..Malam Berbintang..










Kerlip Sapa
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Kerlap-Kerlip
Semesta Lain
Serpihan Diri
Monday, October 27, 2008
Just a Little Bit More of Happiness
Dan suatu hari pertanyaan itu sampai juga ke telinga Mr. Dutchie.

Give me a reason why we are so busy finding someone,” kata-kata itu meluncur begitu saja di sela brunch kami, di pojok Bagels & Beans yang selalu sibuk di Minggu pagi.


Mr. Dutchie baru saja selesai bercerita tentang rekan kerjanya. Kisah klise tentang perempuan yang masih mengharapkan sang kekasih, sementara si tumpuan harapan sudah sibuk dengan ‘orang baru’.


Mendengar pertanyaan saya, ia mengerutkan kening, “Maksud kamu?”

You know, I wonder why human beings are obsessed with this romance-thing. Love. Relationship. Can’t we just live life by ourselves? Are we so weak that we always need someone by our side?”

Woohoo, I never knew you’re a cynic.”

Because I’m not. And nothing’s personal, I sometimes just wonder. Rasanya, pencarian ini — romance, non-platonic relationship, whatever you may call it — adalah salah satu pencarian terbesar manusia dalam hidup. Salah satu pencarian paling memusingkan dan menguras energi. But why? All those attempts, what for?

Because the need to love and being loved is human nature.”


Diskusi kami kemudian jadi tak terkendali. Saya protes tentang betapa sederhananya jawaban Mr. Dutchie. Lalu bertanya-tanya seberapa besar akibat yang bisa ditimbulkan human nature yang satu ini: apakah kebutuhan mencintai dan dicintai adalah hal yang akhirnya membentuk konstruksi sosial tentang romance dan pernikahan? Semacam alasan dasar di balik konsep untuk melegitimasikan cinta? Atau justru sebaliknya, konstruksi sosial-lah yang melahirkan kebutuhan akan romance? Membuat kita merasa bahwa yang normal adalah ‘mencintai’ dan ‘dicintai’? Semacam akibat dari implantasi stempel ‘kelengkapan’ sebagai manusia?


Tidak cukup sampai di situ, diskusi kami makin melebar. Kami mulai menganalisis tentang bagaimana konsep cinta — romance lebih tepatnya — di-idealisasikan, diagung-agungkan. Overrated. Lalu dijual oleh industri. Pun pencitraan yang dibentuk media sama sekali tidak membantu. Cenderung menyesatkan, malah.

Ironis, bisik saya waktu itu, salah satu pencarian hakiki sebagai manusia dimanipulasi atas nama kapitalisme.


Okay.” saya kembali membuka mulut setelah piring saya tandas. “Sekarang, kembali ke pertanyaan awal. Let’s make it simpler, easier and more personal. Take you as an example. Can’t you just live your life alone, without any lovey-dovey thing whatsoever?”

Hey, I’ve been there and I was doing fine.”

So, why did you step out? You, a young man born and living in a free society. Nggak ada tekanan sosial, nggak ada konstruksi yang mengharuskan kamu punya steady relationship. So, why a relationship? Why add the complication? What are you looking for?

Rupanya, ia tak perlu berpikir lama. “Happiness. Just a little bit more of happiness, baby.”

Saya termangu. Sesederhana itukah?
A little bit more of happiness.
Saya belum puas. Pertanyaan saya belum sepenuhnya terjawab.

Namun untuk saat ini, I think I can live with that.

A little bit more of happiness. Ah...

So,” lanjut saya beberapa saat kemudian, “just a little bit, dear?”

Mata kami bertemu. Ia tersenyum. Mata cokelatnya berpendar. Manis.

Seketika, kami menyadari: a little bit is an understatement.
cerita gadisbintang @ 1:35:00 AM   5 comments
Sunday, October 5, 2008
Semua Yang Terjadi Setahun Terakhir Ini

Bayangkan, tiba-tiba setahun berlalu begitu saja.

Untungnya, ‘kewajiban’ yang harus saya tunaikan (halaahh, bahasanya) telah terselesaikan: bangku kuliah saya tinggalkan dengan resmi — alias lulus dengan baik dan benar.



