|
Jadi ceritanya, tesis saya sudah selesai. Sudah di-approve dari minggu kemarin. Syukurlah. Idealnya sih, begitu di-approve, saya harus cepat-cepat menyusun versi definitifnya. Lalu mengatur jadwal sidang dengan ‘oknum-oknum’ terkait. (Iya, di sini, mau sidang aja harus ngurus semuanya sendiri, dari mulai ngehubungin Pembimbing dan Pembaca Kedua untuk menyesuaikan jadwal sidang, minta surat ke sekretaris jurusan buat Universitas, sampai ngehubungin sekretariat buat memesan ruangan. Ribet.)
Singkat cerita, untuk merayakan kemerdekaan diri dari tesis (ngomong-ngomong, di-approve-nya sehari setelah kemerdekaan Indonesia, loh. Gile, simbolis sekali ya! Hahaha..), saya langsung ‘berpesta-pora’ sampai lupa diri: jalan-jalan dan bersenang-senang.
Seperti biasa, Mr. Dutchie mengawasi dari kejauhan, sibuk mengingatkan saya untuk kembali ‘ke dunia nyata’. Seperti biasa juga, saya cuma iya-iya saja. Sampai kemarin, ketika menerima e-mail dari Pembaca Kedua yang bilang kalau ia sudah harus menerima versi definitif tesis saya hari ini. Seperti biasa lagi, saya panik dan langsung ngebut. Iya, klise. Kaset baru, lagu lama. Saya tahu.
Gobloknya, saya lupa kalau saya benci banget urusan teknis begini. Ngurusin hal-hal kecil dari mulai ngerapiin catatan kaki, membaca ulang untuk ngecek ejaan dan istilah satu persatu, sampai bikin Daftar Pustaka. Duh, maleess. Mana lagi (sok) nggak enak badan pula, gara-gara lima hari (!) berturut-turut ‘terbang’ ke sana-ke mari.
Kemarin, sejak menjelang siang saya sudah rusuh menyusun versi definitif. Sorenya, ketika ponsel berbunyi, Mr. Dutchie lagi-lagi meringankan beban: “Kamu susun aja yang rapi, yang teliti. Hal-hal teknisnya — dari catatan kaki sampai Daftar Isi — biar saya yang rapiin.” Oh..oh.. tawaran semacam ini mana bisa saya tolak. Alhasil, semalam saya kirim si versi setengah matang ke Mr. Dutchie. Pukul dua belas malam, versi ciamiknya sudah kembali ke pelukan saya. “Cek lagi, kali aja masih ada yang salah,” saran Mr. Dutchie. Dasar perfeksionis. Akhirnya saya turuti permintaannya. Dan ternyata… memang masih banyak yang salah! Saya kurang teliti menyusun referensi dan catatan kaki. Gawat ini. Terpaksa saya cek lagi satu per satu.
Di tengah pekerjaan cek dan ricek itu, entah apa yang terjadi, yang pasti lay-out manis yang sudah dikerjakan Mr. Dutchie tiba-tiba kembali berantakan. Dan sumpah mampus, sebut saya dodol, saya nggak bisa ngebenerinnya! Bukan apa-apa, si Mr. Dutchie itu suka kerajinan, sih. Ngapain coba segala pake Page Break, Table of Content, dan segala macem teknologi Word yang saya nggak paham!? Apa susahnya sih, enter-enter aja? Kan penampakannya juga samaaaa. *membeladiri-mode: on*
Saya lirik jam dinding, hiyaaa… hampir jam tiga pagi! Mana mungkin saya nelepon Mr. Dutchie cuma buat ngasih tau kalo saya udah ngerusakin mahakarya-nya? Akhirnya, saya SMS. Lalu terus mengecek apa yang bisa saya cek. Pagi-pagi, ponsel berbunyi: Mr. Dutchie. “Apanya lagi yang berantakan?” “Daftar Isi.” “Emang kamu apain?” “Nggak tahu.” Di seberang sana, ia menarik napas panjang. Lalu mengeluarkan frase favoritnya: “Yeah, women and technology!” Saya yang biasanya ngomel tiap kali ia mulai nyebelin begitu, kali ini cuma bisa merengut-rengut nggak jelas. “Okay, then, send me the newest version.” “Nooo.. you have to work, remember?” “Oke, kalau begitu. Coba kamu liat daftar isinya.” “Yes, Captain.” “Klik sampai teks-nya jadi abu-abu.” “Udah.” “Klik insert, reference, terus klik…” “Apaaaa??? PELAN-PELAN! Remember, I’m a blonde and a foreigner. Enak aja nyerocos pake bahasa Belanda!” “Okee... jadi...” Ia kembali mengulang instruksi. Tapi, seperti yang diperkirakan, yang terjadi malah dialog semacam ini: “Yaahhh, error. Ilang semuaaa.” *panik* “Kok bisa? Kamu nge-klik apa?” *nada nggak ngerti* “Menurut kamu apaaa?” *mulai emosi* “You followed my instructions, right?” *mulai nggak sabar* “Ya iyalaaah. Masak ya iya doongg. Kan belah duren, bukan bedong duren!” *frustasi* “Apaaa???” *emosi beneran gara2 disautin pake bahasa alien*
Dua puluh menit kemudian, setelah dua kali mengulang instruksi, berdebat layaknya suami-istri yang sudah tiga puluh tahun menikah, dan akhirnya gagal lagi, kami menyerah. “Udah, buruan kirim lagi!” *putus asa* “Iya, deh!” *tak kalah putus asa* Saya lalu meng-attach si file ke e-mail. “By the way,” potongnya. “What time did you go to bed last night?” “I haven’t slept.” “At all?” “Yes.” “No!” “Yes. Why do I have to lie?” *emosi lagi* “No. You don’t have to lie. YOU HAVE TO SLEEP.” Ah, jawaban khas Mr. Dutchie. “And you have to work!” “Where’s the file? Kamu tidur! Jam berapa kamu harus kumpulin tesis ini?” “As soon as possible.” “Dasar. Women and technology!”
Jadi, begitulah… Saya belum tidur. Deadline saya tinggal dua jam lagi. Sementara Mr. Dutchie sibuk membereskannya di kantor, apa lagi yang bisa saya lakukan selain blogging? Hahahahaha…. |