arena. Ingat, satu orang cuma mendapat satu kali. Tidak lebih. Tidak kurang.


Setelah semua melempar, geserlah regu ke arena selanjutnya. Maksudnyah, kalo ada regu A, B, C di arena I, II, III. Dan semua regu sudah selesai melempar di arena masing-masing, geserlah regu A ke arena II, regu B ke arena III, dan regu C ke arena I. Agak merepotkan, memang. Tapi, ingat, semakin repot Anda terlihat, semakin baik image Anda di kalangan calon pemilih potensial. Artinya, semakin besar kesempatan Anda terpilih jadi Ketua Karang Taruna periode selanjutnya.


(Oh, apa Anda perlu penyanyi dangdut untuk kampanye? Saya bisa. :x Tak perlu dibayar. Cukup berikan saya tiket return Amsterdam-Jakarta-Amsterdam. Dan saya akan sepenuh hati menyanyikan satu hits 90-an: yang syedang-syedang syajaaaa..lalalala.. :-)

*biduanita-mode: on*


Lanjut!

Putarlah ketiga regu itu sampai masing-masing mencicipi semua arena. Dalam satu ronde, setiap peserta berkesempatan melempar tiga kali. Satu kali di setiap arena. Mengerti? (Kalau tak mengerti, artinya Anda tak butuh penyanyi dangdut, tapi guru les bahasa Indonesia). [-) Terserah, Anda mau bikin satu pertandingan jadi berapa ronde. Kalau tiga ronde, berarti setiap orang akan melempar sembilan kali, dalam tiga putaran arena. Kalau empat, berarti dua belas kali dalam empat putaran. Tapi, ingat, jangan terlalu banyak. Kembalilah pada semboyan yang berasal dari hits dangdut 90-an: yang syedang-syedang syajaaaa..lalalala.. :-

*biduanita-mode: on*

(Iyaaa, saya berhenti. Saya tahu, sudah tidak lucu lagi). :(


Eit, kalau Anda pikir permainan ini mudah, Anda salah. Ketimbang berpikir permainan ini gampangan, lebih baik Anda ngelonjor aja, deh. Lebih gampang. Dan lebih nikmat. =P~ *ups* Aturannya adalah:

  1. Dari batas lemparan, Anda harus berusaha menghancurkan (baca: menyingkirkan) jajaran kacang dari barisannya.
  2. Yang HARUS disingkirkan adalah kacang TERJAUH DI UJUNG SANA. Tak masyalah jika Anda hanya menyingkirkan satu — atau dua — kacang terjauh, SELAMA kacang di ujung terlempar keluar jalur. Anda akan mendapat skor sebanyak kacang yang Anda singkirkan. :-SS
  1. Jika Anda berhasil menyingkirkan banyak kacang, NAMUN kacang di ujung sana tetap tak bergeming, maka Anda akan menerima nilai minus. Misalnya, Anda berhasil menyingkirkan DUA PULUH SEMBILAN kacang yang bagai semut-semut merah berbaris di dinding, menatapku curigaaa.. *Obbie Messakh-mode: on* tapi SATU kacang terakhir teteup kekeuh-semekeuh di tempatnya, maka Anda akan menerima skor MINUS dua puluh sembilan. Ya, permainan ini memang kejam, Jendral! #:-S
  1. Jika Anda lemah-letih-lesu-loyo-kurang darah dan mengidap gejala anemia lain yang menyebabkan Anda tak mampu menyentuh jajaran kacang tersebut, maka Anda akan terkena ‘denda’ MINUS SEPULUH. (Dan, maaf, Anda tak bisa menyogok di sini. Mungkin lebih baik Anda menerobos lampu merah saja, kalau Anda punya niatan semacam itu). Ingat, darah itu merah, Jendral! (Ini sebenernya mau tujuhbelasan apa mau PKI-an sih?).


Nah, jelas?

Sekarang, saya akan memberikan tips-tips tak ternilai untuk Anda. Coba bayangkan, bagaimana masa depan Anda jika Anda berhasil memenangkan lomba ini, plus berhasil terpilih sebagai Ketua Karang Taruna karena kehebatan melempar kacang? Benar sekali, Teman. Masa depan gemilang menanti Anda! B-)


THE DO’S ;)