Banyak yang nanya soal topik tesis saya. Ah, nggak susah, kok: soal ciri-ciri poskolonialisme yang muncul dalam karya sastra dan pencitraan perempuan. Intinya, saya cuma mendeskripsikan konsep poskolonialisme, lalu menyortir ciri-cirinya dalam karya sastra dan menerapkan analisisnya di tiga karya Lin Scholte — salah seorang penulis sastra Hindia-Belanda generasi kedua. Pencitraan perempuan juga saya angkat, karena dua hal mendasar (selain karena awalnya saya memang NGOTOT mau nulis soal perempuan): poskolonialisme punya benang merah yang jelas dengan konsep gender dan feminisme. Alasan kedua: penokohan para perempuan dalam karya-karya Scholte sangat kuat, dan walaupun ceritanya ber-setting di zaman kolonial, pencitraan yang dibentuk Scholte sangat poskolonial. Jadilah semuanya seperti potongan puzzle yang saling melengkapi.





Yang saya bangga, judul tesis saya keren, deh — Een postkoloniale analyse van het werk van Lin Scholte:de hybride wereld van de tangsi en de sterke Indonesische vrouwen. Haha.. padahal mah, untuk ukuran tesis, isinya sederhana banget. Oh, well... Yang penting gaya. Iya, nggak?! Hahaha..



Yang nyebelin, di sini nggak ada wisuda gede-gedean ala Balairung UI. Nggak ada paduan suara yang dikomandani Pak D-boy (iyaa, Pak Dibyo! Boleh dong, punya panggilan sayang buat beliau?!). Nggak ada rusuh-rusuh pake kebaya dan konde-an jam enam pagi. Nggak seru! Di sini, sidang dan wisuda diadakan per individu. Tanpa seremoni besar-besaran. Tanpa toga dan euforia bersama teman-teman seangkatan.





Sidang dan wisuda saya berlalu dengan sangat sederhana. Walau tetap menyenangkan. Saya boleh mengundang maksimal dua puluh orang — karena ruang wisuda yang saya dapat relatif kecil. Setengah jam awal dihabiskan untuk pembabatan intelektual (halaahh, najis abiss) alias sidang tesis. Menegangkan, tapi nggak susah, kok. Syukurlah. Kedua penguji saya baik hati sekali. Mereka cuma mempertanyakan hal-hal kecil — ehm, maksud saya, hal-hal hiperbolis — di tesis saya. Setengah jam berikutnya, para undangan boleh masuk ke ruangan. Profesor Praamstra — Pembimbing Akademis sekaligus Pembimbing Tesis saya yang baik hati — lalu memberikan semacam pidato pelepasan yang isinya kesan-pesan beliau tentang saya, baik secara akademis maupun pribadi. Dan sungguh, itu pidato terindah yang pernah saya dengar seumur hidup. Ia, dengan lugas, melabeli saya dengan predikat yang membuat saya tersanjung. Dengan sederhana ia membuat pipi saya merah dengan pujian dan memberikan saya kepercayaan dan keyakinan diri yang kadang saya butuhkan. Saya masih menyimpan video pidatonya. Saya yakin, akan ada saat-saat ketika saya perlu mendengarnya kembali. Hanya untuk menyakinkan diri bahwa saya nggak bego-bego amat. Ah, ya.. saya akhirnya harus mengakui, manusia selalu butuh pengakuan. (STOP. Hal ini kita bahas lain waktu.) Haha..





