..Malam Berbintang..










Kerlip Sapa
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Kerlap-Kerlip
Semesta Lain
Serpihan Diri
Wednesday, May 14, 2008
Mr. P

Teman Cina saya, Jacklyn, memang pintar-pintar bodoh.

Kemarin, bodohnya yang merajalela ke permukaan.


Saya sedang asyik mojok di kantin Lipsy dengan artikel hybridity-nya Korsten dan sebotol Aquarius yang rasanya mirip Pocari Sweat ketika ia tiba-tiba muncul.

Mukanya bersemangat. Ia menyapa dari jarak lima meter, lalu menghampiri saya.


“Heyy, Feba.. ‘K heb iets voor jou,” belum lagi duduk, ia sudah antusias memberitahu bahwa ia punya sesuatu untuk saya.

“Apa?”

“Ituuuu.. yang waktu itu kamu tanya ke saya. P*n*s!!”

Watte?


Saya tersentak mendengar Jacklyn menyebut alat kelamin laki-laki dengan ketukan 4/4 bernada dasar Y (= yakin). Jantung saya berdegup keras. Apa iya, saya pernah nanya sama Jacklyn soal benda milik kaum lelaki itu? Masak, sih?


“Iyaaa.. yang waktu itu kamu tanya pas kita lagi kuliah TCI di Eyckhof! P*N*S!!! Masak lupa, sih?”

Suara Jacklyn makin keras.

Beberapa orang menengok dan menatap aneh.

Saya makin menganga.


Aaahh, kayaknya saya nggak pernah ngomongin yang bokep-bokep begitu sama Jacklyn. Lagian juga, buat apa dia ngasih-ngasih saya p*n*s? Kapan saya minta dikadoin d*ld*? Gawat ini!


“Jacklyn, rustig! Even zitten! EN NIET TE HARD PRATEN.” Saya menenangkannya, menyuruhnya duduk, dan membungkam mulutnya.

“Maksud kamu apa, sih? Sejak kapan kita ngomongin p*n*s? Kapan saya nanya soal p*n*s ke kamu?”


My Goodness, vergeet je het al? Kamu beneran udah lupa? Itu loh, waktu itu kamu liat ada cewek pake p*n*s, kamu bilang p*n*s-nya mooi, trus kamu tanya ke saya, belinya di mana. Nah, kebetulan kemarin saya lihat di HEMA. Sekalian aja saya beliin buat kamu. Murah, kok.”

Jacklyn nyerocos sambil merogoh tas-nya, berusaha mencari benda yang ia maksud.


Saya deg-degan. Dan merasa amnesia. Sejak kapan ada perempuan memakai p*n*s berkeliaran di kampus? Sebebas-bebasnya Belandaa yaa.. tetep aja belon ada orang mengobral p*n*s di muka umum.


“Nih,” dengan senyum lebar, Jacklyn menyodorkan benda yang disebutnya p*n*s.

GODALLEMACHTIG!! STOMME Jacklyn!” teriak saya. “Ini maksud kamu?”

“Iya, memang kamu pikir apa?” gantian, mukanya yang terlihat bingung.


Saya menarik napas panjang, mengambil stocking berbahan nilon yang disodorkannya, lalu berceramah panjang lebar. “Jacklyn, dit is geen p*n*s. Ini namanya PANTY'S! Bukan P*N*S! Ya Tuhaann, bedanya panty's ama p*n*s jauh, Jacklyn!”



Dan setelah saya jabarkan bedanya panty's dengan p*n*s, gantian Jacklyn yang membelalakan mata. Sembari memegang dada, ia berkata, “Lieve Hemel — Oh, my God!”


Nou, gelukkig zeg je nu ‘Lieve Hemel’ — untung sekarang kamu masih inget untuk bilang ‘Lieve Hemel’, saya pikir kamu mau bilang ‘Lieve Pi*mel’,” * goda saya.

Wajah Jacklyn makin memerah.



* Pi*mel: bahasa Belanda informal yang artinya p*n*s.

cerita gadisbintang @ 9:25:00 AM   11 comments
EBTANAS Jurusan Apa?

Siapa bilang cuma orangtua yang suka pusing ngadepin anak. Tingkah orangtua juga sering bikin pening.

Setidaknya, hal ini berlaku untuk orangtua saya.