  1. Berdoalah sebelum melakukan apa pun. [-O
  2. Seriuslah mengikuti permainan ini.
  3. Ketika giliran Anda tiba, ambil waktu untuk menarik napas. Tenaaanggg. Tak perlu terburu-buru (kecuali jika Anda sedang kebelet. Pipis di celana lebih memalukan ketimbang kalah main notenschieten, bukan?).
  4. Ukur sana-ukur sini (dan bukan senggol sana-senggol sini. Emang situ WARKOP? 8-}). Ukur dengan hati-hati sudut tembakan. Perkirakan hasil terbaik yang bisa diraih dari sudut-sudut tertentu.
  5. Yakinlah bahwa, walau permainan ini kejam, Anda akan berhasil jadi pemenang. Ingat, kepercayaan diri adalah yang utama. MERDEKA!
  6. Lempar dengan konsentrasi tinggi. Kepercayaan diri yang tak kalah tinggi, dan gaya meyakinkan yang aduhai. ;;)
  7. Jangan lupa pancarkan wajah bahagia jika Anda berhasil melempar dengan baik. Tambahkan juga kata “Yesss!!” yang walaupun baunya sudah sangat tempo doeloe, namun cocok-cocok saja diucapkan oleh pemenang. (*)
  8. Demi meningkatkan citra positif, bantulah panitia yang sibuk menghitung jumlah skor dan mengembalikan kacang-kacang pada posisi siap semula, agar pemain selanjutnya bisa cepat mendapat giliran. Coba bayangkan, sudah pintar melempar kacang, baik budi pula. Selain jadi calon Ketua Karang Taruna ideal, Anda juga akan dipandang sebagai calon menantu ideal. :x
  9. Tersenyum manislah dan katakan “hai” jika ada pers yang memotret atau membuat pideo [sic!] permainan Anda. Kedipan mata akan meningkatkan kualitas keramahan Anda.
  10. Seperti kata Aa Gym, jagalah (kerendahan) hati Anda. Biar keren gitu. Merendahkan diri untuk menaikkan mutu. :P


Demi memperjelas bayangan Anda tentang pemain notenschieten yang ideal, model berikut akan mempraktekkan teori-teori saya:


video


THE DON’TS [-X

  1. JANGAN memakai kaus kaki belang-belang yang menarik perhatian jika Anda belum pernah bermain notenschieten. L-)
  2. JANGAN MENGANGGAP REMEH dan berpikir, “Yaelah, ini mah lebih gampang dari maen gundu!” karena, Teman, kenyataan kadang menyakitkan! :((
  3. Jangan tergoda untuk mengambil kacang-kacang itu, lalu membukanya dengan ‘penggigit kacang’ dan memakannya. =P~ Malu, ih. Ketauan banget dari Negara Dunia Ketiga: bawaannya celamitan.
  4. Jangan ngetawain orang-orang yang gagal melempar sambil ngedumel, “Duh, bego banget siihhh, gampang begitu kok, meleset? Matanya dipake nggak, siihh?” karena niscaya, ketika giliran Anda tiba, orang-orang akan balas memandang tajam. :-S
  5. Jangan mengobral senyum nggak penting sebelum Anda membuktikan kemahiran melempar kacang. :D
  6. Ketika bola di tangan, jangan berpikir bahwa Anda PASTI bisa mengenai si kacang. Berkonsentrasilah, jangan sibuk cari pemandangan ‘bening’. Ingat, misi jadi Ketua Karang Taruna jauh lebih penting. Ketika Anda telah menjabat, banyak lelaki atau perempuan yang otomatis akan mendekat.
  7. Jangan melempar dengan asal-asalan. YANG SERIUS DONG, AH. :-L
  8. Pertahankan wajah netral. :| Jangan pasang wajah penuh harap ketika bola sedang meluncur. Apalagi menyembah langit sambil berdoa. [-O ^:)^ Jangan biarkan juga cairan-cairan terlarang keluar. =P~ Airmata, ingus, dan iler HARAM HUKUMNYA!
  9. JANGAN HISTERIS, apalagi tertawa seperti hyena, jika Anda gagal mengenai sasaran.
  10. Ketika lemparan Anda gagal, jangan meloncat-loncat atau bertingkah seperti orang yang terkena serangan ayan. Hal itu akan membuat Anda terlihat bodoh. Yang tak kalah penting: JANGAN MEMAKI ketika gagal. #-o Selain terlihat lebih bodoh, Anda akan dianggap tidak bisa menerima kekalahan. Sebaiknya, pertahankan senyum simpul (walau simpulnya kusut dan sulit diurai). :-j YANG PENTING ADALAH MENJAGA IMAGE. Demi suksesnya misi menjadi Ketua Karang Taruna. SEMANGAT!