Oh iya, yang khas dari Universitas Leiden adalah tradisi membubuhkan tandatangan di Zweetkamertje bagi alumni. Jadi, aturan mainnya: setelah menyelesaikan studi di Universitas Leiden, Anda berhak membubuhkan tandatangan atau nama di dinding sebuah ruangan yang namanya Zweetkamertje (terjemahan etimologis: ruangan keringat). Dinding ruangan ini, tentu saja, dipenuhi tandatangan alumni Leiden yang berjubel dan tumpang tindih. Biasanya, alumni berlomba-lomba buat nulis nama sedekat mungkin dengan Beatrix dan beberapa anggota kerajaan lain yang juga alumni Leiden. (Curangnya, mentang-mentang keluarga kerajaan, tandatangan mereka dibingkai, Bo!). Saya mah, bodo amat. Nggak penting, ah, Beatrix, yang penting saya dapet tempat yang lumayan lega buat nulis nama Bapak saya: SUKMANA. Haha.. Akhirnya, saya milih tempat di atas pemanas ruangan. Dan berdoa, semoga ‘Feba Sukmana’ yang saya tulis di situ nggak ke mana-mana.



TTD-nya Beatrix

Mojok di dekat pemanas ruangan


Semoga bertahan lama



Selain kuliah, tesis dan kelulusan, tak banyak yang terjadi dalam setahun ini. Walaupun memang banyak yang berubah. (Nah, loh… pikir sendiri, deh! Haha..). Saya masih tinggal di Cruquiuslaan bareng si kembar yang kecanduan game dan tergila-gila dengan apa pun yang baunya Asia. Saya masih sesekali berkumpul dengan teman-teman sebangsa dan setanah air, juga dengan tiga teman seangkatan: Alma, si seksi Italiano, Jacklyn, si Cina yang membenci segala hal tentang negerinya, dan Sarah, perempuan berkebangsaan Inggris yang anehnya nggak angkuh (haha.. stereotipe). Well, Sarah sekarang pindah ke London, jadi tinggal Alma dan Jacklyn yang tersisa.



Kalau harus jujur, perubahan terbesar yang terjadi dalam hidup saya bisa dirangkum dalam satu kata: Mr.Dutchie.

Okay, next topic.

Hahaha…



Dari 365 hari yang telah saya lewati di negeri dingin berangin ini, sepuluh hari terakhir bulan September adalah yang terberat. Sepuluh hari itu adalah masa-masa paling kelam dalam sejarah hidup saya setahun terakhir. Kelelahan, kebingungan, kehilangan, dan kerinduan yang saya pendam tiba-tiba muncul ke permukaan. Semua tercampur dalam adonan yang sangat membahayakan: depresi. Saya lelah — lahir dan batin — saya tak tahu lagi apa yang akan saya lakukan dengan hidup saya setelah kuliah selesai. Rekonstruksi hidup besar-besaran yang saya lakukan belum sempurna betul untuk menjawab pertanyaan praktis macam: now what? Saya rindu keluarga saya, saya rindu panasnya Jakarta, macetnya jalan raya, supir dan kenek yang saling memaki. Homesickness saya menjadi-jadi. Ditambah lagi, sepupu tersayang saya meninggal, dan beberapa hari setelahnya ayah salah satu sahabat saya, Mima, juga ikut pergi. Berita duka dari ribuan kilometer itu masih harus ditambah isu pribadi yang tiba-tiba perlu diteliti. Saya sedih. Saya marah. Saya kesepian. Saya ingin pulang. Saya masih ingin tinggal. Lengkap dengan segala alasan dan keraguan. Walau terlihat normal dari luar dan masih bisa beraktivitas seperti biasa, saya jadi sangat emosional. Dan masa depresif ini akhirnya berhasil saya lewati, dengan bantuan Mr.Dutchie: pahlawan sekaligus korban dalam kisah sepuluh-hari-penuh-drama yang — sumpah, deh — sangat melelahkan jiwa dan raga.



Terakhir, saya jerawatan. Banyak banget.

Nggak ngerti kenapa dan gimana cara nyembuhinnya (karena seumur idup, saya nggak pernah punya jerawat sebanyak ini). Ada yang punya saran, nggak?



Nah..nah, leganya sudah memuntahkan isi kepala di posting panjang ini.

Misi dulu, ah.

Mau browsing obat jerawat.

Hahahaha..

cerita gadisbintang @ 10:17:00 PM   12 comments
Saturday, October 4, 2008
365 days — and still counting.. ;)

Setahun lalu, saya memiliki segalanya.

