Sejak kemarin mood saya tiba-tiba berubah drastis. Entah mengapa. Tanpa alasan, saya merasa sangat sedih. Airmata tak bisa berhenti mengalir. Tadinya, hormon yang saya salahkan: stress, kelelahan, PMS, homesick, dan seribu alasan masuk akal lain yang masih bisa dijajarkan untuk menghalalkan airmata.
Menangislah saya.
Sesunggukan.
Sepanjang malam.
Pagi ini, mata saya bengkak, serupa mata Garfield.
Namun ternyata persediaan airmata saya belum kering.
Seharian, ia mengalir kembali.
Dan ketika tiga jam lalu layar ponsel saya menampilkan sebuah SMS dari Ibu, saya cuma bisa mematung. Terdiam. Semua terasa seperti mengambang. Hari ini, hal yang paling saya takutkan terjadi juga: ribuan kilometer jauh dari rumah, saya menerima berita kematian.
Aji Utomo, sepupu saya, meninggal dunia.
Salah satu sepupu kesayangan saya. Ia hanya setahun lebih tua dari Fajar, adik saya, dan saya menyayanginya sama seperti saya menyayangi Fajar. Saya rasa, ia juga sangat menyayangi saya. Ia memanggil saya ‘Kakak’, persis seperti Fajar memanggil saya. Padahal, sepupu-sepupu lain biasanya menyebut saya ‘Mbak’. Mungkin baginya, saya adalah kakak yang tak pernah dimilikinya. Sedangkan bagi saya, ia adalah adik kedua. Saya selalu merasa, saya juga bertanggung jawab atasnya, sama seperti saya bertanggung jawab atas Fajar.
Sejak semalam, saya menangis sesunggukan. Tanpa sebab. Tadinya, hormon yang saya salahkan: stress, kelelahan, PMS, homesick, dan seribu alasan masuk akal lain yang masih bisa dijajarkan untuk menghalalkan airmata. Tapi, mungkin, airmata saya mewakili semacam intuisi. Perasaan saya yang tiba-tiba tak karuan seolah jadi pertanda. Bahwa di belahan bumi bagian lain, sesuatu terjadi pada seseorang yang saya sayangi.
Mungkin.
Ah, sekali lagi saya kehilangan adik.
Innalillahi wa innailaihi rajiun.
|