Dan karena saya memang baik hati lahir-batin ;;), saya akan membiarkan oknum yang satu ini untuk mejeng dan mendefinisikan kata loser dengan ketepatan tingkat tinggi. Tak cukup satu? Saya beri DUA. *kayak iklan Yakult*



video
Jangan loncat-loncat kayak tupai


video
Jangan kejang-kejang di tempat umum


Tarik napas panjang dan istighfar-lah jika Anda kalah. :- Apa? Sulit menahan emosi? Berlarilah ke lapangan sebelah. Tenda dangdutan pasti telah tersedia. Lalu biarkanlah diri Anda melepas emosi dengan bergoyang. Beri kesempatan juga pada jempol-jempol Anda untuk berolah-raga. :D/


Yuk, tariiikkkk!

....Ah..ah..ahh.. malu aku maluuuu. Pada semut meraaaahhh.. yang berbaris di dinding, menatapku curigaaaa. Seakan penuh tanya, sedang apa di siniiii? Mencari pacar, jawabkuuuuuu...


*Iyaa, lagu ini emang bukan dangdut. Kalo mau lagu dangdut beneran, beri saya tiket bolak-balik, maka saya akan konser di depan Anda. LANGSUNG. LAIF (baca: live gitu maksudnyah) hehehe.. teteepp*


**Pideo-pideo lain yang lebih memalukan masih saya simpan sebagai barang bukti. Jika Anda tertarik mendalami aturan permainan ini, hubungi saya. Pideo yang berisi tuntunan permainan juga ada. Namun, jangan hubungi saya jika Anda fans berat Miyabi. [-X Sumpah, deh, saya nggak punya yang begituan. Hehehe..

cerita gadisbintang @ 4:54:00 PM   4 comments
Tuesday, April 8, 2008
One-Year Extended Stay

Seorang teman sekelas, Jacklyn, memberitahu saya hal ini beberapa bulan yang lalu. Minggu lalu, berita yang sama di-posting di milis PPI Leiden. Lalu hari ini, duduklah saya bersama Jacklyn di kantin Lipsius. Ditemani cappuccino 55 sen yang rasanya jauh di bawah Indocafe tercinta.


Dus?”

Saya menggeleng, “Kwennie.”

“Jadi kamu akan memperpanjang izin tinggal atau tidak?”

“Saya belum tahu, Jacklyn. Banyak yang harus dipikirkan.”

What? We can stay here a year longer. So, why not?”

Tentu saja ia antusias. Perempuan asal Cina ini sangat membenci negara asalnya.


“Di sini, saya belum punya bayangan mau bekerja apa. Dan apa pun yang saya lakukan di sini, saya — kita — akan tetap jadi warganegara kelas dua. Orang asing. Si kulit cokelat. Ingat, Jacklyn, dunia masih ‘berwarna’.”


Owh, come on. Berhentilah memikirkan Edward Said dan teorinya sebentar saja. Make that orientalism out of your head for just a second, Feba.”


Saya meringis.

Saya tidak memikirkan Edward Said — belum, tesis saya belum sampai situ, masih mentok di Pendahuluan — saya cuma menyodorkan realitas. Dengan sistem dan pola pikir Eropa-sentris yang saya temui di sini, ‘ilmu seribu tiga’ (baca: murahan) yang saya punya, cuaca suram dan angin kencang yang saya benci, plus lapangan kerja minim, bekerja — atau berkarier, jika Anda lebih suka menyebutnya begitu — di sini bukanlah pilihan yang menurut saya ideal.


(Dan.. oh, tahukah Jacklyn bahwa perempuan di Belanda menempati urutan terbawah dalam hal karier di Eropa? Bahwa cuma sekian-sedikit persen perempuan Belanda yang bekerja? (Maaf, nggak sempat mengingat detailnya). Hal yang menunjukkan bahwa, di balik segala gegap gempita feminisme dan emansipasi, di balik citra ‘setara’ dan ‘bebas’ yang menempel erat pada negara bercuaca buruk ini, lapangan kerja belum terlalu membuka diri pada perempuan.)


Dan siapalah saya di sini?

Perempuan Asia yang — sedihnya, tapi saya terpaksa harus menyebut kata — ‘cuma’ berijazah ilmu budaya. Dengan bahasa Belanda penuh kesalahan gramatikal dan kekurangan kosakata. Apa yang bisa saya lakukan di sini?


“Tapi toh sama saja,” cecar Jacklyn lagi. “Di negara asalmu — di negara asal kita — tak ada yang memikirkan kita. Lalu apa bedanya dengan di sini? Jadi warganegara kelas dua. Mungkin tak punya karier cemerlang. Toh, kita bisa liburan tiap enam bulan, atau satu tahun sekali. At least, you would have a life here. Back there in China, I didn’t have one. Overwork. Underpaid. Semua selalu berputar di masalah kantor.”