Setidaknya, saya memiliki segalanya yang saya butuhkan. Keluarga, teman-teman, pacar, pekerjaan. Hidup saya stabil: kunci ‘keamanan sosial’ ada di genggaman saya — saya datang dari keluarga yang memenuhi kriteria ‘ideal’. Saya tidak akan dituding tidak laku, karena saya punya pacar. Saya tidak akan dianggap asosial, karena saya selalu dikelilingi teman-teman baik. Tak akan ada yang menyebut saya parasit, karena saya punya pekerjaan, punya karier — kalau Anda lebih suka menyebutnya begitu.



Hidup saya nyaman: keluarga, pacar dan teman-teman menyayangi saya. Saya tidak terlalu peduli dengan fakta bahwa saya kadang masih harus berdesakkan di bus kota, atau berjaga-jaga agar tidak dirampok di angkot — bukan itu prioritas kenyamanan versi saya. Hidup saya nyaman, karena saya tahu bahwa dunia kecil saya menyenangkan dan penuh cinta.



Singkat kata, hidup saya sempurna.

Dan saya bahagia.

Saya memiliki semua yang dibutuhkan manusia dalam hidup: cinta, keamanan dan sedikit idealisme.


Dan saya memilih untuk meninggalkan semuanya. Setahun lalu.

Beasiswa ‘komplit lahir-batin’ yang ditawarkan Nuffic bukan alasan utama kepergian saya. Pencarian diri dan traveling. Itu dasarnya. Saya ingin keluar sejenak dari hidup sempurna saya. Mengambil jarak dari keseharian saya. Menganalisis segalanya dari jauh. Dan mencoba merekonstruksi konsep pribadi tentang ‘diri’ dan ‘hidup’.

Saya ingin bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi. Tempat di mana segalanya asing, tempat di mana saya harus kembali belajar untuk mengerti, untuk memahami: budaya, nilai, perspektif, sistem. Lalu merangkum semuanya, membandingkannya dengan konsep yang telah tertanam di kepala saya selama dua puluh tiga tahun.



Waktu itu, saya kadang merasa seolah saya adalah tokoh naif dan idealis — baca: BODOH BUKAN MAIN — dalam novel atau film picisan. Meninggalkan segalanya. Untuk alasan-alasan yang sangat abstrak. Sungguh tidak rasional.

Toh, saya pergi.

Saya masih ingat benar perpisahan penuh tangis di bandara Soekarno Hatta. Perjalanan 17 jam yang saya lewati sendiri. Dan Schiphol yang menyambut saya dengan suhu dua puluh derajat lebih rendah ketimbang Jakarta.



Setahun lalu, saya memiliki segalanya.

Dan seperti janji saya pada diri sendiri, perlahan saya mencoba menganalisis semuanya dari jauh. Satu per satu. Lalu melihat hidup sempurna saya perlahan runtuh. Seperti atom yang memisahkan diri dari kesatuan molekul yang mengikatnya.

Dengan teliti saya amati segalanya. Pola-pola teratur yang membentuk identitas saya selama ini, motif-motif yang terbentuk di alam bawah sadar, pilihan-pilihan yang sebenarnya sama sekali tidak random.

Beberapa hal tiba-tiba jadi terlihat jelas.


Dan sisanya, masih saya pertanyakan.



Setahun penuh. Dan pencarian saya belum juga usai.

Alasan-alasan sederhana yang saya miliki ketika memutuskan untuk pergi, kini berubah menjadi debat panjang yang makin rumit.

Mungkin mereka benar: be careful of what you wish for!

Namun saya sama sekali tidak menyesal.

365 days, and still counting, Baby…

cerita gadisbintang @ 8:15:00 PM   0 comments



Menanti Bintang Jatuh









Kerlip Lalu
Kerlip Inspirasi
Kerlip Makna
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan

deras dinginmu
sembilu hujanmu

-Tajam Hujanmu-
SDD
Kerling Mata
Web Counter
Get a Web Counter

Serbuk Bintang

http://edittag.blogspot.com
BLOGGER
Free Blogger Templates
Free Shoutbox Technology Pioneer