Hari ini, bangun (terlalu) pagi gara-gara timbunan wekker si kembar menjerit-jerit, saya langsung sarapan dan menelepon ke rumah. Agak heran karena suara Ibu yang menyambut saya di seberang sana.

“Lah, Ibu nggak sekolah?”

(Pengulangan info: Ibu saya guru SD)

“Nggak. Cuman ngawas ujian sebentar. Udah pulang. Kan hari ini EBTANAS SD.”


Kami lalu mengobrol. Yang nyebelin, tiap kali Ibu bertanya sesuatu dan saya sedang berusaha memberikan jawaban memuaskan atas pertanyaannya, ia sudah memberi saya pertanyaan baru. Begini, nih, kira-kira:


“Sakit tenggorokan kamu udah sembuh, Kak?”

“Udah. Tapi sekarang malah agak pi...”

“Udah minum Vitamin C, kan? Minum susu juga?”

“Iya. Udah sembuh, kok. Kemaren cuman dua ha…”

“Eh, kamu tau nggak, si M temen kamu SMP itu mau nikah? Undangannya baru dateng, tuh.”

“Hah? M yang ibunya temen Ibu itu? Nikah ama sia..”

“Kamu kemaren jadi masak kangkung-nya? Katanya mau nelepon kalo masak, nanyain bumbu. Kok nggak nelepon-nelepon?”


Menghadapi Ibu yang ajaib, saya lama-lama jadi sesak napas.

“IBUUUUU.. SATU-SATU, DONG! MASAK NANYA SATU BELON DIJAWAB UDAH NANYA LAIN LAGI. IIHHHH.. GIMANA SIIHHH???”


Dan reaksi supercanggih Ibu yang dilontarkannya dengan kalem adalah:

“Ah, kamu. Baru gitu aja udah ngomel-ngomel. Anak SD aja tadi EBTANAS langsung dikasih 75 pertanyaan sekaligus, nggak protes.


*pening berkepanjangan*


Dari Ibu, telepon berpindah ke Bapak. Dan harapan saya untuk mendapatkan penyejukan rohani — setelah cobaan dari Ibu tadi — terpaksa hancur berantakan, karena Bapak Sukmana yang keren itu langsung melontarkan PERTANYAAN ABAD INI:

“Kak?”

“Apaan? Bapak kangen, ya?”

“Ih, orang mau nanya: kamu tuh di sana sebenernya KULIAH JURUSAN APA, sih? Bapak nggak tau!”


Saya naik pitam.


Duhh, Gustiii..

Dosa apa sayaa? Padahal selama ini saya merasa disayang dan diperhatikan loh, oleh orangtua saya. Namun mengapaaa.. oh, mengapa pertanyaan macam ini bisa muncuull?


Dan setelah tiga kali menarik napas panjang, saya langsung menjawab dalam keadaan darah tinggi hampir stroke:

“Jurusan Kampung Rambutan-Depok. Turun di KOBER, jalan ke kosan Rika trus nongkrong di WARNET ampe pagi.”


Anehnya, ayah saya seakan tidak terganggu dengan jawaban ini. Dengan suara bass-nya yang datar, ia cuma bilang, “Norak lo, serius juga nanyanya.”


*hampir berniat bunuh diri*



Ya, Tuhan..

Ampunilah dosa kedua orangtuaku dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku ketika aku masih kecil. Amien.

cerita gadisbintang @ 8:42:00 AM   8 comments
Monday, May 5, 2008
Nasib Percintaan Kami ;)


PS: Iyaa... saya tahu saya curang. Si Rika nggak tau kalo mau dipoto. Jadi nggak sempet pose dan mandi dulu. Padahal dia baru selesai pitnes. Tapi, saya emang sengaja sembunyi-sembunyi. Biar saya keliatan LEBIH CAEM gituh. Hehehe..
cerita gadisbintang @ 8:40:00 PM   0 comments



Menanti Bintang Jatuh









Kerlip Lalu
Kerlip Inspirasi
Kerlip Makna
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan

deras dinginmu
sembilu hujanmu

-Tajam Hujanmu-
SDD
Kerling Mata
Web Counter
Get a Web Counter

Serbuk Bintang

http://edittag.blogspot.com
BLOGGER
Free Blogger Templates
Free Shoutbox Technology Pioneer