Saya menarik napas lagi. “Jacklyn, di negara asal saya, saya tidak perlu diperhatikan. Saya tidak perlu dipikirkan. Karena saya ada di rumah. Dan ketika kamu berada di rumah, kamu akan selalu punya waktu, kemampuan, dan cinta untuk memikirkan orang lain. And sorry to say, I did have a life back there.


You sound too nationalistic for me. But, maybe you’re right.”

Ia terdiam sejenak.

But, hey.. you had a life. Dulu. Maybe when you come back there, your old life no longer exists. What if your old life seems so perfect because it only lives in your memory? How does it sound?”


Strike one. Ia benar-benar tahu hal yang tepat untuk dikatakan.

(Pada titik ini, saya teringat puisi Kopland yang baru saja saya kirim ke Tasha.)

Creepy,” jawab saya singkat.


So, you’re gonna stay, right? You don’t have enough reason to comeback anyway. And you can find more reasons to stay here. After all, if you work here — any kind of job — the salary would be way higher than in your country. We use Euro here, remember? It’s good for the money.”


Ah, Jacklyn.

Berhentilah bertanya.

Dan biarkan saya berpikir sejenak.

cerita gadisbintang @ 11:43:00 PM   6 comments
Friday, April 4, 2008
Suatu Hari Nanti

Dan duduklah ia di sana.

Di bangku tua itu. Dikelilingi ingatan akan kesunyian.


Ia tahu.

Suatu hari nanti, mereka akan duduk berdua. Di sana.

Di bangku tua itu. Dikelilingi kesunyian yang memekakkan telinga.

Lalu ia akan bersuara. Berceloteh. Apa saja. Agar kesunyian tak lagi menempati ruang.

Dan lelaki itu akan menanggapinya. Tersenyum. Lalu balas bercerita. Apa saja. Ia tak peduli.


Ia mungkin tak akan mengerti kata-katanya. Ia mungkin sama sekali tidak tertarik dengan kisah lelaki itu. Namun ia akan tetap menanggapi. Tersenyum. Atau sekadar mengangguk dan menggeleng di saat yang tepat. Apa saja. Agar ia tetap bisa menikmati bola mata indah yang mengerjap manis itu.


Dan kesunyian akan kembali datang menjerat.

Kesunyian yang mengintimidasi.

Kemudian ia akan bertanya. Hati-hati. Dan lelaki itu hanya akan mengedikkan bahu. Atau menggeleng. Atau menyuarakan entah.


Ia akan menggigit bibir. Menahan napas. Lalu sekali lagi bertanya. Menawar probabilitas.

Dan lelaki itu akan menjawabnya dengan kerutan alis. Hembusan napas. Atau sepotong kata mungkin.


Ia tahu.

Suatu hari nanti, mereka akan duduk di sana.

Berdua.

Percakapan akan terhenti.

Dan kisah mereka akan berakhir.

Di bangku tua itu.

Dikelilingi kesunyian yang memilukan.

cerita gadisbintang @ 7:58:00 AM   4 comments
Tuesday, April 1, 2008
Nyonya Sukema

Beberapa hari yang lalu, datang sebuah paket ke Cruqland.

Alamatnya sih, bener banget.

Cuma ada yang aneh, paket ini dialamatkan ke sebuah nama yang tidak eksis di Cruqland.



(Setelah dipandang-pandang, akhirnya kami setuju bahwa paket itu untuk saya. Saya juga udah ngerasa, sih. Selain namanya ‘berbau’ Feba Sukmana, saya memang sedang menunggu paket: beberapa hari sebelumnya saya baru saja bertransaksi lewat Markplaats, membeli roman untuk bahan tesis. Tapi, mbok ya yang bener gitu loh! Jelas-jelas saya sudah ngasih nama dan alamat sebenar-benarnya! Duuhh, payaahh!)


Febe Sukema? Yuk, mariii...

cerita gadisbintang @ 1:07:00 AM   2 comments



Menanti Bintang Jatuh









Kerlip Lalu
Kerlip Inspirasi
Kerlip Makna
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan

deras dinginmu
sembilu hujanmu

-Tajam Hujanmu-
SDD
Kerling Mata
Web Counter
Get a Web Counter

Serbuk Bintang

http://edittag.blogspot.com
BLOGGER
Free Blogger Templates
Free Shoutbox Technology Pioneer